|
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Alhamdulillahirabbil’alamiin… Terima kasih ya Allah atas nikmat-Mu hingga detik ini. Shalawat dan salam juga ku bingkiskan spesial buat teladanku (Insya Allah) Rosulullah Muhammad SAW.
Well, ngelanjutin posting kemarin tentang Sang Mantan (yang Bukan) Terindah, tapi sebelumnya aku garis tegaskan lagi kalo posting ini nda bermaksud membuka luka lama ato mengorek-orek (dari kata dasar: KOREK hehehe) cerita yang uda basi. Posting ini hanya artikel busuk yang mencoba menyentuh hal-hal yang sifatnya manusiawi, dan mungkin dialami oleh bebrapa atau banyak di antara kita. Jadi nda dibuat untuk mendiskreditkan (bahasanya…) apalagi menyinggung salah satu, salah dua atau salah semua pihak. (Huff.. sori agak emosi, maklum aku kan ekspresif, kalo nda percaya liat aja postingan ini hehe…). Oke, ampe mana kemaren? Oia ampe copas status Pak Mario ya, aku ulangi lagi ya sedikit. Kata Pak Mario adalah,
Now, selain posting pak Mario di atas, aku juga sempet menuliskan satu keyword tentang “mantan”. The keyword is GRATEFULL. a.k.a BERSYUKUR. Yuph! That’s right my bro n my sist, bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini adalah kata-kata yang dahsyat, super, mantab.
Dengan bersyukur, kita memberikan peluang pada diri untuk meringankan beban setelah putus dan memiliki mantan “baru”, dengan bersyukur pula kita akan mengundang kebahagiaan yang mungkin sempat terlepas dari kita saat kita “punya” mantan “baru”. Sehingga pada akhirnya ketika kita punya pasangan baru lagi, yang tentu saja berbeda dengan sang mantan kita sebelumnya, kita akan menjadi pribadi yang sangat menghargai keberadaan pasangan kita, tidak akan ada lagi acara-acara membandingkan antara pasangan kita dengan mantan. Nggak ada lagi kalimat seperti ini, “kamu tuh mirip mantan aku deh” ato mungkin ungkapan klise, “kamu ko sama ya kaya mantanku”. Cuih!! Kebayangkan gimana perasaan pasangan kita kalo ngedenger ungkapan jujur n polos tapi tak beradab seperti ini????? (sabar mas…sabar…) Apalagi kalo kita tega nyanyiin lagunya Padi sekalian,
Engkau…seperti kekasihku yang dulu…
Sungguh…hadirmu menyejukkan risau jiwaku
Memang gerakmu..memang langkahmu..
Mengingatkan aku pada dirinya yang telah berlalu
Inginku menyangkal.. Inginku membantah
Betapa pesona dirimu memikat erat jiwaku..
Mantab bener penderitaan pasangan kita ya? Udah jatuh ditimpain tangga dilempar durian lagi. Senista itukah kita? Errr…sori..sori..dari tadi bahasanya dramatis banget ya? Kaya sinetron Indonesia jadinya. Honestly, aku pribadi nda pernah merasa dibanding-bandingin ma mantan pacar pasanganku saat ini (walo mungkin bahasa yang lebih tepat adalah aku ndak pernah terasa kalo dibandingin…lha wong aku ini termasuk bebal dan stubborn) jadi tulisan ini dibuat sebagai bentuk empati (ceileeee) pada temen-temen ato siapa pun yang pernah merasakan kondisi seperti ini, maklum sarjana psikologi (Silahkan lempar sandal ato apapun yang anda mau…tapi…pelan-pelan yaaaaa).
Fine, mungkin terkadang kita tanpa sadar mengucapkan kalimat perbandingan tersebut, kita nda bermaksud ko untuk melukai hati pasangan. Yah..aku bisa ngerti itu, tapi tahukah kita bahwa terkadang apa yang diucapkan seseorang, yang bahkan tanpa sadar terucap itu adalah ungkapan paling jujur dari dalam lubuk hatinya? Yang meski pun kita tidak ingin ucapan paling-jujur-dari-dalam-lubuk-hati itu melukai pasangan kita, toh kenyataanya? Dia pasti ngerasa terluka minimal tersinggunglah (nawar ceritanya). Kira-kira kenapa coba kita bisa terucap kalimat perbandingan seperti itu? (Tanya kenapa??) dilakukannya tanpa sadar lagi? Bisa jadi karena dalam lubuk hati yang terdalam kita masih mengharapkan “kehadiran” sang mantan dalam raga yang baru –pasangan kita saat ini maksudnya– Jadi, kesimpulannya adalah,
Fine, mungkin terkadang kita tanpa sadar mengucapkan kalimat perbandingan tersebut, kita nda bermaksud ko untuk melukai hati pasangan. Yah..aku bisa ngerti itu, tapi tahukah kita bahwa terkadang apa yang diucapkan seseorang, yang bahkan tanpa sadar terucap itu adalah ungkapan paling jujur dari dalam lubuk hatinya? Yang meski pun kita tidak ingin ucapan paling-jujur-dari-dalam-lubuk-hati itu melukai pasangan kita, toh kenyataanya? Dia pasti ngerasa terluka minimal tersinggunglah (nawar ceritanya). Kira-kira kenapa coba kita bisa terucap kalimat perbandingan seperti itu? (Tanya kenapa??) dilakukannya tanpa sadar lagi? Bisa jadi karena dalam lubuk hati yang terdalam kita masih mengharapkan “kehadiran” sang mantan dalam raga yang baru –pasangan kita saat ini maksudnya– Jadi, kesimpulannya adalah,
Damailah dalam masa depan baru dengannya, ingat, MASA DEPAN BARU!!. Yuph! Kehidupan kita saat ini dengan pasangan yang sekarang pada dasarnya adalah masa depan yang telah kita rencanakan dengannya, Bukankah begitu? (Bukaaan!!!) kecuali bila ada yang berencana cari pasangan lagi itu laen cerita (but it isn’t recommended) so, kalaupun ada kesamaan antara pasangan dengan mantan yakinlah dalam hati kita bahwa kesamaan terebut adalah jawaban atas doa kita dari-Nya. Karena Ia tahu bahwa kita akan nyaman dengan kondisi tertentu.
Lah, terus gimana nasib yang masih jomblowers? Tetep bersyukur? Yaph! TETAP BERSYUKUR. sodaraku. Mengutip pernyataan Pak Mario bahwa Allah tidak pernah berkonspirasi dengan malaikat untuk menjatuhkan kita, agar kita menjadi lebih buruk, Tidak! Allah nda seperti itu kok. Allah selalu ingin hamba-Nya mendapatkan nilai sempurna dalam segala hal. Bukankah kita adalah sebaik-baik makhluk? (Bukaaaaaann!!!)
So buat jomblowers yang ditinggal mantan, baru punya mantan ato lagi inget-inget mantan, I’m available, sori ngaco. Syukuri atas kondisi kita saat ini, syukuri waktu, tenaga, pikiran, materi yang bisa kita curahkan sepenuhnya bagi kehidupan besar diri kita sendiri. Syukuri kita bisa fokus mengejar mimpi, menggapai cita-cita, membangun kerajaan bisnis kita sendiri, tanpa ada yang –ehem– mengganggu konsentrasi kita. Dan ini yang lebih powerfull,
Kita bisa fokus dalam rangka membesarkan diri kita agar lebih hebat lagi sehingga hasilnya kita jadi lebih baik dalam pekerjaan, dalam belajar, menjadi pribadi yang lebih kaya, lebih mapan, lebih panda,i lebih tampan maupun lebih cantik dari sebelumnya.
Hingga tiba waktu kelak, kita tidak perlu lagi mencari calon pasangan yang mau menerima kita saat kita ingin menanggalkan status jomblower kita karena justru kita akan dicari-cari, didambakan, dan diinginkan oleh para wanita maupun pria yang telah lama mengantri untuk mendapatkan hati kita. Waow….Luar biasa kan? Jadi, last statement is:










































