|
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Alhamdulillahirabbil'alamin... dibalik semua yang terjadi padaku Allah nda lelah memberikan rahmad dan hidayahnya untukku. Serta menjaga untuk terus di jalan-Nya. Shalawat nda lupa buat junjungan dan teladanku Rosulullah SAW. Well.. rasanya udah lama banget aku nda ngeblog sepagi ini. Boro-boro ngeblog, bangun jam segini hampir dua minggu jarang… Ada sebabnya si, sekitar hampir 10 hari ini aku bobo tengah malam. Kalo nda nemenin curhat yang lagi galau..ya aku yang curhat.
Hemm..dan sekarang, aku mo curhat di sini. Aku mo lakuin “pengakuan dosa”, tentang kesalahanku yang nda bisa menjaga hati, tentang beberapa hal yang membuatku semakin galau (Oke ini mulai lebay..) Well…cerita dimulai saat aku udah merasa kesepian…mengutip tuit seorang temen cewe, “Beneran deh,kalo udah gini baru kerasa banget pengen punya pacar,butuh orang buat nyender sama mewek”. Itu kalo cewe, kalo cowo (kaya aku) mungkin punya teman untuk berbagai cerita sehari-hari, juga semacam motivasi eksternal saat harga diri ini mulai menipis. Apalagi sejak aku ma Ndut putus, mulai bingung mo cerita ma sapa, soal kantor, soal temen-temen, dan semuanya. Meski merasa hampa aku bisa handle waktu itu. Sampai tiba-tiba di sebuah jejaring sosial aku ketemu ma juniorku waktu kuliah. We’ve spend night with a chat, curhat tentang dia, tentang seseorang yang sedang ada di hatinya, tentang keluarga dan hampir semua yang ia rasakan saat itu. Pertama sih biasa aja, aku bisa menempatkan diri as a friends, as a brother, who wanna rise smile at her face
Cerita mulai berubah saat dia memintaku cerita. Seperti orang Gemini pada umumnya (mulai ngeles..hehehe) aku masih agak sulit bercerita, apalagi dia sempet aku anggap klien curhat aku. Yawda aku cerita soal Ndut, cerita basi si karena aku juga uda “lupa” ma Ndut, tapi entah mengapa aku tersihir atas respon cerdas dia saat aku cerita Ndut. Dari situ tiba-tiba aku merasa nyaman, lalu aku cerita tentang kesepianku dan here’s the stories goes. Tiba-tiba aku nda mau kehilangan dia, tiba-tiba saja aku ingin dia jadi separuh sayapku, menemaniku terbang, melukis langit. Fine… mungkin absurd. Tapi itu yang ku rasa. Aku sempet merenung, benarkah perasaan ini? Halal nda sih? Dan di saat yang sama beberapa temanku tahu soal ini.
Aku inget banget sabtu malam minggu lalu (25/12) aku “dihajar” teman-temanku di tuiter gara-gara tahu aku suka ma dia, aku menyebut dia First Lady (FL). Dan entah kebetulan atau nda, aku dan FL mulai “nyerempet bahaya”. Karena aku mulai bercerita tentang orang yang kusuka –who is she– meski tetep no mention. Hingga pada malam itu juga aku merasa kalo dia bisa mengerti apa yang aku rasa. Karena tiba-tiba dia meminta aku menyebutkan siapa my FL, bahkan DM (direct message) via twitter salah satu temenku buat nanyain itu. Karena aku n temenku na mo jawab, kayanya dia mulai ngambek, bahkan setelah itu, kami bertengkar cukup hebat melalui pesan singkat. Buat aku si itu hanya “gara-gara” aku nda mau cerita, tapi tampaknya buat dia lebih dari itu. Ini adalah pertanyaan yang mencari ketegasan hubungan. Dan ketika aku memilih diam, sebenarnya cukup wajar dia marah, hanya reaksi saat marah yang nda aku duga. Tiba-tiba saja dia pingin mengakhiri “hubungan” kami, pergi dari hidupku, kalo nda aku cegah, mungkin uda dari kemaren-kemarin dia ilang dari hidupku.
Sebenernya si aku mau-mau aja bilang, oke my FL is you, I luv you lady. But I thinks, it’s not as simple as that. First, aku tahu dia masih nunggu seseorang, meski aku juga merasa dia nda yakin ma dirinya, ma seseorang itu juga. Kedua, meski aku kenal dia sejak kuliah, kami tetap aja kami baru deket seminggu. Is too fast too say I luv u.. apalagi my FL sempet menanyakan keyakinanku soal perasaanku sendiri. Tapi ketika akunya merasa yakin, ganti dia yang bingung hahaha..
Dan dari situ dimulai semua, entah kenapa reaksinya saat marah benar-benar nda aku duga. Kaget banget. Sangat jauh berbeda saat dia “baik-baik” aja. Bahkan sempet menutup aksesku mengetahui kabarnya. Beberapa temenku sempet menyarankan agar aku sabar, agar aku bertahan dengan sikap dia, maklum anak bontot, pasti kemauannya keras. But, di sini aku terangkan, mungkin sakit rasanya kehilangan orang yang telah bikin kita nyaman, bikin kita setengah bergantung padanya. Sakit banget bahkan, tapi aku pernah ngerasain rasanya kehilangan orang yang paling berarti dalam hidup, panutan dan teladanku setelah Rasulullah, My lovely Dad, Alm Heru Subroto, and I still survive, even I’mnot cry when he’s gone, so… I will never cry for her. If she wanna leave me.. go on.. Mungkin aku sayang ma dia, dan aku akui aku berharap ma dia, tapi harapanku ke Tuhan-ku jauh, bahkan sangat jauh melebihi harapanku padanya. Aku akan berdoa demi dia, namun tetap aku ikhlas pada putusan Tuhanku.. mungkin Allah nda ngizinin aku pacaran lagi saat ini, Insya Allah kulo ikhlas Gusti… Thanks for protect me from all sins…
Yeah…aku ingin berdoa saat ini, mungkin belum saatnya aku ngomong langsung, tapi aku berdoa dia untukku, however, hak prerogatif ada di tangan-Nya. Kalo memang dia yang terbaik untukku pasti Allah memudahkan. Tapi kalo nda, rencana Allah lebih agung daripada yang diinginkan manusia, karena Allah selalu tahu apa yang baik bagi kita. Dan satu lagi… bukankah cinta nda akan pernah menyakitkan? Wallahu a’lam bi shawab
“Wahai penilai hati lihat batinku….
Nyaris bernanah karena luka tersayat…
Merana menantikan cinta dan kasih hidupku…
Rahasia itu hanya Kau yang tahu…
Namun aku tak mau jadi tuna cinta
Namun harus ku ikhlaskan semua kasih cintaku….
Padamu……”
Luv u All, like before, now, and ever...
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh






















