Sebuah Idealisme yang Tak Lekang oleh Waktu

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

In my dreams I always see you soar above the sky...
In my heart there always be a place for you...for all my life..
I’ll keep a part of you with me...And everywhere I am
There you’ll be.....
“There You’ll Be” by Faith Hill

Now I wanna talk about my dad. Udah lebih 2 tahun yang lalu saat beliau pergi meninggalkan kami semua. Kembali ke hadirat-Nya. Banyak yang terjadi selama dua tahun itu, tapi rasanya aku nggak ingin berhenti bersyukur. Allah memang Sang Maha Segalanya. Yah..kalo dipikir-pikir secara logika, aku sangat takut saat menemani bapak pada saat detik-detik menjelang kepergian beliau. Aku takut ga bisa survive. Namun Allah berkehendak lain. Memang seluruh kehidupan manusia ini terlah tertulis dalam Lauful Mahfudz, dan lewat tulisan agung ciptaan-Nya itulah takdir manusia bahkan mungkin seluruh makhluk di alam semesta ini digariskan. Tapi siapa yang menyangka bahwa apa yang tertulis pada Lauful Mahfudz adalah takdir yang terbaik dari semua yang terbaik yang diberikan Allah pada hamba-Nya??? Subahanallah
Well, setelah dua tahun lebih ini banyak peristiwa dan pengalaman yang menyadarkan aku, membuka mataku atas kebesaran-Nya, serta atas apa yang bapak wariskan padaku. Bapak nggak mewariskan harta duniawi yang melimpah padaku – yaa..kecuali beberapa barang yang sempet bapak beliin buatku, yang Insya Allah kagak mau aku pindah tangankan, kecuali ke anakku nantinya  – hanya saja aku merasa warisan bapak adalah warisan yang sangat berharga melebihi harta dunia yang hanya akan mampu dirasakan saat kita masih bernyawa.
Aku masih merasa bapak selalu ada di dekatku hingga saat ini, oke aku tahu kalo itu agak konyol, tapi bolehlah aku sedikit mencurahkan perasaan. Aku merasa seolah bapak belum meninggalkan kami semua, makanya kadang aku nggak pernah mau menambahkan kata “almarhum” ketika membicarakan bapak. Yah...anggap aja itu hanya ungkapan cinta seorang anak pada ayahnya  abisnya, bapak itu orangnya melas kalo ngomong ato berperilaku yang sentimentil hehe...sori dad....
Oke, kembali ke masalah warisan. Bapak bukan orang kaya yang banyak memberiku harta duniawi setelah beliau meninggal. Makanya ampe sekarang aku belum bisa nyetir mobil, soalnya biarpun bisa nyetir bapak kagak sempet punya mobil selama beliau hidup hehe.. Tapi meskipun demikian keaadannya aku masih punya harta yang jauh lebih berharga. Bapak mewariskanku Iman dan ketaatan pada-Nya. Bapak tergolong orang awam dalam masalah agama, bahkan beliau ga bisa baca huruf Arab, tapi semangatnya untuk mengbdi pada-Nya telah mengalir di setiap darahnya. Aku bahkan masih ingat nasehat beliau untuk menomor satukan agama Islam dan ibadah pada-Nya lebih dari apapun dan siapapun. Aku juga bersyukur menjadi darah daging beliau.
Satu lagi yang merupakan warisan bapak yang luar biasa. Bapak lahir dari keluarga yang pas-pasan kalo nggak dibilang miskin. Karena itu sejak kecil bapak sering “dititipkan” ama saudara-saudara mbah yang lain. Selain itu bapak adalah orang yang mandiri, makanya bapak bisa masak, mengurus rumah dan sebagainya. Ketika kecil bapak termasuk siswa yang cerdas, aku juga pernah melihat piagam penghargaan dari sekolah sebagai bintang kelas saat bapak SD hingga SMU. Subhanallah. Mungkin karena tergolong murid yang cerdas inilah bapak juga termasuk tipe orang yang idealis. Idealisme bapak membumbug setinggi langit, namun mungkin karena keadaan ya...saat ini idealisme itu belum terwujud. Aku bahkan sempat berpikir nakal, kalo bapak nggak idealis, mungkin di kantor bakalan sering dapet “proyek” hehehe... tapi bapak merasa lebih baik miskin tapi jujur, tapi tetap bermartabat di mata Allah, karena Insya Allah dengan kejujuran itu rizki yang kita dapat adalah rizki yang barokah.
Idealisme bapak pernah juga beliau ungkapkan padaku, pada adikku satu-satunya. Tampaknya pun, adikku ngerti benar keinginan idealis bapak itu. Entah kapan, yang jelas aku udah cukup gedhe waktu bapak bilang kalo bapak ingin anak-anaknya setelah menempuh dunia kerja bukan lagi menjadi pencari kerja, tapi bapak ingin anak-anaknya menciptakan lapangan kerja. Karena manfaat yang didapatkan bisa lebih berlipat, selain tentu saja materi, dengan menciptakan lapangan kerja artinya memberikan kesempatan orang lain untuk bekerja, mencari nafkah, dan menghidupi keluarga. Bayangkan! Secara nggak langsung, nasib dan kehidupan banyak orang ada di tangan kita, itu artinya amanah yang besar. Bila amanah itu bisa kita laksanakan, bayangkan aja sendiri pahala yang kita dapatkan kelak. Gimana pun juga Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui.
Idealisme bapak itulah yang jadi salah satu pegangan hidupku, bahkan telah jadi idealismeku juga. Aku ingin bermanfaat bagi banyak orang dengan cara yang luar biasa. Cara yang bapak ajarkan padaku. Dan kayanya aku bukan satu-satunya anak bapak yang berpikiran seperti itu. Adikku satu-satunya, meski saat ini masih sekolah bahkan pernah bilang baru-baru ini. Dia juga ingin melanjutkan idealisme bapak, dia iangin membuat lapangan kerja dan bukannya mencari kerja. Well...bahkan sebuah idealisme yang masih ada di dunia ide dan belum sepenuhnya nyata masih bisa lestari dan tak lekang oleh waktu, bahkan oleh kematian  Subahanallah

Bekerjalah kalian seolah-olah engkau akan hidup selamanya....
Dan beribadahlah kalian seolah olah engkau akan mati esoke..

Salah satu Hadits Rosullullah SAW

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Indahnya Mendung yang Menggantung di Akhir Tahun

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Let’s see..waow..udah dua bulan lebih saat episode 15 tercipta. Kalo gini aku nggak mungkin bisa jadi sutradara sinetron yang lagi striping nih, apalagi kalo sinetronnya tayang tiap hari kaya sinetron-sinetron yang ada sekaraang ini hehe... Eniwei, cukup dulu ngurusin ladang kerjaan orang deh, ada yang jauh lebih bermanfaat dibanding yang ngurusin kaya begituan 
Well...akhir tahun di Eropa biasanya musim dingin, suhu udara bisa mencapai minus derajat Celcius. Salju juga udah mulai turun di belahan utara bumi, tapi kalo di Indonesia, masyarakatnya sudah cukup puas (ato bahkan beberapa merasa direpotin?) oleh air hujan yang turun, maklum beberapa tempat adalah langganan banjir. Ga salah juga Gun N Roses bikin lagu “November Rain”. Soalnya di bulan itu, emang lagi banyak-banyaknya hujan yang turun di Indonesia. It means, mulai banyak banjir, mulai banyak yang merasa kewalahan soalnya cucian nggak kering-kering, n so on. Di bulan November seperti ini pula sinar matahari udah mulai kalah oleh anggunnya mendung kelabu yang berarak di langit. Ya, hangatnya mentari di pagi hari sudah sering tergantikan kelabunya awan, pun begitu dengan teriknya surya di tengah hari, semua lenyap, bahkan indahnya senja sudah mulai jarang bisa dinikmati. Semua terhalang oleh tebalnya mendung kelabu yang dengan tenang namun pasti selalu bergantungan di langit.
Konon, beberapa penulis menganggap mendung yang kelabu adalah lambang kesuraman. Lambang kesedihan bahkan bencana. Ya, kalo yang mereka sebut bencana itu adalah banjir yang timbul karena mendung tersebut membawa ujan sih, ada benarnya juga. Buatku, mendung itu indah, hawa dingin dan sejuk yang mengiringi datangnya mendung justru mendinginkan perasaaan, membuat hati tenang, dan....sendu. Tak jarang aku menikmati sejuknya pagi hari nan putih, saat mentari tertutup awan mendung, bahkan meski alam ini menjadi kelabu, tetap tak menyurutkan rasa senangku atas indahnya kapas kelabu yang berjajar di langit. Toh bagaimana pun juga kapas-kapas itu pembawa amanat-Nya. Kapas gelap yang terkadang tak diharapkan itu adalah rizqi dari-Nya, sama seperti hangatnya surya dan indahnya jingga senja. Bukankah kita harus selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah untuk kita? Bukankah Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya?
November ini, sudah lebih dari setengah bulan aku “menjabat” sarjana, atau tepatnya sarjana psikologi yang belum bisa memenuhi keinginan ibuku tersayang. Yah...sebenarnya mendung yang sendu di langit juga terasa di dalam hatiku. Sejak diwisuda aku optimis akan jalan yang aku pilih. Aku nggak ingin jadi job seeker, aku ingin jadi job maker. Caranya, aku buka lembaga pelatihan n out bound, dimana aku jadi trainer-nya. Jujur ya, jadi trainer itu cita-citaku sekarang, n aku pikir, dengan background-ku dari psikologi, itu realistis ko. Bahkan sejak 2 tahun lalu, saat masih kuliah aku da punya (maksudnya bersama beberapa teman membentuk) sebuah lembaga out bound n pernah menangani beberapa klien. Makanya terus terang aku terkesan nothing to loose dalam mencari kerja. Dalam hatiku, aku berniat mencari kerja untuk menyenangkan ibuku yang menginginkan aku punya gaji tetap tiap bulan. Ya, aku ngerti maksud beliau, dibandingkan aku buka usaha –yang untung-ruginya nggak bisa diprediksi– punya gaji tetap tiap bulan bisa dibilang “aman”. Lagian, aku juga mikir sih, kalo punya gaji tetap, paling ga, kiriman buat aku di Semarang bisa buat adikku ato buat bayar pembantu untuk ngurusin rumah. Kasian ibu kalo masih harus bekerja n ngurusin rumah. Tapi di sisi lain, aku ngerasa keinginanku untuk jadi trainer n buka lembaga psikologi sendiri dah benar-benar bulat, sebulat telor asin 
Tekadku yang seperti itu bahkan sudah memakan “korban”. Sekitar awal bulan ini aku dapat panggilan tes dan wawancara dari sebuah perusahaan di Tangerang. Kenapa Tangerang? Ya karena yang cariin aku pekerjaan di sana adalah mamanya Tyas, calon mama mertuaku (Busyet!) n ini kayanya udah aku tulis di episode 14 deh, kalo mo tau lebih jelas baca sendiri aja  Karena membawa nama keluarga, akhirnya aku berangkat ke sana, malah ampe ngerepotin Tyas n sekeluarga, karena aku ngajak Tyas-nya nganterin n nemenin aku. Bis nginepnya di rumahnya Tyas, demi Allah aku ngerasa nggak enaaaak banget!. Tapi setelah aku di sana beberapa hari, aku memutuskan untuk kembali pulang di Semarang. Padahal nggak lama setelah itu, relasi mamanya Tyas bilang kalo sebenarnya aku hampir pasti diterima. Hanya saja berhubung aku merasa aku nggak mau n ga bisa kerja di Tangerang, dengan segala serba-serbinya, ya aku terpaksa “menolak” pekerjaan itu (N ini juga yang paling bikin aku ngerasa nggak enak buanget! Udah susah-susah dicariin, malah ditolak, tapi Alhamdulillah mamanya Tyas mengerti, Tyas juga mendukung segala keputusanku, jadi meski aku ngerasa nggak enak banget, yaa..minimal aku udah asertif-lah).
Selesai satu beban pikiran, bukan berarti selesai semuanya. Saat ibuku tau keputusanku, pada awalnya beliau mendukung, atau lebih tepatnya menyerahkan segala keputusan padaku, tapi agak lama kemudian, ibuku kembali mempertanyakan keputusanku itu, bahkan aku ngerasa kalo ibu nggak bisa menerima keputusanku. Deg! Waktu ngedenger itu hatiku ngerasa teriris-iris, jujur aku hanya ingin dukungan moril, I know this way is not easy, but it’s not also difficult is it? Jalan yang ku pilih bisa saja terjal berliku, tapi bukan berarti bakalan terus gitu kan? Insya Allah ini hanya masalah proses. Terus terang aku terguncang, aku sempet ngerasa kalo ibu ngerasa berat kalo masih harus nanggung beban hidupku di Semarang, aku sampai mau cari duit sendiri buat biaya hidup tiap hari. Tapi lagi-lagi Allah membuatku merasa bersyukur memiliki Tyas. Ia nenangin aku lagi, mengembalikan semangatku untuk terus maju. Well, biar pun masih belum !00% (soalnya ampe kemaren aku masih males bwat ngapa-ngapain, termasuk kerja) Insya Allah aku siap melukis lagi lembar hidupku agar menjadi takdir yang terindah untukku.
Takdir terindah untukku, itu yang aku dapat setelah baca Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu (Matur nuwun ya kang, semoga Allah terus memberi akang ide-ide brilian agar mampu dibagi pada yang lain). Konon katanya manusia adalah magnet bagi sekelilingnya, kalo kita berpikir sebuah kejadian negatif akan terjadi pada kita ya itu bisa terjadi pada kita nantinya, sebalknya, kalo kita berpikir tentang kejadian positif, maka itulah yang akan kita alami. Makanya itu sekarang ini aku hanya berusaha untuk mikir yang positif-positif aja, dengan begitu kita jadi semakin ikhlas dan optimis menjalani hidup, dengan itu pula kita jadi bisa membersihkan hati kita selalu. Dan kebahagiaan? Sudah pasti bukan barang langka bagi kita, Insya Allah.
Pikiran positif pula yang mendorong aku untuk terus maju dan maju, kendati saat ini ada beberapa hal yang masih belum terselesaikan dengan excellent. Aku masih ingat banget beberapa saat lalu, belum lama terjadi sebenarnya. Aku mengajak beberapa teman yang biasa bergaul denganku untuk bergabung denganku membuat sebuah lembaga pelatihan profesional, meski pun belum bergaji profesioal, tapi aku berharap kerja kita profesional, toh yang namanya income gede juga didapat dari proses, nantinya kita juga pasti berusaha agar gaji kita di lembaga baru ini benar-benar bisa memenuhi standar profesional. Mereka pun dengan senang hati bergabung, saat itu. Sayangnya kerja sama yang aku pikir baik dan menyenangkan ini harus berakhir. Sebabnya karena beberapa dari mereka diterima kerja di sebuah perusahaan di sini (Semarang). Ya jujur, aku ikut senang, pastinya dong! Aku aja juga berharap bisa bekerja di sebuah perusahaan atau instansi, meskipun itu hanya sementara dan hanya untuk menyenangkan ibuku (gimana pun juga cita-cita untuk jadi trainer n punya lembaga psikologi sendiri ga akan pernah mau aku padamkan!). Akan tetapi, setelah beberapa lama mereka bekerja, kok aku merasa bahwa rencana kami untuk “membesarkan” lembaga ini sudah terlupa.
Entah mungkin aku yang harus introspeksi diri tentang kinerjaku sebagai pemimpin dan rekan kerja atau karena hal lain yang membuat mereka jadi seperti itu. Rekan kerja di lembaga pelatihan baru itu nggak semuanya teman-teman lama. Ada banyak yang merupakan teman baru, di antara mereka bahkan ada juga yang telah bekerja di instansi lain, tapi ternyata mereka (yang temen-temen baru n udah bekerja) masih saja ringan tangan membantu teman-teman di lembaga ini. Gaji yang kita siapkan buat mereka bahkan ga mau diterima, katanya bwat makan-makan temen-temen aja. Masya Allah.. Itu yang menurut aku luar biasa, kalo boleh jujur belum aku temukan dalam teman-teman yang selama ini ada di dekatku. Mungkin aku juga harus introspeksi, aku nggak bisa beri mereka gaji lebih, aku nggak bisa memberikan gaji bulanan, tapi sebenarnya sih aku juga ingin bisa seperti itu, hanya kan butuh proses. Dan proses dari nol hingga mungkin kita sukses setinggi langit itulah yang ingin aku capai bersama. Karena alasan ingin sukses bersama teman-teman pula aku rela dibodoh-bodohin orang gara-gara nolak pekerjaan yang hampir pasti didapatkan dengan bantuan camerku. Mungkin mereka aja yang belum ngerti itu. But it’s okey now. Aku pikir, aku masih punya beberapa teman yang punya tekad yang sama denganku, n aku pikir itu cukup untuk membangkitkan semangatku, sambil kembali merajut mimpi menjadi kenyataan tentang lembaga pelatihan yang benar-benar profesional dan mencapai langit setinggi mungkin.
Yah...langit tinggi di angkasa, yang semakin indah di kala berselimut kelabu. Yang sejuk memayungi manusia-manusia pandai bersyukur meski mereka tahu bahwa saat langit kelabu hangatnya mentari akan jarang menyentuh kulit mereka. Bagaimana pun juga Allah telah mengatur semuanya untuk kita. Takkan mungkin kita hidup hanya dengan sinar matahari dan tanpa hujan. Allah adalah Dzat Yang Maha Tahu. Dan Allah akan terus menambah nikmat-Nya bagi orang yang pandai bersyukur

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim:7)

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Secuil Lembaran Hidupku, 20 Agustus 2008 20.05 BBWI

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Lagi break sebentar nih...Baru aja nyampe Semarang jam 9 pagi. Eh jam setengah 10 ditelepon Mba Costrie, masih ada kerjaan di JAPSI katanya. Yawda, tadi langsung ngampus bwat ambil tuh kerjaan, terus nyicil dikit, n bobok siang, ampe aku ga peduliin Ty nelepon, kayanya dia sebel. Abis gimana...aku cape banget, tiba-tiba dapet job tambahan, ndadak lagi.. Yah...untung sih, katanya Jumat langsung gajian Huehehe..... Lumayan-lah
Tapi akhirnya aku juga jadi negeliburin 2 muridku yang harusnya aku les-in. Sebenernya ga enak, tapi aku juga ngerasa aku agak burn-out deh... Padahal lumayan juga buat isi waktu luang n nambah uang saku... Serba salah!!! Eniwei, untung tadi siang ada Nilam, jadi bisa bagi-bagi job. Tadinya sempet dongkol juga, nih temen satu tim kok ga ada yang bisa dihubungi...
N now, sambil break nyambi ngetik...Bis ini shalat isya dulu baru kerja lagi...Smangat Selalu!!! Astagfirullahaladzim...Subhanallah...Alhamdulillah...Allahu Akbar... Allahumma Sholli a'la Muhammad.
Oya, kemarin aku coba buka FS lewat HP barunya Ipan, ada 3 coment dari Arif, Bontel, ma Uthiet. Ya Allah seneng banget bisa komunikasi lagi ma temen-temen lama di SMA. Moga-moga nggak cuma lewat FS aja ntar...
Tambahan lagi dikiit...^^
Mamanya Ty telp aku lagi tadi, kata beliau, "titipan" CV n application letter-ku dah disampein ke PT Pelangi di Jakarta. Hmm... Aku nggak mo komen banyak ah... bingung. Di satu sisi aku nggak mau dibantu ampe segitunya, apalagi mamanya Ty bilang kalo sebenarnya di PT Pelangi lagi nggak ada rekrutmen. Jadi ini ceritanya aku dicariin kerja ma mamanya Ty. Membawa nama keluarga nih kalo kerja..berat!! Tapi di sisi lain, masak iya aku tega nolak bantuan dari camer???? Lebih nggak enak lagi dong!!!!
Wallahualam bi Shawab deh....

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Saat Kenangan Hanya untuk Dikenang

Ahad 17 Agustus 2008
Episode #13

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Saat Kenangan Hanya untuk Dikenang
Merdeka!!!! Hari ini bangsa yang kita sayangi dengan segenap jiwa ini berulang tahun ke-63 tiga. Udah tua ya... Semoga makin dewasa, makin menjadi negara yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbul Ghofur. Maju terus Indonesiaku! Sukses selalu timnas sepak bolanya! Eh sori, da mulai nyeleneh hihi...

Rasanya udah lamaaa banget tulisan ini nggak di-update. Sibuk siy... cari kerja maksudnya, maklum job seeker  well...status job seeker ngebuat aku sering nyatronin internet bwat nyari lowongan kerja. Hmm..mudah-mudahan nggak lama lagi aku dapat kerjaan...Eniwei, gara-gara sering nggak dapet job lewat internet, dengan sengaja aku buka-buka friendster-ku n nulis-nulis coment ato pesen (baca: message) bwat temen-temenku ato juga update blog kaya gini ini. Until suddenly...the day is coming (Apa coba?)

Kemarin, aku melihat profile seseorang yang gimana ya...intinya dia nggak asing bagiku. Tapi di masa lalu, saat ini mungkin dia orang lain bagiku. N aku merasa mungkin itu yang terbaik. Bagi kami, bagi dia, bagi aku, n bagi cewekku hehe.. Ya ialah... Sekarang aku udah bukan lagi anggota jomblowers lagi. Jadi aku harus ingat bahwa ada orang lain yang saat ini di sampingku, menunggu untuk segera dinikahin (Emang aku ngelakuin apa ya hehehe...)

Hanya saja...ada yang agak aneh deh, jujur aja, sebagai model cowok yang penuh perhatian (Sori narsis!) wajar aku masih inget beberapa hal tentang dia. Oke lanjut, sekarang ini, kemunculan dia bertepatan dengan munculnya album dari band favoritnya. Kebetulan?? Bisa iya... bisa juga tidak. Sekitar sebulan lalu, aku sempet pulang ke Sidoarjo, kumpul ma temen-temen SMA, Arif, Arinda, n Wira, ampe nonton The Dark Night bareng (Sumpah! Tu film awsome! Pokoknya keren banget!). N dari situlah semua memori tentang masa remaja di SMA terbuka kembali lembar demi lembar.

Hanya saja...seperti kata James Blunt, but it’s time to face the truth. Saatnya kembali ke dunia nyata. Bagaimana pun juga semua itu hanya kenangan, hanya masa lalu yang biarlah terus berlalu dan menjadi bagian dari sejarah hidup kita.

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ramadhan......Ketika Allah Sangat Dekat dengan Kita

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


Ini tulisan pertamaku di bulan Ramadhan. Nggak terasa udah sepuluh hari kita menjalankan puasa. Aku agak lupa dari mana, yang jelas ada sebuah dalil naqli yang menjelaskan andai saja manusia di bumi ini tahu keistimewaan-keistimewaan yang ada di bulan Ramadhan, niscaya mereka akan memohon pada Allah agar sebelas bulan yang lain dijadiin layaknya bulan Ramadhan. Subhanallah
Ya, bagi semua umat Islam, termasuk di Indonesia, Ramadhan memang bulan yang istimewa. Paling nggak saat Ramadhan-lah umat Islam di Indonesia mulai mikirin mudik untuk pulang ke kampung halaman. Hehe...lucu, Ramadhan kok dikaitkan dengan mudik. Padahal 30 hari Ramadhan aja belum selesai dijalani. Tapi ya gitu itu kenyataannya, mudik sudah jadi tradisi yang bisa dibilang sakral di Indonesia. Khususnya mudik pas Idul Fitri ato setelah Ramadhan selesai.
Eniwei, di Ramadhan kali ini aku ingin berbenah. Membenahin diri sendiri maksudnya. Misinya banyak, mulai rutin baca Qur’an, giatin shalat malam, ampe jamaah di masjid tiap lima waktu shalat. Tapi sumpah, susah banget memang. Tekad dan usaha memang harus sejalan, ditambah doa yang juga nggak boleh absen. Aku selalu yakin Allah itu Maha Adil, Allah juga Maha segalanya, ketika kita merasa sudah tak bisa apa-apa Allah-lah tempat kita bergantung, bersandar, menumpahkan semuanya lewat doa, dzikir, dan ibadah yang khusyu’. Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbingku. Karena meski Allah selalu dekat di sisi kita manakala kita dekat dengan-Nya, di Ramadhan ini Allah akan ada untuk kita lebih dekat, bahkan sangat dekat dengan kita.

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Roh Zaman yang Agung Bernama Muhammad SAW


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Mungkin kita telah berkali-kali membaca, berkali-kali mendengar dan diceritakan betapa agungnya, betapa luar biasanya sosok bernama Muhammad SAW. Beliau bukan hanya hamba Allah yang ditunjuk sebagai penutup para Nabi, beliau juga bukan hanya sebagai utusan Allah bagi seluruh dunia. Tapi lebih dari itu beliau adalah pemimpin kita, teladan kita, dan beliaulah roh zaman yang terbesar yang pernah ada dalam sejarah umat manusia. Tak salah bila Michael Hart menempatkan Muhammad SAW di urutan pertama dari 100 tokoh dalam sejarah yang berpengaruh bagi umat manusia.

Begitu besar dan agungnya sejarah dan kisah yang ditinggalkannya untuk kita. Semoga Allah selalu memberinya rahmat, juga para keluarga, sahabat, serta seluruh pengikut yang mencintai dan menyayanginya. Berbagai sajak, puisi, hingga syair telah tercipta atas inspirasi darinya. Ya, inspirasi. Bagaimana pun Allah tidak akan emngutus Muhammad SAW untuk kita kecuali agar ia bisa menjadi seorang suri tauladan yang baik bagi kita, Uswatun Khasanah.

Muhammad SAW bukan hanya Nabi, bukan hanya inspirasi dan suri tuladan. Lebih dari itu Muhammad adalah Roh Zaman yang Agung. Yang kan terus mewangi, bahkan hingga kelak manusia ditempatkan di akherat olej Sang Khalik. Bagaimana tidak, bila diantara ke-25 Nabi dan Rosul yang wajib diyakini, justru “hanya” Muhammad, sang Rosul akhir zaman, penutup para Nabi yang dianugerahkan keistimewaan berupa hak untuk memberikan syafaat bagi umat manusia. Bukan Adam AS, sang bapak seluruh umat manusia, bukan pula Ibrahim AS, sang bapak ilmu pengetahuan, atau bahkan Musa AS, yang begitu gagah berani mendobrak tirani Fir’aun di Mesir. Tapi sekali lagi, hanya Muhammad SAW, seorang Nabi yang ummi, yang tak bisa baca mupun menulis yang ditunjuk untuk memberikan syafaat untuk manusia. Muhammad adalah roh zaman yang agung yang pernah ada di muka bumi ini. Semoga salam dan dhalawat selalu tercurah untuknya.

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Takdir Cinta


by: Rossa
Ku tutup mataku dari semua pandangaku
Bila melihat matamu..Ku yakin ada cinta
Ketulusan hati..Yang mengalir lembut
Penguasa alam.. Tolonglah pegangi aku
Biar ku tak jatuh pada sumur dosa yang terkutuh
Dan menyesatkanku
Andaikan ku bisa lebih adil
Pada cinta kau dan dia
Aku bukan Nabi yang bisa sempurna
Ku tak luput dari dosa
Biarlah ku hidup seperti ini
Takdir cinta..harus begini
Ada kau dan dia bukan ku yang mau
Oh Tuhan..tuntunlah hatiku

Konformitas ala Devide et Impera


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Indonesia kembali membara. Negara yang konon gemah ripah loh jinawi serta memiliki Bhineka Tunggal Ika sebagai salah satu alat pemersatu bangsa ini kembali terbelah. Ironisnya kejadian itu terjadi saat hari lahir Pancasila yang juga menjadi landasan munculnya asas “berbeda tetapi satu”. Kejadian yang seolah mencoreng dan mengkhinanati Pancasila yang diagung-agungkan sejak zaman kebangkitan nasional dicetuskan Dr. Sutomo seabad yang lalu.

1 Juni 2008 adalah hari peringatan Pancasila dilahirkan. Hari itu dirayakan di beberapa tempat –bahkan wapres Jusuf Kalla menggelar jalan santai untuk memperingatinya– Jakarta kembali membara oleh kerusuhan. Ibukota kembali berduka, melihat saat hampir seluruh elemen bangsa memperingati salah satu hari bersejarah, beberapa oknum justru merayakannya dengan cara yang unik, atau mungkin nyeleneh kalau tidak boleh dibilang edan.

Sesama anak negeri yang katanya senasib sepenanggungan, sesama umat seiman yang seaqidah dan seperjuangan malah justru saling jotos-jotosan di Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) versus Front Pembela Islam (FPI) “bertempur” demi idealisme yang bahkan mungkin mereka sendiri belum mengerti apa itu idealisme. Belakangan diketahu bahwa bukan hanya FPI yang merupakan “musuh” AKK-BB, tercatat beberapa ormas Islam bergabung dengan aksi yang kemudian menyebut dirinya sebagai Laskar Pembela Islam (LPI). Tampaknya semua terjadi “hanya” karena mereka yang bertempur adalah kelompok saya, ini pertarungan kelompok saya maka saya “wajib” ikut serta. Romantis sekali bukan? Meski terkesan guobloknya naudzubillahi min dzalik.

Kenyataan bahwa kita memang bangsa yang pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun memang pahit, terlebih bila siasat yang digunakan adalah politik adu domba yang legendaris hingga ditulis dan harus dihafalkan oleh murid-murid sekolah zaman sekarang, politik devide et impera. Namun yang lebih pahit harus kita rasakan sebagai anak bangsa yang religius dan Pancasila-is adalah kenyataan yang baru saja terjadi, yang menyatakan bahwa politik yang telah menghancur leburkan persatuan bangsa di masa lampau, justru masih mampu meretakkan persatuan bangsa di masa kini. Untuk apa kita pelajari sejarah masa lalu bila masih terperosok di lubang yang sama?? Mengapa generasi muda justru dijejali sesuatu yang ternyata sifatnya teoretis sekaligus absurd namun di lapangan semuanya hanya omong kosong? Apa kata dunia????! Sedemikian parahkan nasib bangsa yang terdiri dari ribuan pulau dan jutaan kekayaan alam yang dianugerahkan Allah SWT ini??

Konon, juru bicara LPI menyatakan bahwa kejadian di Monas kemarin (1/6) merupakan klimaks dari kesabaran LPI selama ini. Mereka berdalih bahwa kesabaran mereka telah habis menyikapi keberadaan aliran ahmadiyah yang nyata-nyata didukung oleh AKK-BB. LPI juga menyatakan bahwa peristiwa Monas merupakan balasan atas apa yang dilakukan oleh AKK-BB melalui media yang disebut memfitnah LPI dan beberapa ormas yang di dalamnya sebagai ormas-ormas perusak dan penghancur Pancasila dan NKRI, karena tidak menghormati kebebasan beragama.

Memang sudah hukum alam yang namanya aksi selalu mengundang reaksi. Berdasarkan hukum fisika Newton tersebut, mungkin yang dilakukan LPI cs bisa dibilang benar. Sayangnya, yang tidak mereka pikirkan dalam otak mereka –kalau punya– adalah mereka melakukan kekerasan yang membabi buta, anarkhisme hukum rimba yang justru akan menjatuhkan citra dan kredibilitas mereka sendiri. Sebab dengan bereaksi seperti itu menunjukkan bahwa mereka cenderung memakai otot ketimbang otak dalam berbuat, yang seperti itu mah mental zaman primitif, dimana semua hal diselesaikan dengan kekerasan Sekarang bukan zaman seperti itu bung!!! Apalagi saat insiden berlangsung terdapat banyak ibu-ibu dan anak-anak di sekitar lokasi. Astaghfirullahaladzim... Padahal Rosulullah SAW saja melarang kita menyentuh wanita dan anak-anak saat perang melawan orang kafir. Perang man!!! Sekali lagi PERANG!!! Bukan dalam kerusuhan kelas teri hanya karena berbeda pendapat.

Sementara AKK-BB, kayanya sih korban, tapi kok ada yang aneh ya??? Salah seorang anggota AKK-BB yang juga direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menuturkan bahwa tudingan fitnah terhadap LPI tidak pernah dilancarkan AKK-BB. AKK-BB juga tidak menggunakan segala cara dalam bertindak tapi hanya melalui media, dan tidak berniat menfitnah siapa pun, jadi kalau ada yang merasa difitnah, maka sudah bukan urusan AKK-BB (Nuansa Pagi – RCTI, 2/6). Wah..wah.. Ternyata enak ya kalau kita bertindak pakai media. Kita hanya perlu nulis, mengadakan konferensi pers dan ngomong seenaknya sendiri. Tanpa peduli apakah omongan kita itu (baik melalui media cetak atau elektronik) bakal menimbulkan fitnah bagi publik, bakal melukai hati seorang atau lebih, dan yang lebih parah bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu semua sudah bukan urusan kita. Kan kita “hanya” menggunakan media.

Padahal, tidakkah anda sadar dul? Bahwa anda adalah orang yang terpelajar, berpendidikan. Masak hanya bisa ngomong tanpa mempertimbangkan baik buruknya? Tanpa mempertimbangkan akibat positif dan negatifnya bagi orang lain? Kalau hanya seperti itu anak TK juga bisa son!!! Malu kali sama gelar yang berderet-deret di belakang nama tapi bisanya hanya NATO (Not Action, Talk Only). Bukankah lebih bijak kalau sebagai kaum intelektual yang berpendidikan tinggi seperti anda dan bala kurawa mengajak pihak-pihak yang berbeda pendapat dengan anda untuk duduk bersama mencari solusi terbaik bagi semua. Win Win Solution kalimat kerennya. Anda pasti diajarkan dan belajar apa itu komunikasi efektif, manajemen konflik, hingga bagaimana caranya saling menghargai pendapat orang lain. Amalkan itu di keseharian anda donk!!! Jangan hanya berani ngomong yang mencela, mengkritisi, tapi nggak bisa menawarkan solusi terbaik. Sayang kan sekolah tinggi-tinggi tapi nggak ada yang bisa diamalkan???

Secara psikologis, kesetiaan dan kepatuhan pada kelompok, perasaan senasib dan sepenanggungan disebut konformitas. Konformitas ini mucul karena adanya kesamaan minat, nilai dan norma yang dianut oleh anggota kelompok, serta adanya interaksi yang terus menerus dalam kelompok tersebut. Konformitas memberikan dampak hilangnya pendapat atau aspirasi tiap individu. Mengingat keputusan yang dilaksanakan adalah keputusan kelompok, sehingga setiap anggota kelompok secara sadar maupun tak sadar terseret ke dalam keputusan kelompok. Konformitas juga memiliki arti yang hampir mirip dengan kohesifitas kelompok. Biasanya kelompok dengan kohesifitas yang tinggi akan memiliki solidaritas yang tinggi pula antar anggota kelompok.

Bila kita amati kasus Monas kemarin (1/6), dimana hampir seluruh individu yang terlibat kerusuhan begitu bangga dengan identitas kelompoknya sehingga semakin keluar jalur dari yang semestinya mereka lakukan, pada dasarnya merupakan bentuk solidaritas dan konformitas dalam kelompok semata. Hampir seluruh anggota AKKBB maupun LPI saling bentrok demi mempertahankan kelompoknya masing-masing. Mereka mengklaim bahwa kelompok mereka yang paling benar, mereka memiliki bukti-bukti yang menunjukkan bahwa kelompok lain adalah kelompok yang salah dan harus dibasmi.

Okey, mungkin tiap orang pernah melakukan kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna di jagat raya ini. Nampaknya itu yang belum mereka sadari betul selama ini. Padahal jika saja mereka tahu apa manfaat dari konformitas terhadap kelompok yang selama ini mereka bela, mereka perjuangkan, bisa jadi mereka menyesal atas kebodohan yang mereka perbuat. Karena apa? Karena saat mereka bersimbah darah, keringat, dan air mata bertarung melawan saudara-saudaranya sendiri yang juga seiman, sebangsa dan setanah air, sang dalang kerusuhan, aktor intelektual, provokator atau apalah nama yang tepat untuk menyebut kebrengsekannya, sedang tersenyum lebar menikmati hasil karyanya. Bahkan mungkin sang aktor sedang tertawa dan bertepuk tangan melihat adegan yang sebenarnya ia rencanakan dengan memanfaatkan konformitas buta dalam sebuah kelompok, sebuah konformitas yang digunakan untuk mengadu domba seluruh anak bangsa, untuk kemudian memecah belah dan menghancurkan bangsa yang kita cintai ini dari dalam. Andai saja anda-anda semua mengerti betapa licik dan jahatnya konformitas devide et impera yang telah menuai hasil dengan tumpahnya darah rakyat Indonesia oleh akibat tangan-tangan saudara sebangsa di negerinya sendiri. Wallaua’lam bishawab

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Rakhmad Herdiawansyah S. Psi
Alumnus Psikologi Undip, Trainer RBS
Bukan Anggota AKKBB atau LPI

Antara Optimisme Absurd serta Anomali Jiwa

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Di saat waktu berhenti...kosong...
Dimensi membutakan mata
Memekakkan telinga...
Lalu diri menjadi hampa
Saat paradigma dunia
Tak lagi digunakan untuk menerka
Sadarku akan hadir-Mu
Mematahkan sendi-sendi yang biasanya tegak berdiri
By: Dian Sastrowardoyo

Alhamdulillahirabbila’lamiin, mungkin juga Astaghfirullahaladzim... Dua kalimat itu yang mungkin aku ucapkan saat ini. Tahmid terucap manakala sekarang aku mendapatkan kembali semangatku yang sempat luntur beberapa hari belakangan. Semangat yang kan terus mengobarkan api perjuangan di mataku, seolah berkata akan ku tempuh segala macam takdir yang telah disiapkan-Nya untukku. Akan ku gariskan takdirku sendiri di bawah naungan-Nya. Sementara istighfar terpanjatkan saat ku merasa kecewa atas diriku sendiri, yang kurang sabar dalam bersikap, yang masih terbawa nafsu ketika menghadapi ujian. Padahal Allah selalu dan selalu menuturkan dengan kasih sayang-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Q. S. Al Baqarah: 153)

Sungguh Allah adalah Dzat yang selalu menepati janji. Dan ungkapan itu terbukti saat kesabaran yang bila saja saat itu mampu ku capai, aku akan lebih dimudahkan oleh Allah. Sayangnya aku belum bisa mencapai derajat sabar yang Allah kehendaki. Sedih, kecewa, dan malu sudah menjadi konsekuensi logis seorang hamba yang merasa telah menjauhi Tuhannya. Dan saat itulah mungkin kita akan berkata, “Andai waktu dapat aku putar kembali”. Secara psikologis, beberapa orang, mungkin seperti aku juga akan berkhayal seolah waktu bisa terulang, sebuah defend mechanism yang sangat menyakitkan. Mekanisme pertahanan diri yang membuat kita menjadi manusia pelarian, escapist, yang memilih lari dari kenyataan untuk menghindari rasa tak nyaman tersebut.

Takbir Allahu Akbar, mungkin adalah penyejuk yang memungkinkan aku kembali ke alam nyata. It’s time to face the truth. Ketika aku menyadari kesalahanku, aku kecewa akan diriku sendiri dan aku berniat memperbaikinya di masa mendatang. Saat itulah aku menyadari that’s the truth! Keinginan itulah yang menghindarkanku dari pelarian ke alam maya. Dari seorang escapist menjadi seorang realist. Penyesalan memang akan selalu datang di akhir, namun yang lebih baik adalah menyadari bahwa penyesalan tersebut adalah bukti bahwa kita adalah manusia biasa yang tak sempurna. Setelah itu, kita jadikan penyesalan tersebut sebagai batu loncatan tuk meraih yang kita harapkan. Karena sekali lagi, penyesuaian diri yang baik terhadap keadaan lingkungan bukanlah melalui mekanisme pertahanan diri apapun, namun melalui kontrol diri, perspektif yang akurat terhadap realita, serta melalui perencanaan yang matang nan cerdas.

Manusia, berbagai macam bentuk dan tipenya adalah makhluk yang super kompleks. Manusia memiliki akal sekaligus nafsu yang memungkinkan ia menjadi malaikat nan luhur hingga setan yang bergentayangan di dunia. David Hume menyatakan homo homini lopus, manusia adalah serigala bagi yang lain. Pendapat zaman baheula itu semin hari semakin menjadi kenyataan. Di negara kita saja, sering kita lihat, dengar bahkan mungkin rasakan bahwa meski sebangsa dan setanah air, kalau perlu senasib sepenanggungan, juga adalah serigala bagi yang lain. Pemimpinnya apa lagi, kalau terus-terusan menaikkan BBM hingga mencekik leher rakyat yang semaikn sesak nafas, bisa jadi ia adalah bos geng serigala itu. Nudzubillahi min dzalik!!

Manusia ternyata juga homo religious. Manusia adalah makhluk yang mengenal Tuhan sebagai kekuatan yang lebih dahsyat dibanding manusia itu sendiri. Kenyataan yang demikian itulah yang menjadikan serigala-serigala berkaki dua tersebut akan mengingat Tuhan-Nya meski mungkin hanya saat arus kehidupan mereka bertarung dengan karang yang terjal. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa jenis manusia yang mengaku ber-Tuhan terkadang malah ingat Sang Tuhan kala ia sedang berada dalam kesulitan dan membutuh ‘someone’ to help. Seolah mereka butuh Tuhan karena adanya asas manfaat. Ketika butuh Tuhan, mereka mencari dan mohon pada Tuhannya, namun ketika sudah merasa nyaman sendiri, Tuhan seolah halal untuk dilupakan. Yang ini juga Nudzubillahi min dzalik!!

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa (QS. Fushshilat: 51)

Hanya saja kalau mau jujur, aku justru bingung dengan diriku sendiri. Aku merasa seolah-olah aku adalah tipe orang nyeleneh, setidaknya bagi manusia kebanyakan. Saat Allah melimpahiku dengan nikmat dan memberikan semua kesenangan untukku, seolah berjuta rasa syukur ingin terucap oleh tiap sel tubuhku. Tak jarang aku melayang ke langit tujuh, tubuh terasa ringan, senyum yang tak berhenti mengembang, dan mimpi yang seolah datang lalu turut serta ke langit harapan. Sebaliknya, saat Allah mencoba dengan sedikit ujian, tiba-tiba saja tubuh ini berat, seolah otak telah dijejali batuan-batuan asteroid yang berintikan masalah duniawi. Akibatnya fatal, pekerjaan di dunia semrawut, ibadah semakin nggak jelas, meski secara kuantitas terjaga tapi secara kualitas mengenaskan. Hhh... Entahlah aku memang masih bandel, dan mungkin karena bandel jualah Allah sering ‘menggodaku’ supaya aku jera dan nggak bandel lagi. Sebab Allah pasti tahu bahwa tak secuil biji zahra pun terlintas keraguan dalam raga dan sukma ini atas ke-Maha Agung-an, dan Maha Segalanya yang hanya milik-Nya. Dan aku yakin, Allah selalu menuntunkan jalan takdir yang terbaik bagiku, seorang hamba yang begitu mempercayai-Nya meski kadang masih susah untuk diatur 

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Sahabatku

Sahabatku... Apa kabar?

Entah berapa musim telah kita lewati

Tak tahu pula berapa masa telah tertempuh

Senang, susah, haru dan benci dan hampir semua emosi

Yang menguras isi jiwa telah terpatri bersama kenangan

Ya, kenangan...kata-kata yang simpel namun dahsyat

Kenangan adalah salah satu harta kita

Kenangan adalah zamrud dalam khatulistiwa hidup

Adakah aku dalam kenangan itu?

Adakah tawa maupun tangis bersama masih tinggal dalamnya?

Karena hingga kini tak ada lagi yang meruntuhkan

Seluruh rasa dan asa di hati selain saat bersama kalian

Meski kini hanya hidup dalam bayangan semu

Roda kehidupan yang terus berputar

Takkan bisa terhentikan oleh kuasa manusia

Jatuhnya pasir waktu tak mampu kita perlambat

Semua begitu alami...semua tampak biasa

Dan kebiasaan itu memaksa kita menyadari

Bahwa kenangan itu semua telah menjadi masa lalu

Yang hanya pantas untuk dikenang

Takkan lebih dari itu

Selamanya, Cinta Suci Bukanlah Dosa

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Cinta adalah satu-satunya bunga
yang tumbuh dan mekar tanpa bantuan cuaca.

Kalimat itu milik Kahlil Gibran, sang pujangga berdarah Arab yang banyak bercerita tentang apa itu cinta, dan kalimat di atas adalah salah satu yang mewakilinya. Kahlil Gibran bukan satu-satunya penyair di belahan planet bumi yang menulis tentang cinta. Begitu dahsyat kekuatan cinta sehingga seseorang tak perlu menjadi pujangga sebesar Gibran untuk menuliskan cinta yang pernah dirasakan. Karena cinta pula seseorang yang baru saja mengenal pena lantas berbuat seolah seorang pujangga cinta yang termahsyur.

Cinta memang misteri sekaligus anugerah dan nikmat yang luar biasa yang pernah diberikan Allah SWT pada semua makhluknya. Tak terbayangkan yang kan mungkin terjadi ketika Dzat-Nya memilih menyembunyikan cinta dalam keagungan-Nya. Meski misterius, cinta tak pernah lenyap dan dilenyapkan dari jagat ini. Bagaimana pun cinta-lah yang membuat manusia tetap lestari meski kelak akan fana bila Israfil mulai menjalankan tugas yang diberikan oleh Tuhan-Nya Yang Maha Segalanya.

Sayangnya cinta sendiri tak pernah berjalan mulus, tak ada yang menjamin bahwa sebuah cinta akan terus putih, murni dan suci. Secara psikologis cinta memang hanya dikumandangkan oleh Erich Fromm. Cinta adalah konsep yang ia tawarkan manakala mengetahui dunia telah ‘sakit’. Padahal kalau mau jujur, kita akan bertanya, siapa sebenarnya yang sakit? Dunia? Atau hanya dunianya? Fromm menyatakan bahwa dunia telah hampa, lumpuh, dan sakit karena begitu besarnya pengaruh materialistik dalam kehidupan manusia. Pertanyaannya, manusia yang mana yang ia kategorikan sakit, lumpuh, dan merasa dalam kekosongan itu?

Lantas jadi seperti apa dunia sebenarnya kalau cinta ‘baru ditawarkan’ oleh Fromm di akhir abad ke-19 M? Kalau cinta adalah konsep ‘baru’ atas dasar apa manusia beranak pinak? Berusaha sekuat tenaga demi kelangsungan ras? Bukankah cinta itu adalah secuil dari kekuasaan-Nya terhadap seluruh yang diciptakan-Nya? Bukankah cinta adalah manifestasi betapa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi seluruh makhluk? Lalu mengapa masih ada kejahatan? Mengapa masih banyak ketidak adilan di sana-sini? Salah siapa? Salah gue? Salah teman gue?

Jika kembali pada konsep cinta suci, sebenarnya itulah jawabnya. Bila diizinkan mengutip kalimat seorang teman, manusia takkan mampu mencapai cinta suci, karena cinta adalah milik-Nya yang teramat agung untuk dicapai. Manusia hanya mampu menyayangi, menghargai, megnerti satu sama lain, namun belum mampu untuk taraf cinta. Karena pada cinta sebuah kekuatan dahsyat yang tak terkendali berkumpul di dalamnya. Kekuatan untuk memiliki, hingga menguasai orang yang dicintai ada padanya. Bahkan tak mungkin kekuatan cinta itu mencekik leher kehidupan sang tercinta.

Bagaimana pun juga sang cinta suci bukanlah perbuatan dosa. Cinta suci pada dasarnya juga menerima apa adanya dan menganggap itulah yang terbaik yang Allah berikan. Ketika kekuatan cinta telah menjadi bagian positif dari dalam diri selamanya pula cinta suci bukanlah dosa

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Back (again) to the Real World

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


Aku uda di Semarang lagi saat tulisan ini tercipta. Episode sebelumnya aku ada di Kendal, seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku lagi kerja bareng ma teman-teman baruku. Aku outbound ma temen-temen Diponegoro Outbound Training (DOBT) yang dikenalkan Enu sebelumnya. Kembali ke Semarang lagi juga berarti aku turun ‘pangkat’. Sewaktu outbound aku adalah trainer, sekarang berhubung acara da selesai, aku jadi job seeker hehe.. Insya Allah aku masih selalu bersyukur atas yang diberikan Allah padaku.

Berbagai peristiwa telah terjadi selama 3 hari aku ada di Kendal. Semua benar-benar memberikan banyak pelajaran buat aku. Pelajaran tentang hidup, tentang kesabaran, juga tenatang pekerjaan, oya ada satu lagi, tentang betapa dalamnya rasa sayang dan cinta yang masih harus diperjuangkan. Semua itu justru mampu membuat aku tersenym, sambil berucap syukur seolah membenarkan apa yang pernah aku katakan sebelumnya, bahwa masterpiece yang sesungguhnya adalah sandiwara kehidupan. Sebuah sandiwara yang terindah yang pernah ada di kolong langit.

Aku belajar tentang hidup dan kesabaran, ketika aku menonton berita di TV yang memperlihatkan begitu banyak pihak yang meunjukkan sikap pro dan kontra saat pemerintah berencana menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Mulai dari mahasiswa yang getol banget demo, wakil-wakil rakyat di legislatif (yang katanya) penyambung lidah rakyat, kalangan pengusaha meengah dan kecil, bahkan birolrat tingkat daerah dan akar rumput, hingga ibu-ibu rumah tangga yang biasanya hanya tahu dapur dan gosip tak ketinggalan ingin menyampaikan aspirasinya. Tak sedikit diantara mereka yang ditangkap pihak berwajib atau terluka akibat dari usaha mereka yang kemudian berakhir ricuh dan rusuh dengan pihak aparat. Terkadang aku berpikir bahwa apa yang telah mereka lakukan (yang kebanyakan menolak dan kemudian turun ke jalan untuk melakukan protes) akan berakhir sia-sia. Bagaimana pun juga, pemerintah berlabel muka badak dan kuping nggak punya lubang untuk menyampaikan pesan rakyatnya yang menderita nggak akan merubah keputusan tentang BBM tersebut. Padahal solusi yang ditawarkan berbagai pihak telah tersedia. Akan tetapi, di balik kesia-siaan itu aku juga berpikir, andai saja mereka yang berdemo dan meneriakkan penolakan pada harga BBM yang melambung tidak keukeuh marekeuh dengan tingkah polah mereka, lantas siapa lagi yang akan berjuang demi bangsa ini? Siapa lagi sang pahlawan pembela rakyat kecil? Yah...this is the real world. Manis ataupun getir tetap saja harus kita reguk, dan jadikan harta yang memperkaya usia kita.

Selama tiga hari di Kendal aku juga belajar tentang rasa sayang yang harus pula diperjuangkan. Betapa tidak, di saat aku sedang gundah, ada sesuatu menerobos di liang hatiku. Dan seslama 3 hari itu pula aku berusaha mati-matian mempertahankan keteguhan hatiku. Sampai aku meyadari bahwa setelah tiga hari itu berlalu saat itulah aku harus kembali ke alam nyata, kembali ke kehidupanku yang biasa. Kembali lagi menata hati yang mungkin mulai diterpa badai dan gemuruh.

Ya Allah.....
Aku ini insan yang kalah
Balutlah hatiku yang terbelah
Dan terpisah-pisah......
Ya Allah......
Hanyalah dirimu yang mengerti
Kesedihan melanda diriku
Ku tak tahan lagi.........

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Edelweiz Putih dalam Hamparan Salju

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Well, kali ini aku lagi bersama teman-teman baru. Yah, sebagai orang dengan nilai Need of Afflitiation yang sangat tinggi berdasarkan EPPS, rasanya punya teman baru, t’rus jalan ma mereka, termasuk kerja bareng mereka (mungkin ini yang lebih tepat) adalah hal yang wajar. Cuman, sayangnya EPPS itu diukur sekitar hampir 2 tahun yang lalu. Berdasarkan Papikostik, pergaulan sosialku lebih mengagumkan lagi (sori, nggak bermaksud pamer ato sombong kok), tapi entah aku merasa ada yang aneh dengan kontradiktif nilainya. Berdasarkan Papikostik, aku tergolong individu yang memiliki pergaulan yang luas, dan juga memiliki ikatan yang kuat terhadap kelompok sosialku, hanya saja aku nggak ngerti kenapa keinginanku untuk menjadi pusat perhatian justru malah sangat kecil?

Apakah edelweiz putih yang dulu tertutup salju ini telah berubah menjadi karang yang kuat? Atau mungkin karang yang keras? Aku nggak tahu pasti, tapi kalau mau jujur, untuk saat ini aku nggak ingin banyak berharap pada orang lain, terlebih kalau aku tahu aku bisa lakukan itu sendiri. Padahal filosofi hidupku yang selalu berusaha untuk seimbang takkan mengizinkan aku lupa berharap pada orang lain, karena bagaimana pun mereka tetap bisa diharapkan.

Mungkin aku hanya perlu cerita, terlalu banyak hal yang telah aku simpan sendiri, yang aku pendam sendiri. Padahal aku da punya Ty. Lucu, padahal aku dulu pingin punya pacar salah satunya adalah karena aku ingin berbagi dengan pacarku. Tapi entahlah, saat ingin bercerita aku jadi mikir dua kali untuk sekedar menumpahkan perasaanku. Hhhhhh…..

Aku bisa saja bercerita sama teman terdekatku, sama sista, Lita, atau sapa aja. Tapi entahlah, rasanya aku agak ogah sekarang. Mungkin aku terlalu berharap lebih pada mereka, sehingga ketika aku merasa bahwa harapan itu tak terwujud, aku nggak ingin melakukan hal yang aku pikir it’s useless. Ya Allah...gimme a faith please....

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Sandiwara Indah itu Bernama Kehidupan

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Kemarin, Selasa 6 Mei 2008 aku melihat, mengalami, serta juga mendengar berbagai babak sandiwara yang luar biasa. Sebagian ada yang nyata bersama arus takdir yang telah tertulis, tak sedikit pula legenda, hingga fiksi yang menyertainya. Kebahagiaan yang beriringan dengan tawa dan senyum berjalan sejajar dengan kesedihan yang berteman kesedihan dan kecewa. Kalau menurut agama, itulah yang disebut sebagai Sunnatullah, ketentuan Allah yang telah ditetapkan dalam Lauful Mahfudz yang Agung.

Anak kecil sekarang mungkin udah nggak kenal lagi sama superman, cerita komik orang Amerika yang sempat menjadi idola berjuta-juta anak kecil dan remaja di berbagai belahan dunia sekitar tahun 1980 hingga 1990an. Namun yang namanya bisnis hiburan tidak pernah tertidur, saat menyadari pamor sang jagoan super meredup saat ini, si empunya komik segera bereaksi dengan menelorkan kisah baru yang mengisahkan tentang seorang anak SMU yang kelak menjadi superman, yaa.. semacam calon jagoan-lah.

I’m talk about smallville. Serial TV yang mengisahkan cerita ketika Clark Kent akan menjadi seorang Superman. No, I’m not talk about the film. I just talk about the story, part of story exactly. Sebuah kisah persahabatan yang membuat aku iri, cemburu, dan mungkin ingin memiliki.

Alkisah, sebelum menjadi superman, Clark memiliki sahabat bernama Lex Luthor, seorang bisnisman dan milyader di Kansas, tempat mereka tinggal. Sayangnya dalam film tersebut mereka bertolak belakang, Clark adalah protagonis dengan segala hal yang baik yang ada di dirinya, sementara Lex adalah antagonis, sang tokoh jahat yang punya banyak musuh. Pada awalnya Clark dan Lex bersahabat baik, namun ketika timbul perselisihan besar, persahabatan mereka pun goyah dan lebih sering bertengkar daripada sepaham. But, this is the most important! Meski secara eksplisit persahabatan mereka retak, di hati mereka persahabatan sejati tetap terjaga. Baik Clark maupun Lex saling membela sahabatnya bila ada yang melecehkan atau menghina, saling mengingatkan dan menjaga, keduanya juga tanpa pamrih tetap saling membantu jika sang sahabat mebutuhkan bantuan, walaupun sekali lagi, they’ve been different now, mereka lebih sering berbeda pendapat.

Is it called a friendship? Is it a bestfriend? Meskipun berbeda baik pemikiran, pendapat, hingga jalan yang akan ditempuh, sahabat akan tetap saling menjaga, sahabat tetap saling membantu tanpa pamrih, demi kebenaran sejati, dan demi persahabatan sejati.

Sandiwara selanjutnya adalah legenda yang menyatakan kesetiaan, cinta, keberanian, dan ketulusan yang berbaur dalam perang dan pembunuhan. Orang lebih mengenal Yunani adalah negara besar di masa lalu, negara yang juga disebut-sebut sebagai salah satu yang membangun peradaban umat manusia. Most of the story is true, but somethng hidden isn’t less.

Achilles adalah seorang ksatria Yunani yang sangat hebat, begitu hebatnya Achilles hingga seorang raja terbesar Yunani saat itu, Agmemnon bersedia mengalah untuknya, setidaknya agar tahta dan nyawa sang raja tak melayang. Achilles bisa saja mendirikan tirani dan diktator dengan keistimewaannya tersebut, namun itu tak dilakukannya, dia berperang dan bertarung hanya untuk dirinya sendiri, demi harga diri, dan takdir yang ia percaya untuknya. Sikapnya tersebut telah menimbulkan rasa hormat, segan dan takut dari kawan maupun lawan, meski dalam peperangan ia adalah singa yang ganas, namun di luar itu, Achilles adalah ksatria yang terhormat, pemberani, namun tetap memiliki ketulusan dan respek terhadap lawannya. Cerita keberanian Achilles berakhir ketika beberapa anak panah menancap di dadanya justru saat ia ingin menyelamatkan cintanya, seorang wanita yang merupakan sepupu dari musuh yang menghabisinya, Pangeran Paris dari Troya.

Cerita terakhir adalah tentang aku sendiri, sebenarnya sih cuma mau katarsis, menyambut kegegalanku di psikotes waktu ngelamar kerja  Ternyata biarpun biasa ngetes orang, tapi kalau dites memang lain rasanya, tapi nggak papa, aku tahu ini yang terbaik yang Ia berikan untukku. Aku percaya Allah menyiapkan panggung yang paling baik bagiku untuk berkarya di jalan-Nya, sebagaimana Allah membangkitkan semangatku lewat Clark maupun Achilles. Yah...aku memang harus akui, meski legenda dan fiksi itu sangat memukau, tak ada yang bisa mengalahkan indahnya sandiwara yang bernama kehidupan, yang Allah siapkan untukku


Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

RAKHMAD HERDIAWANSYAH S.Psi.

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Konon, seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan yang dijalaninya pada sebuah perguruan tinggi berhak menyandang gelar akademis di belakang namanya. Gelar itu sering disebut sarjana. Kalau dia belajar di jurusan teknik maka setelah lulus ia berhak disebut Sarjana Teknik, kalau belajar di jurusan sosial, ya gelarnya Sarjana Sosial, belajar di jurusan hukum dapat Sarjana Hukum, dan sebagainya. Masalahnya kalau ada seseorang yang belajar di jurusan ilmu kehidupan, dengan segala asam garamnya, ia bakal mendapat gelar seperti apa ya???

Eniwei, kita nggak akan membahas soal itu, jujur aku mau curhat saat ini. Yah..Rabu 23 April 2008 kemarin, secara resmi nama belakangku bertambah beberapa huruf. Dulu kalau aku harus menuliskan nama lengkap, aku hanya menulis Rakhmad Herdiasansyah thok! Tapi sekarang, aku berhak menulis dengan lebih lengkap lagi, Rakhmad Herdiawansyah S.Psi (S.Psi itu dibaca Sarjana Psikologi, tempat aku belajar, di fakultas Psikologi di Universitas negeri ternama di Semarang). Sebenarnya yang ingin aku omongin bukan masalah aku mau nambahin nama lengkapku dengan S.Psi atau nggak, tapi lebih dari itu, empat huruf plus satu titik yang berada di belakang namaku itu memiliki makna yang besar nan dalam (Opoo kuwi???)

Maksudnya, dengan adanya S. Psi di barisan belakang namaku itu aku telah berhasil menyelesaikan belajarku di perguruan tinggi, serta berhak menyandang gelar akademis dalam bidang Psikologi, ilmu tentang perilaku yang merupakan manifestasi dari jiwa manusia. Lebih dari itu, berbagai tanggung jawab besar mengiringi di belakang gelar yang dengan susah payah ku peroleh tersebut. Tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu yang ku dapat, tanggung jawab untuk membagi dan memberikan ilmuku kepada masyarakat, agama, bangsa, dan negara (walah!) dan tanggung jawab lain yang tidak mungkin disebutkan satu per satu di sini.

Umm...ya pada akhirnya aku berharap aku mampu melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan sebaik-baiknya. Gusti Allah paringi power dumateng kula Gusti....

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

SYUKUR

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Kadang yang namanya manusia itu repot, sesekali dikasih musim hujan biar dunia ini penuh rahmat, lha kok malah pingin panas. Katanya dingin lah, cucian nggak kering , hingga masalah banjir yang ikutan nongkrong di dalam rumah n nggak mau surut-surut. Pas dikasih panas, massih aja nuntut, mbok ya jangan panas-panas, jadi kekeringanan nih... Dasar manusia!!!!
Padahal kali dipikir-pikir, kalau kita bisa ambil sisi positif tiap hal yang kita alami, Insya Allah semua bakal terasa menyenangkan.


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim:7)

Bukannya sok alim, tapi firman Allah dalam Al Qur’an kan sudah seharusnya jadi petunjuk dan pedoman hidup kita. Apa yang kita tahu akan jauh lebih baik bila kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari daripada hanya sekedar dibaca dan didengar, terus hilang entah kemana.

Al Qur’an surat Ibrahim ayat 7 di atas secara jelas menyatakan bahwa orang yang pandai dan terus bersyukur atas nikmat yang diterimanya, maka Allah akan menambah nikmat-Nya pada orang tersebut. Wuih!!! Bayangkan, “hanya” dengan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, maka nikmat tersebut akan ditambah oleh-Nya. Padahal nikmat Allah pada manusia itu Subhanallah banget lho jumlahnya. Bila kita pandai bersyukur, maka pikiran-pikiran negatif tentang apa yang kita dapatkan dan alami dalam keseharian secara otomatis akan lenyap dan diganti dengan positive thinking atas apa yang kita alami dan dapatkan tersebut. Hasilnya, ya hidup kita bakal hepi di setiap harinya.... Menarik kan?

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

TENTANG RAKHMAD

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Rasanya udah berabad-abad lalu (Hehe..sori agak hiperbolis..) aku nggak lagi nulis. Padahal dulu kalo udah di depanku udah ada keyboard pasti deh tanganku nggak mau berhenti nulis. Apa pun itu, artikel, puisi, cerpen, hingga curhatan bwat Sang Maha Segalanya. Kayanya ngerjain skripsi cukup meruntuhkan kegemaranku itu huehehe...Just kiding.. nggak segitunya kok... Mungkin hanya masalah waktu n...aku yang rada males buat mulai nulis lagi.

Ternyata kalau aku buka-buka lagi semua file lama yang pernah aku tulis, udah banyak banget yang aku tulis. Dan berbagai peristiwa maupun cerita tersaji semua. Senang, susah, marah, tawa, tangis, dan semua segala jenis emosi anak Adam telah tercurah di sana. N itu membuat aku semangat lagi buat memulai menulis. Cuma, sekarang ini aku berniat memulai lembaran baru. Yah..bagaimana pun juga aku yang sekarang sudah jauh....banget berbeda dengan aku yang beberapa tahun ke belakang. At least I’m 22 years old now, I’ve finished my study at university (Haha.. I’m a Psycological Bachelor now )

Semua orientasiku saat ini berubah. Aku merasa aku juga ingin memendam semua yang pernah aku rasain dulu ke dalam alam kenangan. Mereka hanya untuk dikenang, dan diambil pelajaran dan hikmah positif bagi kehidupanku saat ini maupun selanjutnya, kalau ada yang negatif, nggak ada salahnya disimpen bwat rambu-rambu yang mungkin mampu menjadi pengingat dalam menjalani hidup biar nggak terulang lagi. Hmm..ya, membuka lembaran baru kayanya memang harus dilakukan, salah satu oenyesuaian diri yang baik adalah penyesuaian melalui perencanaan (hehehe.. skripsi banget ya??)

Well, umm...mulai hari ini aku ingin kembali menulis, moga-moga bisa rutin. Oh ya, nama file ini ku namakan “Tentang Rakhmad” Hehe... bwat yang pingin baca. Monggo...siapa aja Insya Allah aku izinin baca, kalaupun ada yang rahasia, ya ntar aku pasword file-nya hehe...Ga papa toh? Yang namanya privacy kan merupakan hal yang wajar bila tiap orang punya 

Umm..untuk cerita yang pertama aku pingin cerita tentang diriku yang sekarang. Namaku “Rakhmad Herdiawansyah”, ketika kecil aku punya nama panggilan “Iwan”, tapi sejak aku SMU, nama panggilanku berubah menjadi “Rakhmad”, yang diambil dari nama depanku. Sedikit cerita, sejak kecil aku dipanggil Iwan oleh keluarga, tetangga, teman, dan saudara karena aku punya satu orang adik yang juga bernama depan “Rakhmad”, tapi sejak SMU nama panggilanku jadi Rakhmad karena menurut teman-teman SMU-ku mereka lebih suka memanggilku dengan nama Rakhmad daripada Iwan. Lebih bagus katanya, kata temen-temenku lho... Akhirnya nama panggilan Rakhmad aku lestarikan hingga aku kuliah dan sampai kini.

Aku baru aja dinyatakan lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang, sekitar sebulan yang lalu. Kata adikku satu-satunya namaku udah jadi panjang (emang sih hehe..) sekarang namaku Rakhmad Herdiawansyah S.Psi  tapi nama itu baru boleh secara resmi aku pakai setelah aku diwisuda akhir April mendatang. Berhubung udah nggak jadi mahasiswa, statusku saat ini adalah pengangguran. Tapi Alhamdulillah, aku nggak sepenuhnya menganggur. Sejak masih kuliah, aku udah punya kerjaan part time bersama teman-teman kos n kampus sebagai trainer. Kami punya lembaga pelatihan yang fokusnya pada kegiatan out bound. Nama lembaga kami “Red By Star”. Sampai saat ini kami masih menerima klien untuk outbound di alam terbuka. Selain jadi trainer, aku juga seorang pendidik di sebuah lembaga bimbingan belajar yang menyediakan guru les privat. N sekarang aku baru punya seorang murid SMP kelas satu.

Hmm..apa lagi ya? Oh ya, aku 22 tahun, status single dengan seorang pacar yang insya Allah calon istriku hehe... Namanya Tyas, dia adik kelasku di Psikologi Undip. Kita udah jalan hampir 1,5 tahun. Dan cerita tentang kami tuh buanyaaaak banget, maybe next time aku bakal cerita. Tapi sekarang mungkin sampai di sini. I have to go, i have a promise with my classmates

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Diberdayakan oleh Blogger.