Beginikah Potret Manusia Indonesia Sesungguhnya?


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Well, this my first write in 2009. Hmm.. udah sekitar 20 hari aku nggak nulis, payah deh.. Gitu mo jadi penulis hehehe... Tapi mudah-mudahan ini bakal jadi awal yang baik buat tekadku itu.
Kemarin, 15 Januari 2009, pemerintah secara resmi memberlakukan harga baru BBM (Bahan Bakar Minyak) yang diturunkan kembali dari Rp. 5000,00 menjadi Rp. 4500,00 per liter-nya. Itu berarti dalam selang dua bulan ini pemerintah melalui presiden SBY telah dua kali menurunkan kembali harga BBM, setelah sempat melambung pada awal Desember kemarin menjadi Rp. 6000,00 per liter akibat meroketnya harg minyak dunia sampai menembus kisaran US $140-an per barel.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin. Matur nuwun Gusti, ternyata janji-Mu untuk terus bersama orang-orang yang sabar benar-benar terbukti. Bagaimana pun juga penurunan harga BBM ini mestinya akan memberikan efek domino yang baik bagi seluruh anak negeri ini. Lha wong kalo (harga) BBM naik aja, (harga) semua barang ikutan merambat naik, masak pas harga BBM turun, harga-harga yang tadinya naik masih keukeuh di atas? Kan nggak adil kalo kaya gitu...
Sayangnya...kita masih berada di Indonesia, negara yang konon masih tergolong negara dunia ketiga. Hehehe.. Buktinya salah satu induk organisasi yang mengurusi bidang angkutan umum di Jakarta (Organda) malah belum juga bersedia menurunkan tarif angkutan umumnya. Bahkan pemerintah, malalui menteri perhubungan sampai harus turun tangan untuk mendesak Organda agar segera munurunkan tarif angkutan umum. Presiden SBY pun sampai melakukan sidak (inspeksi mendadak) di beberapa terminal dan stasiun untuk mengecek apakah tarif angkutan telah turun kemarin.
DPP Organda beralasan bahwa penurunan BBM tidak serta merta bisa menurunkan tarif angkutan umum, karena menurut mereka variabel harga tersebut bukan hanya dari BBM tapi juga dari onderdil (spare part) kendaraan yang digunakan untuk perawatan serta harga beli kendaraan. Hmm..sebentar-sebentar. Kalo diamati sekilas, alasan tersebut memag masuk akal, tapi kok ada yang aneh ya? Oke, kita coba runut satu-satu. Pertama kalo memang BBM bukan satu-satunya variabel penentu besarnya tarif kendaraan umum, lalu mengapa ketika harga BBM naik Organda langsung berkoar sedang menghitung besarnya kenaikan tarif angkutan umum? Dan tak lama berselang kenaikan itu pun direalisasikan. Kedua, saat sekarang BBM telah turun, mengapa organda justru masih saja menimbang-nimbang apakah perlu menurunkan tarif angkutan? Yang lebih menjengkelkan malah menyatakan bahwa ada variabel onderdil dan variabel lain-lain yang “ternyata” ikut menentukan tarif angkutan. Padahal saat BBM naik “variabel-variabel” itu tidak disebutkan sama sekali. Lha kok aneh? Kok nggak konsisten? Apa kata dunia? Inikah potret manusia Indonesia sesungguhnya? Kalo ngerasa udah enak di atas ogah turun lagi demi kepentingan bersama?
Padahal saat ini ibu pertiwi sedang menangis sedih karena ulah anak-anaknya terhadap bumi Indonesia. Bayangin aja, mulai dari wakil rakyat yang korupsi, pejabat pemerintah yang nilep duit rakyat, hingga rakyat jelata yang ribut dan bersikap anakhis “hanya” karena jagonya nggak menang di Pilkada ato “cuma” karena tim bola kesayangannya kalah. Apa nggak sedih tuh mother nature kita ngelihat yang kaya gitu? Inikah potret manusia Indonesia sesungguhnya?
Satu lagi yang sempat menggelitik dalam benakku. Entah apa yang dipikirin Presiden SBY andai saja sang RI 1 menonton liputan 6 pagi dua hari lalu. Berita pagi dari salah satu televisi swasta tersebut memuat salah satu berita di daerah Medan. Isinya, para supir bis dan angkutan umum (angkutan umum lagi....) merasa khawatir dan mengeluh bila pemeritah benar-benar menurunkan kembali harga BBM (Loh???!) Pasalnya para sopir tersebut takut kalo BBM turun maka akan terjadi kelangkaan seperti yang terjadi sebelumnya. Wah...wah... Inikah potret manusia Indonesia sesungguhnya? Ketika pemerintah menaikkan harga BBM, banyak yang protes, banyak yang mengeluh, bahkan ada beberapa aksi anarkhis. Namun saat harga BBM turun, lha kok mengeluh??? Lha terus pemerintah harus ngapain dul? Dasar! Bukankah akan jauh lebih baik kalo kita bersyukur? Berterima kasih pada Allah SWT karena Ia telah membuka mata hati para pemimpin kita? Itu jauh lebih menentramkan dari pada mengeluh dan mengeluh. Inikah potret manusia Indonesia sesungguhnya? Waallua’lam bi showab

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Diberdayakan oleh Blogger.