Sebuah Idealisme yang Tak Lekang oleh Waktu

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

In my dreams I always see you soar above the sky...
In my heart there always be a place for you...for all my life..
I’ll keep a part of you with me...And everywhere I am
There you’ll be.....
“There You’ll Be” by Faith Hill

Now I wanna talk about my dad. Udah lebih 2 tahun yang lalu saat beliau pergi meninggalkan kami semua. Kembali ke hadirat-Nya. Banyak yang terjadi selama dua tahun itu, tapi rasanya aku nggak ingin berhenti bersyukur. Allah memang Sang Maha Segalanya. Yah..kalo dipikir-pikir secara logika, aku sangat takut saat menemani bapak pada saat detik-detik menjelang kepergian beliau. Aku takut ga bisa survive. Namun Allah berkehendak lain. Memang seluruh kehidupan manusia ini terlah tertulis dalam Lauful Mahfudz, dan lewat tulisan agung ciptaan-Nya itulah takdir manusia bahkan mungkin seluruh makhluk di alam semesta ini digariskan. Tapi siapa yang menyangka bahwa apa yang tertulis pada Lauful Mahfudz adalah takdir yang terbaik dari semua yang terbaik yang diberikan Allah pada hamba-Nya??? Subahanallah
Well, setelah dua tahun lebih ini banyak peristiwa dan pengalaman yang menyadarkan aku, membuka mataku atas kebesaran-Nya, serta atas apa yang bapak wariskan padaku. Bapak nggak mewariskan harta duniawi yang melimpah padaku – yaa..kecuali beberapa barang yang sempet bapak beliin buatku, yang Insya Allah kagak mau aku pindah tangankan, kecuali ke anakku nantinya  – hanya saja aku merasa warisan bapak adalah warisan yang sangat berharga melebihi harta dunia yang hanya akan mampu dirasakan saat kita masih bernyawa.
Aku masih merasa bapak selalu ada di dekatku hingga saat ini, oke aku tahu kalo itu agak konyol, tapi bolehlah aku sedikit mencurahkan perasaan. Aku merasa seolah bapak belum meninggalkan kami semua, makanya kadang aku nggak pernah mau menambahkan kata “almarhum” ketika membicarakan bapak. Yah...anggap aja itu hanya ungkapan cinta seorang anak pada ayahnya  abisnya, bapak itu orangnya melas kalo ngomong ato berperilaku yang sentimentil hehe...sori dad....
Oke, kembali ke masalah warisan. Bapak bukan orang kaya yang banyak memberiku harta duniawi setelah beliau meninggal. Makanya ampe sekarang aku belum bisa nyetir mobil, soalnya biarpun bisa nyetir bapak kagak sempet punya mobil selama beliau hidup hehe.. Tapi meskipun demikian keaadannya aku masih punya harta yang jauh lebih berharga. Bapak mewariskanku Iman dan ketaatan pada-Nya. Bapak tergolong orang awam dalam masalah agama, bahkan beliau ga bisa baca huruf Arab, tapi semangatnya untuk mengbdi pada-Nya telah mengalir di setiap darahnya. Aku bahkan masih ingat nasehat beliau untuk menomor satukan agama Islam dan ibadah pada-Nya lebih dari apapun dan siapapun. Aku juga bersyukur menjadi darah daging beliau.
Satu lagi yang merupakan warisan bapak yang luar biasa. Bapak lahir dari keluarga yang pas-pasan kalo nggak dibilang miskin. Karena itu sejak kecil bapak sering “dititipkan” ama saudara-saudara mbah yang lain. Selain itu bapak adalah orang yang mandiri, makanya bapak bisa masak, mengurus rumah dan sebagainya. Ketika kecil bapak termasuk siswa yang cerdas, aku juga pernah melihat piagam penghargaan dari sekolah sebagai bintang kelas saat bapak SD hingga SMU. Subhanallah. Mungkin karena tergolong murid yang cerdas inilah bapak juga termasuk tipe orang yang idealis. Idealisme bapak membumbug setinggi langit, namun mungkin karena keadaan ya...saat ini idealisme itu belum terwujud. Aku bahkan sempat berpikir nakal, kalo bapak nggak idealis, mungkin di kantor bakalan sering dapet “proyek” hehehe... tapi bapak merasa lebih baik miskin tapi jujur, tapi tetap bermartabat di mata Allah, karena Insya Allah dengan kejujuran itu rizki yang kita dapat adalah rizki yang barokah.
Idealisme bapak pernah juga beliau ungkapkan padaku, pada adikku satu-satunya. Tampaknya pun, adikku ngerti benar keinginan idealis bapak itu. Entah kapan, yang jelas aku udah cukup gedhe waktu bapak bilang kalo bapak ingin anak-anaknya setelah menempuh dunia kerja bukan lagi menjadi pencari kerja, tapi bapak ingin anak-anaknya menciptakan lapangan kerja. Karena manfaat yang didapatkan bisa lebih berlipat, selain tentu saja materi, dengan menciptakan lapangan kerja artinya memberikan kesempatan orang lain untuk bekerja, mencari nafkah, dan menghidupi keluarga. Bayangkan! Secara nggak langsung, nasib dan kehidupan banyak orang ada di tangan kita, itu artinya amanah yang besar. Bila amanah itu bisa kita laksanakan, bayangkan aja sendiri pahala yang kita dapatkan kelak. Gimana pun juga Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui.
Idealisme bapak itulah yang jadi salah satu pegangan hidupku, bahkan telah jadi idealismeku juga. Aku ingin bermanfaat bagi banyak orang dengan cara yang luar biasa. Cara yang bapak ajarkan padaku. Dan kayanya aku bukan satu-satunya anak bapak yang berpikiran seperti itu. Adikku satu-satunya, meski saat ini masih sekolah bahkan pernah bilang baru-baru ini. Dia juga ingin melanjutkan idealisme bapak, dia iangin membuat lapangan kerja dan bukannya mencari kerja. Well...bahkan sebuah idealisme yang masih ada di dunia ide dan belum sepenuhnya nyata masih bisa lestari dan tak lekang oleh waktu, bahkan oleh kematian  Subahanallah

Bekerjalah kalian seolah-olah engkau akan hidup selamanya....
Dan beribadahlah kalian seolah olah engkau akan mati esoke..

Salah satu Hadits Rosullullah SAW

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Indahnya Mendung yang Menggantung di Akhir Tahun

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Let’s see..waow..udah dua bulan lebih saat episode 15 tercipta. Kalo gini aku nggak mungkin bisa jadi sutradara sinetron yang lagi striping nih, apalagi kalo sinetronnya tayang tiap hari kaya sinetron-sinetron yang ada sekaraang ini hehe... Eniwei, cukup dulu ngurusin ladang kerjaan orang deh, ada yang jauh lebih bermanfaat dibanding yang ngurusin kaya begituan 
Well...akhir tahun di Eropa biasanya musim dingin, suhu udara bisa mencapai minus derajat Celcius. Salju juga udah mulai turun di belahan utara bumi, tapi kalo di Indonesia, masyarakatnya sudah cukup puas (ato bahkan beberapa merasa direpotin?) oleh air hujan yang turun, maklum beberapa tempat adalah langganan banjir. Ga salah juga Gun N Roses bikin lagu “November Rain”. Soalnya di bulan itu, emang lagi banyak-banyaknya hujan yang turun di Indonesia. It means, mulai banyak banjir, mulai banyak yang merasa kewalahan soalnya cucian nggak kering-kering, n so on. Di bulan November seperti ini pula sinar matahari udah mulai kalah oleh anggunnya mendung kelabu yang berarak di langit. Ya, hangatnya mentari di pagi hari sudah sering tergantikan kelabunya awan, pun begitu dengan teriknya surya di tengah hari, semua lenyap, bahkan indahnya senja sudah mulai jarang bisa dinikmati. Semua terhalang oleh tebalnya mendung kelabu yang dengan tenang namun pasti selalu bergantungan di langit.
Konon, beberapa penulis menganggap mendung yang kelabu adalah lambang kesuraman. Lambang kesedihan bahkan bencana. Ya, kalo yang mereka sebut bencana itu adalah banjir yang timbul karena mendung tersebut membawa ujan sih, ada benarnya juga. Buatku, mendung itu indah, hawa dingin dan sejuk yang mengiringi datangnya mendung justru mendinginkan perasaaan, membuat hati tenang, dan....sendu. Tak jarang aku menikmati sejuknya pagi hari nan putih, saat mentari tertutup awan mendung, bahkan meski alam ini menjadi kelabu, tetap tak menyurutkan rasa senangku atas indahnya kapas kelabu yang berjajar di langit. Toh bagaimana pun juga kapas-kapas itu pembawa amanat-Nya. Kapas gelap yang terkadang tak diharapkan itu adalah rizqi dari-Nya, sama seperti hangatnya surya dan indahnya jingga senja. Bukankah kita harus selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah untuk kita? Bukankah Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya?
November ini, sudah lebih dari setengah bulan aku “menjabat” sarjana, atau tepatnya sarjana psikologi yang belum bisa memenuhi keinginan ibuku tersayang. Yah...sebenarnya mendung yang sendu di langit juga terasa di dalam hatiku. Sejak diwisuda aku optimis akan jalan yang aku pilih. Aku nggak ingin jadi job seeker, aku ingin jadi job maker. Caranya, aku buka lembaga pelatihan n out bound, dimana aku jadi trainer-nya. Jujur ya, jadi trainer itu cita-citaku sekarang, n aku pikir, dengan background-ku dari psikologi, itu realistis ko. Bahkan sejak 2 tahun lalu, saat masih kuliah aku da punya (maksudnya bersama beberapa teman membentuk) sebuah lembaga out bound n pernah menangani beberapa klien. Makanya terus terang aku terkesan nothing to loose dalam mencari kerja. Dalam hatiku, aku berniat mencari kerja untuk menyenangkan ibuku yang menginginkan aku punya gaji tetap tiap bulan. Ya, aku ngerti maksud beliau, dibandingkan aku buka usaha –yang untung-ruginya nggak bisa diprediksi– punya gaji tetap tiap bulan bisa dibilang “aman”. Lagian, aku juga mikir sih, kalo punya gaji tetap, paling ga, kiriman buat aku di Semarang bisa buat adikku ato buat bayar pembantu untuk ngurusin rumah. Kasian ibu kalo masih harus bekerja n ngurusin rumah. Tapi di sisi lain, aku ngerasa keinginanku untuk jadi trainer n buka lembaga psikologi sendiri dah benar-benar bulat, sebulat telor asin 
Tekadku yang seperti itu bahkan sudah memakan “korban”. Sekitar awal bulan ini aku dapat panggilan tes dan wawancara dari sebuah perusahaan di Tangerang. Kenapa Tangerang? Ya karena yang cariin aku pekerjaan di sana adalah mamanya Tyas, calon mama mertuaku (Busyet!) n ini kayanya udah aku tulis di episode 14 deh, kalo mo tau lebih jelas baca sendiri aja  Karena membawa nama keluarga, akhirnya aku berangkat ke sana, malah ampe ngerepotin Tyas n sekeluarga, karena aku ngajak Tyas-nya nganterin n nemenin aku. Bis nginepnya di rumahnya Tyas, demi Allah aku ngerasa nggak enaaaak banget!. Tapi setelah aku di sana beberapa hari, aku memutuskan untuk kembali pulang di Semarang. Padahal nggak lama setelah itu, relasi mamanya Tyas bilang kalo sebenarnya aku hampir pasti diterima. Hanya saja berhubung aku merasa aku nggak mau n ga bisa kerja di Tangerang, dengan segala serba-serbinya, ya aku terpaksa “menolak” pekerjaan itu (N ini juga yang paling bikin aku ngerasa nggak enak buanget! Udah susah-susah dicariin, malah ditolak, tapi Alhamdulillah mamanya Tyas mengerti, Tyas juga mendukung segala keputusanku, jadi meski aku ngerasa nggak enak banget, yaa..minimal aku udah asertif-lah).
Selesai satu beban pikiran, bukan berarti selesai semuanya. Saat ibuku tau keputusanku, pada awalnya beliau mendukung, atau lebih tepatnya menyerahkan segala keputusan padaku, tapi agak lama kemudian, ibuku kembali mempertanyakan keputusanku itu, bahkan aku ngerasa kalo ibu nggak bisa menerima keputusanku. Deg! Waktu ngedenger itu hatiku ngerasa teriris-iris, jujur aku hanya ingin dukungan moril, I know this way is not easy, but it’s not also difficult is it? Jalan yang ku pilih bisa saja terjal berliku, tapi bukan berarti bakalan terus gitu kan? Insya Allah ini hanya masalah proses. Terus terang aku terguncang, aku sempet ngerasa kalo ibu ngerasa berat kalo masih harus nanggung beban hidupku di Semarang, aku sampai mau cari duit sendiri buat biaya hidup tiap hari. Tapi lagi-lagi Allah membuatku merasa bersyukur memiliki Tyas. Ia nenangin aku lagi, mengembalikan semangatku untuk terus maju. Well, biar pun masih belum !00% (soalnya ampe kemaren aku masih males bwat ngapa-ngapain, termasuk kerja) Insya Allah aku siap melukis lagi lembar hidupku agar menjadi takdir yang terindah untukku.
Takdir terindah untukku, itu yang aku dapat setelah baca Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu (Matur nuwun ya kang, semoga Allah terus memberi akang ide-ide brilian agar mampu dibagi pada yang lain). Konon katanya manusia adalah magnet bagi sekelilingnya, kalo kita berpikir sebuah kejadian negatif akan terjadi pada kita ya itu bisa terjadi pada kita nantinya, sebalknya, kalo kita berpikir tentang kejadian positif, maka itulah yang akan kita alami. Makanya itu sekarang ini aku hanya berusaha untuk mikir yang positif-positif aja, dengan begitu kita jadi semakin ikhlas dan optimis menjalani hidup, dengan itu pula kita jadi bisa membersihkan hati kita selalu. Dan kebahagiaan? Sudah pasti bukan barang langka bagi kita, Insya Allah.
Pikiran positif pula yang mendorong aku untuk terus maju dan maju, kendati saat ini ada beberapa hal yang masih belum terselesaikan dengan excellent. Aku masih ingat banget beberapa saat lalu, belum lama terjadi sebenarnya. Aku mengajak beberapa teman yang biasa bergaul denganku untuk bergabung denganku membuat sebuah lembaga pelatihan profesional, meski pun belum bergaji profesioal, tapi aku berharap kerja kita profesional, toh yang namanya income gede juga didapat dari proses, nantinya kita juga pasti berusaha agar gaji kita di lembaga baru ini benar-benar bisa memenuhi standar profesional. Mereka pun dengan senang hati bergabung, saat itu. Sayangnya kerja sama yang aku pikir baik dan menyenangkan ini harus berakhir. Sebabnya karena beberapa dari mereka diterima kerja di sebuah perusahaan di sini (Semarang). Ya jujur, aku ikut senang, pastinya dong! Aku aja juga berharap bisa bekerja di sebuah perusahaan atau instansi, meskipun itu hanya sementara dan hanya untuk menyenangkan ibuku (gimana pun juga cita-cita untuk jadi trainer n punya lembaga psikologi sendiri ga akan pernah mau aku padamkan!). Akan tetapi, setelah beberapa lama mereka bekerja, kok aku merasa bahwa rencana kami untuk “membesarkan” lembaga ini sudah terlupa.
Entah mungkin aku yang harus introspeksi diri tentang kinerjaku sebagai pemimpin dan rekan kerja atau karena hal lain yang membuat mereka jadi seperti itu. Rekan kerja di lembaga pelatihan baru itu nggak semuanya teman-teman lama. Ada banyak yang merupakan teman baru, di antara mereka bahkan ada juga yang telah bekerja di instansi lain, tapi ternyata mereka (yang temen-temen baru n udah bekerja) masih saja ringan tangan membantu teman-teman di lembaga ini. Gaji yang kita siapkan buat mereka bahkan ga mau diterima, katanya bwat makan-makan temen-temen aja. Masya Allah.. Itu yang menurut aku luar biasa, kalo boleh jujur belum aku temukan dalam teman-teman yang selama ini ada di dekatku. Mungkin aku juga harus introspeksi, aku nggak bisa beri mereka gaji lebih, aku nggak bisa memberikan gaji bulanan, tapi sebenarnya sih aku juga ingin bisa seperti itu, hanya kan butuh proses. Dan proses dari nol hingga mungkin kita sukses setinggi langit itulah yang ingin aku capai bersama. Karena alasan ingin sukses bersama teman-teman pula aku rela dibodoh-bodohin orang gara-gara nolak pekerjaan yang hampir pasti didapatkan dengan bantuan camerku. Mungkin mereka aja yang belum ngerti itu. But it’s okey now. Aku pikir, aku masih punya beberapa teman yang punya tekad yang sama denganku, n aku pikir itu cukup untuk membangkitkan semangatku, sambil kembali merajut mimpi menjadi kenyataan tentang lembaga pelatihan yang benar-benar profesional dan mencapai langit setinggi mungkin.
Yah...langit tinggi di angkasa, yang semakin indah di kala berselimut kelabu. Yang sejuk memayungi manusia-manusia pandai bersyukur meski mereka tahu bahwa saat langit kelabu hangatnya mentari akan jarang menyentuh kulit mereka. Bagaimana pun juga Allah telah mengatur semuanya untuk kita. Takkan mungkin kita hidup hanya dengan sinar matahari dan tanpa hujan. Allah adalah Dzat Yang Maha Tahu. Dan Allah akan terus menambah nikmat-Nya bagi orang yang pandai bersyukur

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim:7)

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Diberdayakan oleh Blogger.