|
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Alhamdulillah....Terima kasih ya Allah...Matur nuwun Gusti.....Sore ini hanya itu yang bisa aku ucapkan. Jujur, terkadang aku merasa ungkapan syukurku baru pada taraf ucapan dan hati, belum ampe tindakan. Makanya itu, aku harus melatih lisanku terus untuk nggak cape bersyukur, mengatakan Alhamdulillah, seraya berusaha agar syukur itu termanifestasi melalui perbuatan. Amiin.
Aku baru aja selesai out bound sekitar 2 hari yang lalu. Kali ini di bawah bendera RBS. Jadi kalo diinget, ya...selama dua bulan ini aku kerja untuk tiga tim, MMK di awal April, DOBT di akhir April, dan RBS di pertengahan Mei. Alhamdulillah....malah akhir Mei ini RBS dan MMK bakal ada event yang sama. Mampus aku, mana dua-duanya waktunya hampir sama banget lagi. Kayanya aku harus memilih kali ini. Yaa..meski aku telah menentukan pilihanku saat ini. Karena aku punya “jabatan” di MMK ya...aku harus memenuhi tanggung jawabku itu (gaya banget nggak sih? Hehehe...)
Out bound kemarin...hmm..jadi kaya evaluasi nih. It’s okey-lah demi kebaikan bersama ini. Aku ngerasa beberapa hal, terlalu banyak cerita untuk dibagi, tentang aku, tentang RBS, tentang tim dengan Bu Frieda sebagai supervisor kami, tentang peserta, juga tentang lokasi dan penduduk sekitarnya. Banyak banget ya? Ada berapa bagian? 5 episode sendiri sebenarnya bisa
Oke, nggak enak ngomongin orang lain sebelum kita introspeksi, kata orang bijak sih gitu. Biarpun aku juga nggak ngerti orang bijak mana yang ngomong gitu ya?? Let’s start from myself. Pas out bound kemarin, seperti biasa ada buanyaaaaaaak banget hal baru yang sama sekali tak terduga, yang mau nggak mau memberi warna baru dalam sejarah hidup seorang Rakhmad Herdiawansyah Terakhir out bound ma DOBT akhir April lalu, untuk pertama kalinya aku out bound dengan dihajar hujan badai di lapangan. Alhamdulillah meski basah buanget, aku tetep sehat ampe pulang ke Semarang. Nah pas out bound di Salatiga ma RBS n Bu Frieda kemarin, kita melakukan hal gila yang mungkin nggak dilakukan oleh tim out bound dan trainer mana pun. Gimana nggak gila kalo kita out bound dikelilingi kuburan kuno yang dikeramatkan ma penduduk sekitar? Pantes aja aku heran melihat reaksi penduduk manakala mereka melewati venue kita. Semuanya, semua penduduk aku ulangi, berpesan dengan sangat serius (bahkan ada yang menampakkan wajah ketakutan) agar kami berhati-hati. Dan itu terjadi pasa semua penduduk yang lewat lokasi kami. Ternyata...biarpun aku seorang sarjana Psikologi, aku juga bisa dikategorikan sebagai orang gila. Masya Allah.....
Itu sekalian merangkum bagian 5 tentang lokasi dan penduduk sekitar out bound. Hehehe. Selain aku sadar kalo aku juga ikutan gila di RBS, aku ngerasa banyak belajar selama di lapangan. Aku belajar untuk tetap tegar, tetap fokus pada kerjaan, dan tetap melakukan yang terbaik apapun yang terjadi. Di lapangan kemarin aku banyak mengeluh, terlebih ma Binsar, gara-gara aku merasa alur komunikasi kita nggak jelas, jadwal simpang siur, nggak ada kepastian di banyak hal, n etcetra-etcetra. Tapi toh aku harus tetep maju dan jalanin semua itu. Alhamdulillah...aku mampu..meski sempet sedih juga karena ada beberapa kondisi yang bikin aku down. Malah setelah event Binsar ngaku kalo sebenarnya saat itu dia juga down n hanya bisa mengandalkan aku. Lah kok? Wong aku aja ngeluh mulu ma Binsar?.
Terus terang sejak awal aku merasa tim out bound kali ini belum punya pondasi yang kuat. Kami baru kembali bersama setelah lebih dari setahun kami berkerja bareng, tepatnya Maret 2008. Itu event RBS terakhir, setelah itu vakum ampe kemarin. Jelas koordinasi dan komunikasi belum lancar dan padu kembali. Dan ternyata masalah koordinasi itulah yang menjadi inti yang sebenarnya harus kami selesaikan dahulu. Karena koordinasi yang buruk mengakbatkan banyak miss saat di lapangan. Hanya karena kami rata-rata telah berpengalaman di out bound serta telah mengenal satu sama lain secara personal yang membuat kami bisa melalui semua. Itu soal RBS dan aku. Soal kerja sama dengan Bu Frieda lain lagi.
Logikanya ketika dalam tim RBS aja koordinasi belum solid n terancang dengan baik, apalagi dengan klien, yang notabene adalah Bu Frieda n tim. Bahkan pada malam menjelang out bound pak Pri, asisten bu Frieda sempet menunjukkan rasa kecewanya atas kesimpang siuran informasi yang didapat dari RBS. Dia merujuk pada informasi yang diberikan mas Tomy sebagai General Affair RBS, masalahnya informasi tersebut ternyata nggak nyampe ama kita. Jadi ya kita hanya bisa bengong manakala pak Pri ngomel banyak hal. Aku cuma berusaha menenangkan beliau pada akhirnya. Paling tidak, beliau nantinya masih mau kerja ma RBS.
Alhamdulillah-nya, out bound kita nggak mengecewakan, meski pada akhirnya kita cukup banyak pengeluaran (yang berimbas pada gajiku...hiks...). Bu Frieda bahkan mengucapkan banyak terima kasih dan begitu pula temen-temen yang lain. Satu hal penting yang cukup mengganjal dan ingin aku ungkapkan adalah...soal klien yang memakai jasa kami (Bu Frieda+RBS). Terkisah, sebuah instansi pemerintahan tingkat propinsi adalah klien kami, tujuannya untuk membekali para peserta out bound yang akan diikutkan pada lomba antar propinsi se-Indonesia Raya dengan materi-materi Psikologis. Yang menyedihkan adalah...anggaranya bo! Bukannya minim, aku pikir pemerintah sudah cukup fair dengan menganggarkan dari APBN atau APBD, eh ndilalah di lapangan anggaran itu kok ditilep sendiri. Itu dilakukan tanpa malu-malu lagi! Secara terang-terangan mereka meminta tanda tangan kami para trainer untuk laporan gaji mereka. Pada laporan itu tertulis bahwa profesional fee kami bekisar antara 1 juta – 4 juta rupiah, tergantung posisi masing-masing, padahal yang diberikan jauhhhh banget dari angka tersebut. Sisanya mana?????? Itu juga baru profesional fee, belum yang lain...Ups! jadi su’udzon... tapi lha wong kenyataannya seperti itu. Dan instansi yang bersangkutan seolah bermuka badak dalam melakukan itu, masak aku harus-malu-malu ceritain itu? Cerita yang sebenarnya memprihatinkan namun dianggap biasa karena telah jadi rahasia umum? Mau dibawa kemana negeri ini nantinya? Naudzubillahi min dzalik...Moga aku nggak terjerumus ke dalam hal-hal yang seperti itu....
Aku pun banyak belajar dari kejadian itu serta out bound kemarin. Aku juga mulai sadar kalo aku udah terlalu money oriented. Padahal rizqi Allah bukan semata-mata duit dan materi. Aku diingatkan Allah akan apa yang aku tulis sendiri. Tentang cita-cita luhur, tentang idealisme, dan tentang melakukan karya yang terbaik selama masih hidup di muka bumi ini, semata-mata demi mengharap ridho Allah semata. Alhamdulillah... Terima Kasih Ya Allah.....Matur Nuwun Gusti....
Wallahua’lam bi showab
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Aku baru aja selesai out bound sekitar 2 hari yang lalu. Kali ini di bawah bendera RBS. Jadi kalo diinget, ya...selama dua bulan ini aku kerja untuk tiga tim, MMK di awal April, DOBT di akhir April, dan RBS di pertengahan Mei. Alhamdulillah....malah akhir Mei ini RBS dan MMK bakal ada event yang sama. Mampus aku, mana dua-duanya waktunya hampir sama banget lagi. Kayanya aku harus memilih kali ini. Yaa..meski aku telah menentukan pilihanku saat ini. Karena aku punya “jabatan” di MMK ya...aku harus memenuhi tanggung jawabku itu (gaya banget nggak sih? Hehehe...)
Out bound kemarin...hmm..jadi kaya evaluasi nih. It’s okey-lah demi kebaikan bersama ini. Aku ngerasa beberapa hal, terlalu banyak cerita untuk dibagi, tentang aku, tentang RBS, tentang tim dengan Bu Frieda sebagai supervisor kami, tentang peserta, juga tentang lokasi dan penduduk sekitarnya. Banyak banget ya? Ada berapa bagian? 5 episode sendiri sebenarnya bisa
Oke, nggak enak ngomongin orang lain sebelum kita introspeksi, kata orang bijak sih gitu. Biarpun aku juga nggak ngerti orang bijak mana yang ngomong gitu ya?? Let’s start from myself. Pas out bound kemarin, seperti biasa ada buanyaaaaaaak banget hal baru yang sama sekali tak terduga, yang mau nggak mau memberi warna baru dalam sejarah hidup seorang Rakhmad Herdiawansyah Terakhir out bound ma DOBT akhir April lalu, untuk pertama kalinya aku out bound dengan dihajar hujan badai di lapangan. Alhamdulillah meski basah buanget, aku tetep sehat ampe pulang ke Semarang. Nah pas out bound di Salatiga ma RBS n Bu Frieda kemarin, kita melakukan hal gila yang mungkin nggak dilakukan oleh tim out bound dan trainer mana pun. Gimana nggak gila kalo kita out bound dikelilingi kuburan kuno yang dikeramatkan ma penduduk sekitar? Pantes aja aku heran melihat reaksi penduduk manakala mereka melewati venue kita. Semuanya, semua penduduk aku ulangi, berpesan dengan sangat serius (bahkan ada yang menampakkan wajah ketakutan) agar kami berhati-hati. Dan itu terjadi pasa semua penduduk yang lewat lokasi kami. Ternyata...biarpun aku seorang sarjana Psikologi, aku juga bisa dikategorikan sebagai orang gila. Masya Allah.....
Itu sekalian merangkum bagian 5 tentang lokasi dan penduduk sekitar out bound. Hehehe. Selain aku sadar kalo aku juga ikutan gila di RBS, aku ngerasa banyak belajar selama di lapangan. Aku belajar untuk tetap tegar, tetap fokus pada kerjaan, dan tetap melakukan yang terbaik apapun yang terjadi. Di lapangan kemarin aku banyak mengeluh, terlebih ma Binsar, gara-gara aku merasa alur komunikasi kita nggak jelas, jadwal simpang siur, nggak ada kepastian di banyak hal, n etcetra-etcetra. Tapi toh aku harus tetep maju dan jalanin semua itu. Alhamdulillah...aku mampu..meski sempet sedih juga karena ada beberapa kondisi yang bikin aku down. Malah setelah event Binsar ngaku kalo sebenarnya saat itu dia juga down n hanya bisa mengandalkan aku. Lah kok? Wong aku aja ngeluh mulu ma Binsar?.
Terus terang sejak awal aku merasa tim out bound kali ini belum punya pondasi yang kuat. Kami baru kembali bersama setelah lebih dari setahun kami berkerja bareng, tepatnya Maret 2008. Itu event RBS terakhir, setelah itu vakum ampe kemarin. Jelas koordinasi dan komunikasi belum lancar dan padu kembali. Dan ternyata masalah koordinasi itulah yang menjadi inti yang sebenarnya harus kami selesaikan dahulu. Karena koordinasi yang buruk mengakbatkan banyak miss saat di lapangan. Hanya karena kami rata-rata telah berpengalaman di out bound serta telah mengenal satu sama lain secara personal yang membuat kami bisa melalui semua. Itu soal RBS dan aku. Soal kerja sama dengan Bu Frieda lain lagi.
Logikanya ketika dalam tim RBS aja koordinasi belum solid n terancang dengan baik, apalagi dengan klien, yang notabene adalah Bu Frieda n tim. Bahkan pada malam menjelang out bound pak Pri, asisten bu Frieda sempet menunjukkan rasa kecewanya atas kesimpang siuran informasi yang didapat dari RBS. Dia merujuk pada informasi yang diberikan mas Tomy sebagai General Affair RBS, masalahnya informasi tersebut ternyata nggak nyampe ama kita. Jadi ya kita hanya bisa bengong manakala pak Pri ngomel banyak hal. Aku cuma berusaha menenangkan beliau pada akhirnya. Paling tidak, beliau nantinya masih mau kerja ma RBS.
Alhamdulillah-nya, out bound kita nggak mengecewakan, meski pada akhirnya kita cukup banyak pengeluaran (yang berimbas pada gajiku...hiks...). Bu Frieda bahkan mengucapkan banyak terima kasih dan begitu pula temen-temen yang lain. Satu hal penting yang cukup mengganjal dan ingin aku ungkapkan adalah...soal klien yang memakai jasa kami (Bu Frieda+RBS). Terkisah, sebuah instansi pemerintahan tingkat propinsi adalah klien kami, tujuannya untuk membekali para peserta out bound yang akan diikutkan pada lomba antar propinsi se-Indonesia Raya dengan materi-materi Psikologis. Yang menyedihkan adalah...anggaranya bo! Bukannya minim, aku pikir pemerintah sudah cukup fair dengan menganggarkan dari APBN atau APBD, eh ndilalah di lapangan anggaran itu kok ditilep sendiri. Itu dilakukan tanpa malu-malu lagi! Secara terang-terangan mereka meminta tanda tangan kami para trainer untuk laporan gaji mereka. Pada laporan itu tertulis bahwa profesional fee kami bekisar antara 1 juta – 4 juta rupiah, tergantung posisi masing-masing, padahal yang diberikan jauhhhh banget dari angka tersebut. Sisanya mana?????? Itu juga baru profesional fee, belum yang lain...Ups! jadi su’udzon... tapi lha wong kenyataannya seperti itu. Dan instansi yang bersangkutan seolah bermuka badak dalam melakukan itu, masak aku harus-malu-malu ceritain itu? Cerita yang sebenarnya memprihatinkan namun dianggap biasa karena telah jadi rahasia umum? Mau dibawa kemana negeri ini nantinya? Naudzubillahi min dzalik...Moga aku nggak terjerumus ke dalam hal-hal yang seperti itu....
Aku pun banyak belajar dari kejadian itu serta out bound kemarin. Aku juga mulai sadar kalo aku udah terlalu money oriented. Padahal rizqi Allah bukan semata-mata duit dan materi. Aku diingatkan Allah akan apa yang aku tulis sendiri. Tentang cita-cita luhur, tentang idealisme, dan tentang melakukan karya yang terbaik selama masih hidup di muka bumi ini, semata-mata demi mengharap ridho Allah semata. Alhamdulillah... Terima Kasih Ya Allah.....Matur Nuwun Gusti....
Wallahua’lam bi showab
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


