|
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Di saat waktu berhenti...kosong...
Dimensi membutakan mata
Memekakkan telinga...
Lalu diri menjadi hampa
Saat paradigma dunia
Tak lagi digunakan untuk menerka
Sadarku akan hadir-Mu
Mematahkan sendi-sendi yang biasanya tegak berdiri
By: Dian Sastrowardoyo
Di saat waktu berhenti...kosong...
Dimensi membutakan mata
Memekakkan telinga...
Lalu diri menjadi hampa
Saat paradigma dunia
Tak lagi digunakan untuk menerka
Sadarku akan hadir-Mu
Mematahkan sendi-sendi yang biasanya tegak berdiri
By: Dian Sastrowardoyo
Alhamdulillahirabbila’lamiin, mungkin juga Astaghfirullahaladzim... Dua kalimat itu yang mungkin aku ucapkan saat ini. Tahmid terucap manakala sekarang aku mendapatkan kembali semangatku yang sempat luntur beberapa hari belakangan. Semangat yang kan terus mengobarkan api perjuangan di mataku, seolah berkata akan ku tempuh segala macam takdir yang telah disiapkan-Nya untukku. Akan ku gariskan takdirku sendiri di bawah naungan-Nya. Sementara istighfar terpanjatkan saat ku merasa kecewa atas diriku sendiri, yang kurang sabar dalam bersikap, yang masih terbawa nafsu ketika menghadapi ujian. Padahal Allah selalu dan selalu menuturkan dengan kasih sayang-Nya.
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (Q. S. Al Baqarah: 153)
Sungguh Allah adalah Dzat yang selalu menepati janji. Dan ungkapan itu terbukti saat kesabaran yang bila saja saat itu mampu ku capai, aku akan lebih dimudahkan oleh Allah. Sayangnya aku belum bisa mencapai derajat sabar yang Allah kehendaki. Sedih, kecewa, dan malu sudah menjadi konsekuensi logis seorang hamba yang merasa telah menjauhi Tuhannya. Dan saat itulah mungkin kita akan berkata, “Andai waktu dapat aku putar kembali”. Secara psikologis, beberapa orang, mungkin seperti aku juga akan berkhayal seolah waktu bisa terulang, sebuah defend mechanism yang sangat menyakitkan. Mekanisme pertahanan diri yang membuat kita menjadi manusia pelarian, escapist, yang memilih lari dari kenyataan untuk menghindari rasa tak nyaman tersebut.
Takbir Allahu Akbar, mungkin adalah penyejuk yang memungkinkan aku kembali ke alam nyata. It’s time to face the truth. Ketika aku menyadari kesalahanku, aku kecewa akan diriku sendiri dan aku berniat memperbaikinya di masa mendatang. Saat itulah aku menyadari that’s the truth! Keinginan itulah yang menghindarkanku dari pelarian ke alam maya. Dari seorang escapist menjadi seorang realist. Penyesalan memang akan selalu datang di akhir, namun yang lebih baik adalah menyadari bahwa penyesalan tersebut adalah bukti bahwa kita adalah manusia biasa yang tak sempurna. Setelah itu, kita jadikan penyesalan tersebut sebagai batu loncatan tuk meraih yang kita harapkan. Karena sekali lagi, penyesuaian diri yang baik terhadap keadaan lingkungan bukanlah melalui mekanisme pertahanan diri apapun, namun melalui kontrol diri, perspektif yang akurat terhadap realita, serta melalui perencanaan yang matang nan cerdas.
Manusia, berbagai macam bentuk dan tipenya adalah makhluk yang super kompleks. Manusia memiliki akal sekaligus nafsu yang memungkinkan ia menjadi malaikat nan luhur hingga setan yang bergentayangan di dunia. David Hume menyatakan homo homini lopus, manusia adalah serigala bagi yang lain. Pendapat zaman baheula itu semin hari semakin menjadi kenyataan. Di negara kita saja, sering kita lihat, dengar bahkan mungkin rasakan bahwa meski sebangsa dan setanah air, kalau perlu senasib sepenanggungan, juga adalah serigala bagi yang lain. Pemimpinnya apa lagi, kalau terus-terusan menaikkan BBM hingga mencekik leher rakyat yang semaikn sesak nafas, bisa jadi ia adalah bos geng serigala itu. Nudzubillahi min dzalik!!
Manusia ternyata juga homo religious. Manusia adalah makhluk yang mengenal Tuhan sebagai kekuatan yang lebih dahsyat dibanding manusia itu sendiri. Kenyataan yang demikian itulah yang menjadikan serigala-serigala berkaki dua tersebut akan mengingat Tuhan-Nya meski mungkin hanya saat arus kehidupan mereka bertarung dengan karang yang terjal. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa jenis manusia yang mengaku ber-Tuhan terkadang malah ingat Sang Tuhan kala ia sedang berada dalam kesulitan dan membutuh ‘someone’ to help. Seolah mereka butuh Tuhan karena adanya asas manfaat. Ketika butuh Tuhan, mereka mencari dan mohon pada Tuhannya, namun ketika sudah merasa nyaman sendiri, Tuhan seolah halal untuk dilupakan. Yang ini juga Nudzubillahi min dzalik!!
Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa (QS. Fushshilat: 51)
Hanya saja kalau mau jujur, aku justru bingung dengan diriku sendiri. Aku merasa seolah-olah aku adalah tipe orang nyeleneh, setidaknya bagi manusia kebanyakan. Saat Allah melimpahiku dengan nikmat dan memberikan semua kesenangan untukku, seolah berjuta rasa syukur ingin terucap oleh tiap sel tubuhku. Tak jarang aku melayang ke langit tujuh, tubuh terasa ringan, senyum yang tak berhenti mengembang, dan mimpi yang seolah datang lalu turut serta ke langit harapan. Sebaliknya, saat Allah mencoba dengan sedikit ujian, tiba-tiba saja tubuh ini berat, seolah otak telah dijejali batuan-batuan asteroid yang berintikan masalah duniawi. Akibatnya fatal, pekerjaan di dunia semrawut, ibadah semakin nggak jelas, meski secara kuantitas terjaga tapi secara kualitas mengenaskan. Hhh... Entahlah aku memang masih bandel, dan mungkin karena bandel jualah Allah sering ‘menggodaku’ supaya aku jera dan nggak bandel lagi. Sebab Allah pasti tahu bahwa tak secuil biji zahra pun terlintas keraguan dalam raga dan sukma ini atas ke-Maha Agung-an, dan Maha Segalanya yang hanya milik-Nya. Dan aku yakin, Allah selalu menuntunkan jalan takdir yang terbaik bagiku, seorang hamba yang begitu mempercayai-Nya meski kadang masih susah untuk diatur
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


