Sekedar Ucapan Terima Kasih..

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


“Maafkan aku ...bila hasratku keliru....
Sulut gairah jiwamu.....Ku yang dustakan cinta...”

Aku terharu saat membaca note di facebook seniorku, kebetulan beliau tag namaku di note tulisannya. Entah kenapa hati ini berontak seolah ingin meneriakkan rasa yang ada di dalamnya. Rasa yang seolah terpendam karena tekanan yang bisa jadi aku buat sendiri. Rasa yang lama seolah terbunuh realitas dan rasionalisasi yang aku alami dan lakukan. Terima kasih untuk Mas Hendry, Suhendry Cahya S. Psi, seniorku tersayayng di Psikologi Undip. I don’t know if we could meet again, but when it’s happenned, Alhamdulillah....I’ll be glad 
Namun terima kasih terbesar, sebuah pernyataan rasa syukur ingin kepersembahkan pada Sang Khalik, Sang Maha Segalanya, Allah Subhanallah wa Ta’ala. Terima kasih atas rahmat, hidayah, serta karunia dalam diri yang kecil namun kadang masih sombong dan lalai. Alhmadulillahirabbil ‘alamiin. Terima kasih telah Engkau anugerahkan akar yang kuat pada jiwa hamba, hingga menjadikan Iman ini tak pernah tercerabut dari tempatnya, tak pernah hilang harapan padamu, serta membuat hamba mampu berdiri setegar karang. Hidup ini hanya untuk-Mu ya Allah...
Terima kasih untuk Ibuku tercinta, Hj Fadliyah, yang hingga kini tak pernah lelah menemani, memberikan segalanya untuk anak sulungnya yang bandel namun cerdas ini  terima kasih atas doa dan kesabaran Ibu, mas Iwan sayang selalu sama Ibu. Tak lupa pula terima kasih untuk Alm Heru Subroto, Bapak tercinta, yang telah mengajarkan nilai-nilai yang tak luntur oleh godaan materi atau apapun, yang telah mengajarkanku betapa agung dan mulianya sebuah idealisme yang mampu bermanfaat bagi orang banyak. Matur nuwun pada kedua orang tuaku. Gimana pun juga tanpa orang tua aku nggak akan ada di dunia ini.
Terima kasih juga untuk adikku Rakhmad Agil Pradipta C. SE (Salon Sarjana Ekonomi). Yang telah menjadi sahabat kala tumbuh besar bersama di rumah, yang telah menemani dan menjaga Ibu sejak Bapak pergi hingga kini. Andai aku punya sesuatu yang bisa membalas semua itu. Terima kasih untuk kekasih tersayang, Asrining Tyas Handayani, yang dengan kesabaran telah menerimaku, celoteh dan curhatku, serta mengizinkan aku masuk dalam hidupmu
Terima kasih untuk seluruh sahabatku sejak SD hingga mahasiswa, Norman (sudah pulang dari Mesir bro? Gimana Al Azhar?), Adi (moga hepatitisnya semakin baik..), Awik (Yo opo kabare rek?), Koko (Wes duwe pacar ta?), Syaiful (Gimana Malang pak guru?), Arif (Sudah jadi MT-kah dirimu?), Bontel (Semoga betah di BPKP Bengkulu ya...), Yoga (Gimana kabare pak dokter?), Ipan (Jakarta aman pan?), Dian (Jadinya mo idup di Jkt ato Smg?), Ranti (Kamu cantik pake jilbab, ehem...) Sari (Masih jadi bu guru kan?) Dewo (Piye CPNS-mu?) Helmy (Denger-denger jadi pengusaha ya?) Uq cew (Udah tesis belum?) Ayu (Bu HRD gimana kabar?) Ika Nur (Jadi di JAPSI Undip ka?) Lita (Telp terakhir singkat amat?) Sista Mali (Kangen curhat ma sista...) Dan temen serta sahabat lain yang tak bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih atas semuanya

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Elegi Saat Musim Hujan Terlambat Datang

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

I’ve no choice... I love you live
Love you wave good bye.....

Never wanna wake up from this night
Never wanna leave this moment
Waiting for you only, only you
Never gonna forget every single thing you do
When loving you is my finest hour
Leaving you, the hardest day of my life
The hardest day of my life

Well, setelah sekian lama absen (dua bulan lebih ga nulis di sini), kita mulai episode kali ini dengan “The hardest day”-nya The Corrs feat Alejandro Sanz. Umm..let me be honest here. Long-long ago I knew this song when I bought this komputer from my friends. And the love story at that moment is about Aya, yang sekarang da jadi istri temanku hahahaha....jadi lucu sekarang rasanya. But now, this song reminds me to another woman that I love much, she’s not Aya, kagak! I never feel love as much as this before I meet this woman. She’s Tyas, Asrining Tyas Herdiawansyah, eh sori, Asrining Tyas Handayani. Sejujurnya si gendut bulet itu bener-bener ngebuat aku merasakan cinta. Sori, agak gombal ya? Berlebihan sih, tapi itu kenyataannya. Mungkin aku seneng liat cewek cantik lain, cewe seksi, but kalo uda ga ketemu lagi, ya udah, rejekiku berakhir di situ. Tapi Tyas lain, aku ga mau kehilangan dia, n dua tahun lagi, at least we have to marry, Insya Allah...doain yee....
Oke..cukup ngomongin cinta-cintaan, daripada muntah di depan komputerku. Yang jelas hari ini hampir 2 minggu kami berpisah dan berjauhan (katanya nggak ngomongin CINTA????) maaf, sebenarnya topik kali ini tentang itu, jadi dinikmati aja 
Berpisah? Berjauhan? No..no...we’re not finish, Tyas lulus jadi S. Psi Oktober lalu. That means, she must go home to Tangerang, lha aku? Aku masih ada MMK yang harus diurusin. Meski kadang aku lelah ngerasa ngurusin MMK sendiri. Like now, entah sejak kapan aku ngerasa capek di MMK, kayanya aku terlalu berharap banyak sama teman-teman mahasiswaku yang ada di MMK.
Ditambah Tyas udah cabut dari Semarang, jujur aku ngerasa hampa di sini. Biasanya memang cuma dia yang bisa maksa aku keluar kos, cari makan bareng, atau jalan bareng ke mall ato kemana...gitu. Semenjak dia balik sekitar 2 minggu lalu, rasanya bisa diitung berapa kali aku keluar kos. Semuanya seolah menumpuk jadi satu. Kepergian Tyas juga entah mengapa menerbitkan keinginanku untuk kerja di Jakarta, tapi jadi PNS. Ga tau ya, dulu aku agak menghindari jadi PNS apalagi ampe kerja di Jakarta, tapi sekarang lain. Ini analisisku sendiri tentang kondisiku saat ini, aku sesungguhnya adalah orang yang introvert, aku jarang mengungkapkan perasaanku yang terdalam dari dalam hatiku. Entah itu sedih atau senang, semua langsung aku repres, akibatnya ya seperti saat ini, ketika aku merasa aku tak mampu menahan semua yang aku repres, akhirnya malah termanifestasikan dalam perilaku yang seolah tanpa gairah hidup. Beberapa waktu ini aku merasa aku hanya menjalani hari demi hari sekedar untuk membunuh waktu, sekedar membiarkan sang waktu berlalu. Nggak seperti biasanya yang selalu ada target, selalu ada agenda mo ngapain trus ngapain. Sejak Tyas pergi aku seolah bingung mo ngapain lagi. Aku jadi ngerti sekarang kenapa Anang nyiptain lagu “Separuh Jiwaku Pergi” hehe...sori ya... hari ini, dan kemarin-kemarin aku emang bener-bener melow.
Aku jadi inget waktu Bapak dipanggil menghadap Allah, aku emang nangis saat beliau nggak ada. Tapi setelah itu, semua selesai. Aku nggak pernah mau terlihat sedih, nggak mau terlalu mikirin kenyataan bahwa Bapak udah nggak diantara kami lagi. Tapi tampaknya perilaku yang aku lakukan emang lebih jujur dari ucapanku. Jujur setelah Bapak nggak ada, disadari ato nggak terjadi perubahan drastis padaku. Sebenernya aku ngrerasa Bapak-lah inspirasiku, Bapak yang selalu memotivasi aku untuk sukses setingggi langit, untuk menggapai bintang di langit, Bapak yang idealis yang selalu mendorongku untuk melakukan yang terbaik apapun keputusanku. Setelah beliau menghadap kehadirat-Nya, saat itulah pertama kali aku kehilangan motivasi, kehilangan arah, meski tak ada satu pun orang yang tahu, karena aku nggak mau orang lain tahu. Sekali lagi, perilaku itu memang manifestasi jiwa, meski aku mencoba kuat dan tegar, toh tubuhku nggak bisa bohong. Disadari ato nggak, tubuhku semaki menyusut, aku jadi sering males makan, dan udah bisa ditebak, entah berapa banyak orang yang bilang aku semakin kecil, semakin kurus, dan sebagainya. ..dan kayanya kota ini sedang berusaha mengerti kondisi hatiku saat ini.
Beberapa hari ini Semarang bener-bener nggak jelas cuacanya, 2 hari yang lalu sepanjang hari Semarang mendung tanpa sinar matahari, 3 hari yang lalu malah ujan deres banget. Tapi kemaren panas banget seharian. Dan yang paling aneh hari ini, mendung dan matahari seoalh sedang bersaing berebut pengaruh di bumi. Kalo matahari menang, sinarnya menghangatkan Semarang, tapi kalo matahari kalah, sang mendung yang menutupinya. Seharusnya sih, kalo berdasarkan geografi SMA dan SMP plus IPS waktu SD, bulan November ini hampir seluruh wilayah Indonesia pusaka ini sudah terguyur hujan. Tapi tampaknya sekarang ini kita harus menunggu apakah benar November Rain-nya GnR masih relevan dengan iklim di bumi. Padahal, sejujurnya aku lagi pingin mendung atau hujan. Rasanya adeem banget di hati kalo lagi mendung, bumi tampak indah ketika putih langit bercampur dengan titik air yang jatuh.
Huff...entahlah...aku tiba-tiba merasa labil, agak pesimis, aku berharap ini segera berakhir. Aku capek kaya gini, tapi aku juga belum bisa bikin rencana lagi. Semua rencanaku meski nggak gagal total, tapi nggak semua sukses 100%. Padahal aku trainer ya? Haha...kalo mo jujur, itu hanya biar ibuku nggak nyebut aku jobless. Sakit rasanya kalo inget aku belum bisa kasih kebanggaan yang beliau inginkan. Huff...Astaghfirullahaladziim... Maaf Gusti, tapi aku mo curhat boleh ya .. Ya Allah ya Rabb, hanya pada-Mu hamba bergantung, hanya pada-Mu hamba meminta. Tolong kabulkan keinginan hamba yang ingin jadi PNS di Jakarta, agar hamba deket ma Tyas, agar hamba bisa ketemu dia tiap minggu. Amiin...

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Kisah Edelweiss yang (tak) Tertutup Salju

Edelweiss putih itu
Kini tak lagi berselimut salju
Bahkan semakin putih kemilau
Walau harus diakui, ia masih beku

Edelweiss itu masih tetap tegar
Tak kan layu ditelan waktu
Walau memang tak semerbak lalu
Meski kelopak tak lagi segar

Dan Edelweiss itu kan tetap lestari
Menemani melewati indahnya takdir
Merangkai bintang-bintang di langit penjuru
Sambil bergantung pada Kuasa-Nya dalam kalbu

SETITIK CAHAYA DALAM ANGAN TENTANG HIDUP

Sesosok wanita cantik berumur tiga puluhan berjas putih dengan stetoskop melingkar di lehernya duduk di hadapan Valent, seorang pemuda berusia 21 tahun yang juga atlet tim nasional (timnas) sepak bola. Dokter Dewi, nama wanita itu kemudian membuka sebuah buku yang diberikan oleh asistennya, sebuah riwayat berobat dari pasiennya yang kini sedang ada di depannya.

Deg......Deg................Deg.........Deg......
Brengsek! Apa apaan ini! Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi nggak enak kaya gini?
What’s going on God?

Raut muka Valent sedikit berubah ketika detak jantungnya dirasa berdetak tak beraturan saat dokter spesialis yang memeriksa kondisi kesehatannya untuk beberapa kali itu membuka-buka riwayat berobatnya. Untunglah tak beberapa lama kemudian Valent bisa menguasai diri, tepat di saat dr. Dewi akan memulai pembicaraan dengannya.

“Valent...Sebelum aku menyatakan semuanya tentang kondisi kamu, aku cuma ingin kamu tabah. Bagaimanapun juga Dia selalu memberikan yang terbaik bagi kita, hamba-Nya” Pelan-pelan dokter lulusan sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya itu merangkai kalimat. Dan Valent hanya bisa mengerutkan keningnya seolah ingin menampakkan tanda tanya besar yang muncul di hatinya begitu mendengar ucapan dr. Dewi barusan.

“Aku tahu, tidak seharusnya sebagai seorang dokter seperti aku berbicara layaknya seorang ustadz atau kyai. Tapi selain karena sebelumnya kita memang sudah cukup saling mengenal, aku juga ingin memberikan semangat untuk adik sahabat dekatku.”
Seolah mengerti yang sedang dirasakan Valent, dr. Dewi segera melanjutkan perkataannya. Sementara Valent, meski belum sepenuhnya mengerti, secara refleks sebuah senyum manis terbit di kedua belah bibirnya.

“Kalau memang ‘sesuatu’ yang ingin disampaikan itu merupakan hal yang terburuk sekalipun, aku sudah siap lagi dok. Lagipula dokter juga tidak mungkin merahasiakan hasil diagnosis pasien dokter hanya karena kebetulan pasien dokter itu adalah adik dari teman seangkatan dokter saat kuliah dulu kan?” Candanya kemudian, namun di balik itu tersirat ketegasan akan kesiapan yang dimiliki Valent terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya nanti, dr Dewi hanya menghela nafas sejenak, lalu...

“Hasil diagnosismyu bisa dibilang tidak terlalu baik, meskipun masih dalam stadium awal yang belum terlalu mengkhawatirkan, namun jika ini tidak ditangani dengan baik bisa membahayakan nyawa kamu.”

“Maksud dokter?” Valent membetulkan letak kaca mata silindrisnya, menunggu kata demi kata keluar dari dokter berwajah cantik itu.

“Yah......kami mendapati adanya kelainan pada sel darah kamu. Sel darah putih di dalam tubuh kamu berkembang jauh lebih cepat dari sel-sel darah yang lain. Sel darah putih ini kemudian memakan sel-sel darah yang lain, atau dengan kata lain kamu menderita........”

“Leukimia!”

Serta merta dr. Dewi terkejut mengetahui tidak adanya perubahan pada wajah Valent. Pemuda dengan paras rupawan yang ada di depannya begitu tenang dan dingin menebak penyakit yang dideritanya. Tidak! Valent tidak asal menebak. Reaksi yang baru saja diperlihatkan seolah ia telah mengetahui apa yang terjadi dengan tubuhnya. Begitu yang ada di benak dr. Dewi.

“Bagaimana kamu bisa tahu Val?” Tanyanya kemudian. Valent hanya mengangkat kedua bahunya menandakan tidak banyak hal yang ia ketahui tentang dirinya.

“Just guess it. Aku suka baca buku, buku apa aja. Jadi sedikit banyak aku juga tahu hal-hal seperti itu.” Ujar Valent, masih dengan sikapnya yang dingin seolah hal yang baru saja ia ketahui bukanlah hal yang perlu dirisaukan.

Padahal bagi dr. Dewi, ini adalah kali pertama ia mendapatkan pasien dengan ketegaran yang bisa dibilang luar biasa dalam menghadapi takdir. Apalagi pasien tersebut masih sangat muda serta sudah cukup dikenalnya karena kebetulan Valent adalah adik Rossa, sahabatnya saat masih sama-sama kuliah dulu.

“Oke......aku menderita kanker darah n saat ini aku sekarat. Yah....Not so bad. Tapi ngomong-ngomong ada hal lain yang bisa aku lakukan sebelum aku dijemput kematian kan dok?” Kali Valent tersenyum, sebuah senyum manis yang tulus. Entah apa yang saat ini sedang ia pikirkan.

“Oh....maaf. Ya, pasti ada. Paling tidak ada beberapa pilihan terapi yang bisa kamu jalani nantinya.” Dr Dewi tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika reaksi Valent lagi-lagi tak terduga. Ia segera memberi isyarat pada asistennya untuk mengambilkan beberapa buku terapi khusus di rak tempat biasa ia menyimpan riwayat berobat pasien-pasien yang sedang ditanganinya.

Bagaimana mungkin seorang pemuda seperti Valent bisa begitu tenang menghadapi sebuah vonis yang mungkin bisa menggiringnya menuju kematian?
Bagaimana bisa ia bersikap sedingin itu dalam menjalani takdir yang mungkin saja bagi orang lain tampak tidak adil dan menyakitkan?

Beribu tanya memenuhi kepala dr Dewi. Selama beberapa waktu ia praktek sebagai dokter spesialis, hanya pada Valent-lah ia menemukan sosok yang istimewa. Setidaknya itu yang ia pikirkan saat ini. Ketika pasien lain yang menurut penilaiannya telah cukup berumur dan lebih memiliki kematangan emosional menangis meratapi nasib yang harus mereka jalani, atau marah-marah tidak jelas karena merasa dipermainkan oleh garis takdir, tidak demikian dengan Valent.

Pemuda ini berbeda, ia begitu tabah menghadapi hidup yang ia jalani. Meskipun ia tahu hidup itu terasa menyakitkan. Bahkan seutas senyum tetap mengembang di wajah tampannya saat kali pertama ia mendengar ‘vonis’ yang diberikan dokternya.

“Sampai saat ini satu-satunya cara untuk mengembalikan kondisi kamu seperti semula adalah dengan pencangkokan sumsum tulang belakang. Itu berarti kamu harus sabar menunggu seseorang yang bersedia mendonorkan organ tersebut. Itu pun dengan catatan struktur organ donor tersebut sama atau paling tidak sesuai dengan kondisi tubuh kamu Val.” Sampai di sini dr Dewi menghentikan uraiannya. Menatap dalam ke arah Valent sambil mereka-reka apa yang akan dikatakan oleh pemuda berkaca mata silindris itu.

“Yah......dengan kemungkinan organ donor yang cocok dengan kondisi tubuhku sekitar 1 : 1000 atau bahkan lebih, apa lagi yang bisa ku lakukan selain menunggu?” Kembali dr Dewi dibuat terkejut dengan reaksi yang diberikan oleh adik sahabatnya itu. Ia tersenyum simpul sebelum akhirnya berujar pelan.

“Angka 1 : 1000 juga kamu dapat dari buku-buku yang sering kamu baca?” Valent tertawa kecil mendengar canda yang dilontarkan dr Dewi.

Tak lama kemudian dokter beranak satu itu pun menawarkan satu terapi khusus untuk Valent. Namun dengan halus cowok yang lahir tepat pada Valentine’s Day itu menolaknya dan memilih terapi biasa sama seperti penderita leukimia lainnya. Dan setelah itu, Valent pamit sembari tak lupa mengucapkan terima kasih. Dr Dewi hanya tersenyum dan kemudian mengantarkan Valent keluar ruang prakteknya, suatu hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

“Udah periksanya mas? Apa kata dokter?"
Ya Allah......What should I say to my lovely girlfriend now?

Sebuah pertanyaan muncul di benak Valent saat Tiara, gadis manis berjilbab yang menemaninya ke rumah sakit itu ingin tahu bagaimana keadaannya. Sebuah senyum tipis mengembang dari bibir Valent, mencoba ‘tuk meredakan rasa ingin tahu seseorang yang selama dua tahun ini menjadi pacar sekaligus mengisi kesehariannya itu. Namun bukan Tiara bila tak bisa menebak bahwa senyum untuknya itu muncul karena terpaksa.

“Udah deh......Nggak usah bertingkah macem-macem. Aku tanya dokter tadi ngomong apa aja soal kondisi mas. Jadi aku butuh jawaban dan bukan senyum sok manis kaya gitu.”
Kali ini tawa Valent terderai bagitu mendengar ucapan polos gadisnya itu. Sejenak ia melupakan apa yang baru saja dikatakan dr Dewi mengenai dirinya. Valent lalu memandang wajah teduh yang pura-pura cemberut di sampingnya. Entah tiba-tiba ia menjadi agak sentimentil. Mungkin Valent merasa, tak lama lagi ia akan kehilangan wajah yang selalu menghiasi mimpi demi mimpinya itu.

“Iya.....iya.....ntar aku pasti cerita deh kalo kita udah sampai rumah. Okey?” Ujar Valent akhirnya. Ia tahu itu tak akan membuat Tiara puas, tapi setidaknya ia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum menceritakan semuanya. Kalau memang Valent ingin menceritakannya.

Corolla Altis berwarna merah metalik dengan nomor polisi ‘L 4 V’ milik Valent melaju menembus jalan-jalan protokol kota Surabaya yang siang itu agak mendung. Titik air hujan turun tak lama kemudian. Tetes demi tetesnya seolah ikut menangis dan larut dalam galau yang ada di hati Valent setelah mengetahui apa yang terjadi dengannya.

Selama perjalanan pulang ke rumah Tiara, keduanya tidak berbicara sepatah kata pun, suatu hal yang tidak biasa. Bahkan CD player di mobil yang selalu ramai kali ini membisu. Hanya sesekali Valent memandang kekasihnya itu, kemudian berbalik mengalihkan pandangannya saat gadis itu ikut memandangnya.

“Oke, kita udah di rumah. Trus aku udah bikinin mas minum. Sekarang giliran mas dong bwat nepatin janji. Tadi dr Dewi bilang apa aja?????” Tanya Tiara begitu mereka tiba di rumah orang tua Tiara.

Valent tidak segera menjawab. Pandangannya masih saja tak lepas dari wajah manis di hadapannya. Yang membuat Tiara jadi salah tingkah plus nggak tahu harus berbuat apa. Pipinya langsung memerah tak lama setelah kedua belah matanya bertemu dengan sorot mata dingin milik Valent. Bagaimana pun juga Tiara tahu meski terlihat dingin, sebenarnya Valent peduli padanya. Valent adalah tipe cowok yang penuh perhatian.

“Udah dong diemnya.....Dari tadi ga mo jawab kenapa siy.......tinggal ngomong aja kok susah banget rasanya”. Ujarnya manja, sambil memanyunkan bibirnya, pura-pura cemberut. Biasanya dengan begitu Tiara mendapatkan perhatian Valent, tapi kelihatannya ‘senjata’-nya kali ini berkurang keampuhannya.

“Sebenernya dr Dewi tadi bilang kalo aku.................”

Akhirnya Valent mengalah. Nggak tega juga melihat peri kecilnya itu penasaran. Tapi ucapannya terhenti tiba-tiba. Valent merasa lebih nggak tega lagi ngebayangin gimana reaksi Tiara bila mengetahui keadaan Valent yang sekarang menderita leukimia. Walau dr Dewi bilang penyakitnya masih stadium satu yang memiliki peluang untuk sembuh seperti sedia kala. Meskipun peluang itu tidaklah cukup besar.

“Dr. Dewi bilang aku harus kurangi aktivitas dan perbanyak istirahat.” Finally Valebt memilih berbohong pada pacarnya . Meski ia tahu Tiara tak akan percaya begitu aja dengan jawaban yang baru saja dilontarkan Valent.

“Cuma itu? Masak dokter Spesialis Penyakit Dalam cuma bilang kaya gitu aja?” Tiara menatap penuh selidik. Tuh kan! Emang susah rasanya kalo ngobohong ma orang yang udah dua tahun jadi pacar. Itu juga yang saat ini ada di kepala Valent.

“Sayang.....aku periksa ke dokter spesialis kali ini kan karena kebetulan dokternya temen baik kak Ocha waktu masih kuliah. Jadi itung-itung aku kan ga perlu bayar he..he... Lagipula emang bener kan kalo akhir-akhir ini aku jarang istirahat?”

Mati-matian Valent berusaha meyakinkan Tiara. Kendati yang ia katakan itu bukanlah sepenuhnya kebohongan, namun dalam hati tetap saja ia merasa bersalah telah menyembunyikan penyakitnya pada kekasihnya tersayang. Gimana pun juga Tiara berhak tahu keadaan Valent yang sebenarnya. Apalagi mereka telah bersama selama dua tahun ini. Dan selama itu pula mereka udah saling mengenal serta bisa menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain.

Aku nggak ingin menyembunyikan ini sayang....
Tapi aku ngerasa belum saatnya kamu tahu hal ini
Maafin aku....

Batin Valent berbisik lirih saat ia membalas lambaian tangan Tiara dari dalam mobil ketika ia pulang sore itu. Kembali Valent tenggelam dalam lamunannya. Bahkan dalam perjalanan pulang itu, hampir saja nyawanya melayang lebih cepat kalau saja ia tak segera membanting stir mobilnya saat sebuah truk keluar dari sebuah pabrik di kawasan industri salah satu sudut kota Surabaya.

Begitu sadar bahwa ia baru saja selamat dari ‘ajakan’ malaikat maut, tanpa pikir panjang ia segera menginjak pedal gas dan beranjak dari ‘TKP’ sambil tidak mengacuhkan suara klakson dan cacian pengemudi truk yang kesal karena kebodohan yang dilakukan Valent barusan.

“Hhhhhh.............”

Valent menghempaskan tubuhnya di kasur begitu tiba di rumah. Sejenak ia memandangi seluruh isi kamarnya. Kamar yang penuh dekorasi berwarna merah dan hitam. Warna ‘kebangsaan’ Valent yang meniru dari kaus tim sepak bola kesayangannya, AC Milan.
Lagi-lagi rasa sentimentil hinggap di dirinya. Wajah dengan kaca mata silindris itu berubah sendu. Tidak! Lebih dari itu, wajah yang selalu ceria dan terus tersenyum itu kini terlihat murung. Sebuah kristal bening yang menggantung di sudut matanya perlahan meleleh, menetes membasahi pipi yang tampak membulat sejak Valent ‘diurusin’ Tiara. Dan tak lama berselang menyusul tetes demi tetes lainnya turun dari sepasang mata Valent yang terpejam karena takut, sedih, dan mungkin saja ada kemarahan di hatinya. Membuat dadanya sesak dan berat. Sore itu, sosok yang tegar dan kuat itu telah menyadari bahwa ia bukan apa-apa dibandingkan kuasa dan kehendak Sang Maha Segalanya.

Suara adzan Maghrib bergema ke seluruh penjuru kota. Menandakan hari akan beranjak malam. Sang mentari pun segera ganti ‘shift’ dengan rembulan yang malam ini hanya menampakkan dirinya seperti sebuah sabit. Dan di salah satu rumah di jalan Wijayakusuma, Surabaya, Valent membuka matanya. Ia tertidur sekitar satu jam setelah tiba dari rumah Tiara, serta.....setelah agak lama ia menangis di tempat tidurnya, satu hal yang sebenarnya sangat tidak ingin dilakukannya.
Valent bangun dari tempat tidurnya saat adzan selesai berkumandang. Menguap sebentar lalu ia melihat sosoknya dari pantulan cermin. Agak lama ia mengamati dirinya sendiri dari cermin.

Masya Allah......ternyata aku jelek ya kalo lagi sedih.

Sebuah senyum manis mengembang dari bibirnya sebelum ia berlalu meninggalkan kamarnya tuk mandi dan menunaikan shalat Maghrib, setelah ia menyalakan beberapa lampu di rumahnya karena memang hari udah mulai gelap.
Valent memang tinggal sendiri di Surabaya, bahkan sejak ia SMU. Tidak heran bila hal-hal yang bersifat ke-rumah tangga-an bagi dia bukanlah sesuatu yang asing. Sejak SMU pula ia sudah terbiasa mencuci sendiri, beres-beres rumah, hingga memasak untuk memenuhi lambungnya, yang menurut pengakuannya sih kecil, tapi sanggup untuk makan hingga lima kali sehari. Sesuatu yang sering bikin Tiara geleng-geleng kepala mengetahui selera makan pacarnya yang nggak kira-kira itu.
Ayah Valent seoarang sosiolog sekaligus peneliti yang nota bene lebih sering di luar negeri untuk melakukan penelitian. Sementara ibunya seorang dosen di salah satu universitas negeri terkenal di Jakarta. Kemudian, satu-satunya saudara yang dimiliki Valent, kakak perempuannya, Rossa, adalah dokter bedah lulusan Monash University, Perth, Australia. Saat ini Ocha, begitu ia dipanggil, tinggal bersama suami dan seoarang anak perempuan –yang menurut Valent paling ngegemesin sedunia– di Singapura. Maklum, kakak ipar Valent seorang diplomat.
Back to the actor, Valent. Cowok berbadan tegap terlihat segar setelah mandi. Sambil bersenandung kecil seolah tak terjadi apa-apa, Valent segara menuju kamar dan bersiap menunaikan shalat Maghrib. Ia melirik jam dinding AC Milan-nya, pukul enam lebih lima. Sekitar lima belas menit setelah adzan Maghrib.

Tiara lagi ngapain ya?????
Ups! Bukan saatnya mikirin cewek!

Valent mencoba untuk konsentrasi agar ia bisa shalat dengan khusyu’. Sebuah doa terpanjat dari mulutnya petang itu. Doa yang mewakili kepedihan dan harapan untuk Sang Pencipta, yang semakin lama terasa semakin dekat dengannya.

Ya Allah....aku memang bukan hamba-Mu yang paling taat.
Juga bukan hamba yang mengerti segalanya.
Aku tak mengerti tentang keadilan-Mu karena hanya Engkau Yang Maha Adil.
Aku juga bukan hamba yang mengerti apa yang Engkau rencanakan padaku.
Karena cuma Engkau Yang Maha Mengetahui.
Maka dari itu aku tak ingin mempertanyakan kenapa hidupku begitu singkat,
mengapa harus ada leukimia dalam catatan takdirku.
Aku takkan bertanya tentang semua itu.
Namun sebagai manusia biasa, sebagai hamba yang tak berdaya, aku hanya ingin memohon dan berdoa pada-Mu. Sebagai satu-satunya tempat untuk menggantungkan harapan.
Ya Allah.....Jika memang sampai di sini batas umur hidupku, aku mohon, berilah ketabahan dan kesabaran pada mereka yang mempercayaiku, mengandalkanku, dan menyayangiku.
Berilah bahagia pada orang tua, kakak, serta keluarga besar dan teman beserta sahabatku. Berikan juga bahagia dan ketabahan itu pada seseorang yang saat ini ada di hatiku, Tiara. Berikan dia pengganti yang jauh lebih baik dariku. Seseorang yang bisa membuat hidupnya lebih berarti dan berharga. Jagalah selalu senyum dan ceria yang selalu menghiasi wajahnya, bila memang sampai di sini takdirku dengan dirinya. Ya Allah.....kabulkanlah doaku ini. Amin......

Valent masih bersimpuh di kamarnya. Ia memejamkan matanya dan membiarkan lembar demi lembar memori lamanya terbuka kembali. Memori ketika pertama kali ia bertemu Tiara, berkenalan dengannya, hingga memori selama dua tahun yang telah mereka jalani bersama. Juga memori tentang ia dan Tiara yang selalu berjalan beriringan sambil merajut mimpi indah yang sama tentang masa depan. Mimpi yang mungkin naif dan terkesan idealis. Tapi sayangnya, kini Valent harus merelakan mimpi indah itu benar-benar menjadi mimpi, benar-benar hanya sebagai bunga tidur.

SATU TAHUN KEMUDIAN
Jakarta, Awal Juli 2007
Sehari sebelum kick-off Piala Asia 2007 diselenggarakan di empat negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, media cetak maupun media elektronik di seluruh negeri digemparkan oleh berita yang berasal dari lapangan sepak bola. Bukan berita mengenai hiruk pikuk Jakarta dan Surabaya yang menjadi tuan rumah piala Asia kali ini. Bukan pula berita tentang mimpi 210 juta warga negara Indonesia yang menginginkan tim nasionalnya menjadi juara pada perhelatan sepak bola terbesar di Asia itu yang digelar di negeri sendiri.
Berita itu mengenai kepanikan yang melanda seluruh anggota timnas Indonesia. Pemain andalan mereka dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh dan pingsan saat latihan. Benar, pemilik nomor punggung 10 timnas –yang nota bene nomor keramat di dunia sepak bola– Valentino Permana, saat ini terbaring di rumah sakit. Dugaan sementara, hal itu dikarenakan kondisi kesehatannya yang menurun drastis. Hingga ia harus berada di rumah sakit selama lima hari. Itu berarti Valent harus absen di dua pertandingan awal. Dan ini akan mempersulit langkah timnas Indonesia menuju tangga juara.

Hari ketiga Valent berada di rumah sakit.

“Selamat pagi mas Valent, hari ini ada tamu istimewa lho...” Suster Mita, suster yang tiap pagi tidak pernah absen mengantarkan sarapan untuk Valent, seperti biasa menyapanya pagi itu. Di belakangnya sesosok gadis mengikuti.

“Tiara!” Seru Valent ketimak mengatahiu sang ‘tamu’ yang datang bersama suster Mita pagi itu. Sementara gadis itu hanya tersenyum simpul.
Valent merasa aneh dengan senyum yang diperlihatkan Tiara. Namun ia segera menepis perasaan itu. Rasa kangen pada pacarnya lebih besar daripada hal yang menurut Valent sendiri nggak jelas. Apalagi, setelah itu, Tiara mengambil makanan yang diberikan suster Mita untuk disuapkan ke Valent.

“Kapan kamu datang? Kok nggak kasih kabar apa-apa? Sms atau apa gitu...” Tanya Valent begitu mereka sudah berduaan.
Ocha yang selama ini merawat Valent pamit keluar setelah berbasa-basi sebentar dengan calon adik iparnya itu. Bagaimana pun juga ia mengerti bahwa saat ini, kehadiran Tiara sudah lebih dari cukup bagi Valent.

“Belum lama, baru juga semalem.” Sahut Tiara kemudian. Masih dengan reaksi yang dingin. Valent yang tahu ada yang tidak beres dengan gadisnya itu memilih lebih banyak diam dan membiarkan suap demi suap nasi yang diberikan Tiara masuk ke mulutnya tanpa ada percakapan yang berarti. Padahal sudah sekitar 3 bulan mereka tidak bertemu. Sejak Valent harus masuk pelatnas.

“Kenapa sih Ra? Nggak biasanya kamu diem kaya gini. Kamu lagi ada masalah apaan?” Kembali Valent berusaha mencairkan kebekuan yang sedari tadi ada di tengah-tengah mereka. Tiara tak menjawab. Gadis manis berjilbab itu masih saja diam. Namun sorot matanya tajam menatap ke arah Valent.

“Ada apa Tiara? Ngomong dong......gimana aku bisa ngerti kalo kamu sendiri diem kaya gitu?” Pinta Valent sekali lagi. Dan kali ini Tiara mengalihkan pandangannya, menatap ke arah luar jendela. Dimana kesibukan kota Jakarta terlihat jelas dari lalu lintas yang padat di luar rumah sakit.

“Mas juga bingung kan kalo aku diem aja?” Ujar Tiara sambil tetap tidak mengalihkan pandangannya dari jendela.
“Maksud kamu? Jujur ya, aku nggak ngerti apa yang kamu bicarain sekarang.”
Tiara langsung menoleh ke arah Valent dan kembali tatapan tajamnya mengarah tepat ke dua buah bola mata Valent.

“Oke, aku nggak akan berbelit-belit. Aku mau tanya dulu, mas tahu kenapa aku terlambat datang ke rumah sakit?” Tanya Tiara kemudian, Valent hanya menggeleng pelan.

“Asal mas tahu, begitu ortu mas n kak Ocha dikabarin tentang keadaan mas, nggak lama kemudian aku juga dikabarin hal yang sama. Tapi aku nggak segera berangkat ke sini buat nengokin mas.” Lanjut Tiara kemudian. Ia menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan penuturannya.

“Aku nggak percaya dengan berita-berita di TV yang mengatakan kalo mas jatuh pingsan waktu latihan hanya karena kondisi kesehatan yang menurun. Jadi, sebelum berangkat ke sini aku menyempatkan diri untuk datang ke tempat dr Dewi. Dan setelah aku paksa, dia menjelaskan semua tentang kondisi badan mas.”

Valent terdiam mendengar penjelasan gadisnya. Wajahnya berubah serius, namun ia tak berani menatap wajah Tiara, yang bila saja Valent tahu, Tiara sedang berjuang keras menahan jatuhnya air mata yang sejak tadi ingin jatuh dari pelupuk matanya.

“Dari dr Dewi juga aku tahu kalo selama ini, cowokku, Valentino Permana menderita leukimia. Tapi kenapa aku ngedenger itu justru dari dr Dewi? Kenapa bukan mas sendiri yang cerita? Kenapa mas?” Di kalimat terakhir nada bicara Tiara meninggi tiga oktaf.

“Maaf Tiara, aku........aku cuma nggak ingin buat kamu sedih....”

“BOHONG! Aku nggak percaya! Kalo emang mas nggak pingin aku sedih, harusnya sejak dari dulu mas udah cerita soal ini. Mas nggak akan sembunyiin ini dari aku sampai sekian lama.” Wajah Tiara merah padam menahan ledakan amarah serta tangisnya, namun tak lama air matanya meleleh membasahi kulit putih wajahnya. Membuat Valent semakin merasa bersalah. Tetapi ia masih saja membisu, tak tahu apa lagi yang harus dikatakannya.

“Aku sayang sama mas, sayang.......banget. Tapi sejujurnya, kali ini aku ngerasa kalo yang aku dapatkan nggak sebanding. Kenapa sih hal sepenting itu malah disembunyiin dari aku? Aku pacar mas kan? Aku bukan orang lain. Tapi kenapa mas nggak bisa percaya? Aku...aku bukan cewek yang cuma untuk seneng-seneng aja kan mas? Aku juga bisa terima biarpun keadaan terburuk pun menimpa mas. Karena, karena aku sayang mas. Tapi setelah kita jalan sekian lama, ternyata aku nggak bisa mendapatkan rasa percaya dari mas” Tiara semakin terisak. Sesekali ia mengusap air mata yang jatuh di pipinya.

“Ra....aku juga sayang banget sama kamu. Dan aku juga percaya sepenuhnya ma kamu. Makanya aku belum mau cerita. Aku juga nggak mau bikin kamu jadi down gara-gara penyakitku, lagipula kalau udah saatnya aku pasti ceritakan semuanya.” Valent berkata lirih, berusaha meredakan amarah kekasihnya.

“Jangan ngomong macem-macem deh mas. Bagaimana mungkin mas bilang mas sayang aku, mas percaya ma aku, tapi tingkah laku mas nggak menyatakan seperti itu? Mas sendiri kan yang bilang kalo terkadang tingkah laku seseorang itu lebih jujur mengungkapkan isi hati daripada ucapannya?” Tiara masih mencecar Valent dengan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan Valent. Untuk beberapa lama keduanya terdiam hingga tiba-tiba Tiara mengucapkan sesuatu yang sama sekali tak diduga –dan mungkin tak diinginkan– oleh Valent.

“Oke deh, mungkin kita harus saling introspeksi kali ini. Please......please...banget, mas jangan coba hubungi aku dulu. Kita break sampai kita bisa saling mengerti lagi.” Setelah berkata demikian, Tiara segera meninggalkan ruang Edelweiss, tempat Valent dirawat tanpa bisa sedetik pun bisa dicegah oleh cowok Aquarius itu. Tiara hanya menoleh sebentar ketika Valent memanggil namanya namun tak lama berselang ia berlalu saat merasa sudah tak ada lagi hal yang bisa mereka bicarakan.

Seminggu sejak Valent dan Tiara bertengkar
Sore itu Tiara menyempatkan waktunya untuk duduk di depan TV menyaksikan pertandingan sepak bola Asian Cup antara Indonesia melawan Kuwait. Tapi sebenarnya Tiara ingin mengetahui kabar Valent setelah sehari sebelumnya diberitakan telah keluar dari rumah sakit dan mulai berlatih bersama teman-temannya di timnas.
Tiara memang tidak sepenuhnya memusatkan perhatiannya pada pertandingan itu. Jika saja Valent bukan pemain sepak bola, ia bahkan tidak akan peduli dengan olah raga keras tersebut. Selama pertandingan Tiara hanya mengamati keadaan Valent sambil berharap-harap cemas. Terlebih ketika cowoknya itu dijatuhkan pemain lawan. Namun tak jarang ia tersenyum kecil saat Valent berhasil melewati pemain lawan dengan aksi-aksi yang menawan.

Kalau mau jujur, Tiara merasa kangen pada Valent. Biarpun ‘baru’ berpisah sekitar 3 bulanan, terlalu banyak cerita yang ingin ia bagi bersama kekasihnya. Sebenarnya ia juga ingin mendukung Valent langsung dari tribun penonton stadion Gelora Bung Karno, namun karena beberapa hari yang lalu mereka bertengkar cukup hebat dan belum adanya ‘perdamaian’ yang terucap, Tiara jadi berpikir dua kali jika ingin melakukan itu. Ada rasa segan di hatinya, bahkan untuk menghubungi Valent sekedar menanyakan kabar. Yang salah kan dia, jadi dia dong yang harus menghubungi aku duluan. Seperti itu yang mungkin ada di benak Tiara. Padahal waktu di rumah sakit, Tiara sendiri yang bilang agar Valent jangan menghubunginya dahulu. Tapi sekarang, dia malah nggak ingin itu terjadi. Terlebih setelah sore itu, seluruh warga negara Indonesia berpesta setelah timnas kebanggaan mereka mencetak sejarah dengan lolos ke semi final Asian Cup untuk yang pertama kali.

Biasanya, meskipun terpisah oleh jarak yang jauh sekalipun, Valent pasti menyempatkan diri untuk menelepon Tiara sekedar menceritakan hari-harinya di pelatnas atau berbagi kemenangan setelah pertandingan usai. Itu pula yang saat ini begitu Tiara harapkan. Sayangnya, hingga Tiara beranjak tidur Valent belum sekali pun mencoba menghubunginya. Padahal sejak sore ia sering sekali mondar-mandir di depan telepon, saat makan malam pun, pandangannya sesekali melirik ke arah pesawat telepon. Berharap semoga alat itu berdering dan membawa suara Valent kepadanya.
Sambil memasang muka jutek, Tiara pun merebahkan tubuhnya ke kasur. Kembali ia mengarahkan pandangannya pada telepon di meja belajarnya, namun, alat itu masih saja membisu sejak tadi. Ia menghela nafas lalu mengambil ponselnya, mengecek terakhir kali Valent menghubunginya. Sudah seminggu yang lalu, itu berarti sebelum Valent masuk rumah sakit. Begitu ia mengingat rumah sakit, kembali Tiara merasa sebel pada sikap Valent yang menyembunyikan penyakitnya. Ia menghempaskan ponselnya dan kemudian memilih membenamkan dirinya ke alam mimpi.

“Mbak.......mbak Tiara, ini ada surat buat mbak. Kemarin sore baru datang. Maaf bik Inah lupa bilang sama mbak.” Bik Inah, pembantu yang sudah 10 tahun bekerja pada keluarga Tiara pagi itu buru-buru mencegatnya sebelum ia berangkat kuliah.

“Oh...nggak papa lagi bik. Paling juga nggak penting-penting amat.” Sambil tersenyum Tiara menerima sepucuk surat yang diberikan pembantunya itu. Kemudian menyalakan mesin Honda Jazz warna Ungu-nya dan melaju meninggalkan rumah setelah sebelumnya memasukkan surat itu ke dalam tasnya.

Kampus Universitas Airlangga Fakultas Ekonomi
Siang itu Tiara tak segera pulang ke rumah setelah kuliah berakhir, maklum, sebagai aktivis kampus ia punya banyak rapat dan agenda lain yang harus ia jalani selain kuliah. Namun langkahnya terhenti sebelum ia memasuki ruang BEM tempat ia harus rapat siang itu. Di tangannya tampak secarik kertas yang ia ambil dari amplop surat yang disampaikan bik Inah tadi pagi. Selain nama dan alamat lengkap tempat tinggal Tiara, tak ada lagi ID pada surat tersebut. Termasuk nama pengirimnya. Akan tetapi setelah membaca seluruh tulisan yang ada di secarik kertas yang dipegangnya dan memeriksa isi amplop itu, Tiara segera berbalik arah menuju tempat parkir dan memacu mobilnya sekencang mungkin, bukan untuk pulang ke rumah, melainkan ke airport. Tujuannya hanya satu, segera berangkat ke tempat dimana sang pengirim surat berada. Meskipun tak ada ID yang menandakan siapa pengirim surat di amplop surat tersebut, Tiara mengerti benar siapa sang pengirim surat tersebut.

This broken wings heal..................When you come to my life
This frozen heart become warm..................Since your light shines at me
Now I must aware that I.....................Fly to high n I’ve fell down
But I never sorry about it.................Cos I know frontier of my life
However...............When the rainbow hang in the sky
You’ll see me beside the angel.....................Who always protects us

Stadion Gelora Bung Karno, 10 Juli 2007
Tiara melirik jam tangannya sambil meletakkan badannya pada salah satu kursi VVIP di stadion terbesar di Indonesia itu. Nafasnya masih tak beraturan, sedikit kecapaian tampaknya. Namun ia masih merasa beruntung karena ia tiba tepat waktu. Sesaat sebelum pertandingan semifinal Asian Cup antara Indonesia melawan Iran.
Sebuah surat yang diterimanya tadi pagi dari bik Inah bersama sebuah tiket VVIP yang disertakan telah membuatnya berada di tempat yang mungkin tidak termasuk dalam agendanya hari ini. Akan tetapi, ia merasa ia harus berada di tempat ini. Bahkan kali ini ada semacam perasaan bersalah ketika ia memutuskan untuk tidak hadir di tempat ini sekitar seminggu yang lalu setelah bertengkar cukup hebat dengan Valent.
Benar, Tiara hadir di stadion karena ingin menyaksikan sekaligus mendukung Valent, sang pengirim surat tanpa ID tersebut sekaligus kekasihnya yang berjuang membela negara di arena yang sangat dicintai oleh kekasihnya itu. Di panggung yang mungkin dipilih oleh sang kekasih sebagai tempat terakhir ia menghembuskan nafasnya.
Saat ini Tiara mengerti benar apa yang Valent inginkan darinya. Tanpa berkata-kata banyak pun akhirnya Tiara sudah bisa mengerti betapa berharga dirinya bagi Valent. Sama seperti saat Valent memilih sepak bola ketimbang usianya sendiri. Tiara bisa pahami mengapa kekasihnya itu memutuskan untuk mengorbankan hidupnya demi sesuatu yang sangat dicintai dan menjadi impiannya sejak kecil. Dan ia tak keberatan jika pada akhirnya ia harus ditinggalkan oleh Valent, pergi ke dimensi lain. Yang mungkin hanya Allah yang mengetahuinya. Karena memang itulah jalan hidup yang dipilih oleh Valent. Jalan hidup yang membuatnya bahagia dan terus bertahan. Bahagia yang juga dirasakan oleh Tiara.

Hari menjelang petang saat wasit meniupkan peluit tanda selesainya pertandingan semifinal Asian Cup antara Indonesia dan Iran yang dimenagi oleh tuan rumah sekaligus menjadikan tiket ke final milik Indonesia. Seluruh suporter di penjuru negeri langsung bersorak meneriakkan kemenangan yang baru diraihnya. Hingga tiba-tiba sorak-sorai kegembiraan itu terhenti tatkala sang jenderal tim, Valentino Permana didapati tergolek pingsan di tengah lapangan. Tim kesehatan segera mencoba memberikan pertolongan pertama dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Tiara yang kebetulan tahu dimana Valent dirawat, segera bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud. Di sana ia bertemu dengan Ocha, kakak perempuan Valent, dan kedua orang tua Valent yang hari itu terlihat menemani Valent sepanjang hari.

“Tante.....Om....Valent dimana? Gimana keadaan dia?” Tanyanya panik ketika melihat kedua orang tua Valent hanya tertunduk diam dengan wajah penuh kesedihan.

“Valent lagi di ICU sayang, kita semua tidak diperkenankan masuk sampai dokter yang menanganinya menyelesaikan kewajibannya. Kamu yang sabar ya sayang.....Valent menitipkan surat ini pada tante sebelum ia bertanding hari ini.”

Air mata Tiara meleleh dari pelupuk matanya, tetes demi tetes yang keluar menunjukkan besarnya kepedihan yang dirasa saat membaca surat dari Valent untuknya. Kendatipun ia mengerti dan sudah bisa menerima keadaan Valent, bagaimana pun juga ia hanyalah wanita biasa, sama seperti wanita-wanita pada umumnya. Namun ia tahu, ia harus merelakan semuanya. Karena satu hal yang Tiara pahami, bahwa ia menyayangi Valent sama seperti Valent menyayanginya selalu hingga saat ia berjuang bersama ajal.

Teruntuk Peri kecilku yang selalu menemani hari-hariku:
I never know before.................
Something you keep in your heart
I also never know...................
If I understand what you want from me
Coz I’m not a superior people....................
Like another, I’m an ordinary people
But I have a dream to reach
I have a power to make it real
Unfortunately...........
I have no chance to make it comes true
When my lifetime is over and I must die
Before the dream that I looking for is found
I wanna you know and make sure, that
My dream is you, and will always you
Then, before I go and fly to His Love
I wonder to see the last beautifull smile
Which is made just for me
As a light to guide me through the heaven
Terima kasih atas cinta, senyum, bahagia, dan semua yang kamu berikan padaku.

-- Valent --

Sejuta Cerita yang Tertinggal

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillah....Terima kasih ya Allah...Matur nuwun Gusti.....Sore ini hanya itu yang bisa aku ucapkan. Jujur, terkadang aku merasa ungkapan syukurku baru pada taraf ucapan dan hati, belum ampe tindakan. Makanya itu, aku harus melatih lisanku terus untuk nggak cape bersyukur, mengatakan Alhamdulillah, seraya berusaha agar syukur itu termanifestasi melalui perbuatan. Amiin.
Aku baru aja selesai out bound sekitar 2 hari yang lalu. Kali ini di bawah bendera RBS. Jadi kalo diinget, ya...selama dua bulan ini aku kerja untuk tiga tim, MMK di awal April, DOBT di akhir April, dan RBS di pertengahan Mei. Alhamdulillah....malah akhir Mei ini RBS dan MMK bakal ada event yang sama. Mampus aku, mana dua-duanya waktunya hampir sama banget lagi. Kayanya aku harus memilih kali ini. Yaa..meski aku telah menentukan pilihanku saat ini. Karena aku punya “jabatan” di MMK ya...aku harus memenuhi tanggung jawabku itu (gaya banget nggak sih? Hehehe...)
Out bound kemarin...hmm..jadi kaya evaluasi nih. It’s okey-lah demi kebaikan bersama ini. Aku ngerasa beberapa hal, terlalu banyak cerita untuk dibagi, tentang aku, tentang RBS, tentang tim dengan Bu Frieda sebagai supervisor kami, tentang peserta, juga tentang lokasi dan penduduk sekitarnya. Banyak banget ya? Ada berapa bagian? 5 episode sendiri sebenarnya bisa 
Oke, nggak enak ngomongin orang lain sebelum kita introspeksi, kata orang bijak sih gitu. Biarpun aku juga nggak ngerti orang bijak mana yang ngomong gitu ya?? Let’s start from myself. Pas out bound kemarin, seperti biasa ada buanyaaaaaaak banget hal baru yang sama sekali tak terduga, yang mau nggak mau memberi warna baru dalam sejarah hidup seorang Rakhmad Herdiawansyah  Terakhir out bound ma DOBT akhir April lalu, untuk pertama kalinya aku out bound dengan dihajar hujan badai di lapangan. Alhamdulillah meski basah buanget, aku tetep sehat ampe pulang ke Semarang. Nah pas out bound di Salatiga ma RBS n Bu Frieda kemarin, kita melakukan hal gila yang mungkin nggak dilakukan oleh tim out bound dan trainer mana pun. Gimana nggak gila kalo kita out bound dikelilingi kuburan kuno yang dikeramatkan ma penduduk sekitar? Pantes aja aku heran melihat reaksi penduduk manakala mereka melewati venue kita. Semuanya, semua penduduk aku ulangi, berpesan dengan sangat serius (bahkan ada yang menampakkan wajah ketakutan) agar kami berhati-hati. Dan itu terjadi pasa semua penduduk yang lewat lokasi kami. Ternyata...biarpun aku seorang sarjana Psikologi, aku juga bisa dikategorikan sebagai orang gila. Masya Allah.....
Itu sekalian merangkum bagian 5 tentang lokasi dan penduduk sekitar out bound. Hehehe. Selain aku sadar kalo aku juga ikutan gila di RBS, aku ngerasa banyak belajar selama di lapangan. Aku belajar untuk tetap tegar, tetap fokus pada kerjaan, dan tetap melakukan yang terbaik apapun yang terjadi. Di lapangan kemarin aku banyak mengeluh, terlebih ma Binsar, gara-gara aku merasa alur komunikasi kita nggak jelas, jadwal simpang siur, nggak ada kepastian di banyak hal, n etcetra-etcetra. Tapi toh aku harus tetep maju dan jalanin semua itu. Alhamdulillah...aku mampu..meski sempet sedih juga karena ada beberapa kondisi yang bikin aku down. Malah setelah event Binsar ngaku kalo sebenarnya saat itu dia juga down n hanya bisa mengandalkan aku. Lah kok? Wong aku aja ngeluh mulu ma Binsar?.
Terus terang sejak awal aku merasa tim out bound kali ini belum punya pondasi yang kuat. Kami baru kembali bersama setelah lebih dari setahun kami berkerja bareng, tepatnya Maret 2008. Itu event RBS terakhir, setelah itu vakum ampe kemarin. Jelas koordinasi dan komunikasi belum lancar dan padu kembali. Dan ternyata masalah koordinasi itulah yang menjadi inti yang sebenarnya harus kami selesaikan dahulu. Karena koordinasi yang buruk mengakbatkan banyak miss saat di lapangan. Hanya karena kami rata-rata telah berpengalaman di out bound serta telah mengenal satu sama lain secara personal yang membuat kami bisa melalui semua. Itu soal RBS dan aku. Soal kerja sama dengan Bu Frieda lain lagi.
Logikanya ketika dalam tim RBS aja koordinasi belum solid n terancang dengan baik, apalagi dengan klien, yang notabene adalah Bu Frieda n tim. Bahkan pada malam menjelang out bound pak Pri, asisten bu Frieda sempet menunjukkan rasa kecewanya atas kesimpang siuran informasi yang didapat dari RBS. Dia merujuk pada informasi yang diberikan mas Tomy sebagai General Affair RBS, masalahnya informasi tersebut ternyata nggak nyampe ama kita. Jadi ya kita hanya bisa bengong manakala pak Pri ngomel banyak hal. Aku cuma berusaha menenangkan beliau pada akhirnya. Paling tidak, beliau nantinya masih mau kerja ma RBS.
Alhamdulillah-nya, out bound kita nggak mengecewakan, meski pada akhirnya kita cukup banyak pengeluaran (yang berimbas pada gajiku...hiks...). Bu Frieda bahkan mengucapkan banyak terima kasih dan begitu pula temen-temen yang lain. Satu hal penting yang cukup mengganjal dan ingin aku ungkapkan adalah...soal klien yang memakai jasa kami (Bu Frieda+RBS). Terkisah, sebuah instansi pemerintahan tingkat propinsi adalah klien kami, tujuannya untuk membekali para peserta out bound yang akan diikutkan pada lomba antar propinsi se-Indonesia Raya dengan materi-materi Psikologis. Yang menyedihkan adalah...anggaranya bo! Bukannya minim, aku pikir pemerintah sudah cukup fair dengan menganggarkan dari APBN atau APBD, eh ndilalah di lapangan anggaran itu kok ditilep sendiri. Itu dilakukan tanpa malu-malu lagi! Secara terang-terangan mereka meminta tanda tangan kami para trainer untuk laporan gaji mereka. Pada laporan itu tertulis bahwa profesional fee kami bekisar antara 1 juta – 4 juta rupiah, tergantung posisi masing-masing, padahal yang diberikan jauhhhh banget dari angka tersebut. Sisanya mana?????? Itu juga baru profesional fee, belum yang lain...Ups! jadi su’udzon... tapi lha wong kenyataannya seperti itu. Dan instansi yang bersangkutan seolah bermuka badak dalam melakukan itu, masak aku harus-malu-malu ceritain itu? Cerita yang sebenarnya memprihatinkan namun dianggap biasa karena telah jadi rahasia umum? Mau dibawa kemana negeri ini nantinya? Naudzubillahi min dzalik...Moga aku nggak terjerumus ke dalam hal-hal yang seperti itu....
Aku pun banyak belajar dari kejadian itu serta out bound kemarin. Aku juga mulai sadar kalo aku udah terlalu money oriented. Padahal rizqi Allah bukan semata-mata duit dan materi. Aku diingatkan Allah akan apa yang aku tulis sendiri. Tentang cita-cita luhur, tentang idealisme, dan tentang melakukan karya yang terbaik selama masih hidup di muka bumi ini, semata-mata demi mengharap ridho Allah semata. Alhamdulillah... Terima Kasih Ya Allah.....Matur Nuwun Gusti....
Wallahua’lam bi showab

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

A Walk to Remember

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Denting yang berbunyi dari dinding kamarku
Sadarkan diri dari lamuna panjang
Tak kurasa malam kan semakn larut
Ku masih terjaga.........

Yah...sebenarnya sih belum malem-malem banget sih pas aku mulai nulis. Hmm...serius nih, kayanya aku nggak bisa stripping tiap hari. Huh! Boro-boro tiap hari, terakhir aku nulis tanggal 12 April, sekarang 8 Mei. Hampir sebulan bo! Eniwei, namanya juga proses, untuk jadi penulis beneran mang butuh disiplin, konsisten, kemauan, dan...waktu. Kayanya emang yang no empat yang paling susah buat aku hehe... sori ngeles, maklum, orang Indonesia memang banyak pemakluman, kata temanku sih 
Well...sumpah sebenernya aku sejak sebulan yang lalu itu udah pingin nulis. Udah buanyaaaak banget yang pingin aku ceritain dan aku bagi, tapi ya itu, kayanya sekarang ini waktu itu sangat mahal buat aku. Jadi kalo buat ngeluangin waktu untuk nulis pun rasanya susah. Positifnya sih, waktuku jadi banyak manfaatnya dan nggak sia-sia. Alhamdulillah...pokoknya apapun yang terjadi tetep Alhamdulillah. Coz in every out step, there’s always time to learn and do much better in tomorrow.
Sambil nulis, aku lagi nonton Armagedon-nya Bruce Willis. Film lama sih, tapi aku suka action dengan bumbu persahabatan dan perjuangan demi orang lain seperti itu. Ga tau, rasanya menyentuh aja. It’s seem like what I’ve felt recent days. Entah sudah berapa lama aku kenal persahabatan, mengerti tentang pengorbanan demi orang lain, rasanya aku hanya baru pada taraf mengerti, kalo harus membandingkan dengan tokoh di film. Oke, kita bisa bilang kalo di film hanya rekayasa, not real, coz they are made to entertain us. Tapi gimana pun juga, kita bisa belajar dari apapun. Karena dalam proses belajar adalah bukan hanya tentang siapa yang memberikan pelajaran, tapi juga apa yang sanggup ia ajarkan pada kita. Itu kan yang lebih substansial? Yang merupakan inti dari belajar itu sendiri?
Beberapa minggu ini, setiap langkah kakiku banyak memberiku pelajaran penting dalam hidup. Bukan hanya memberi warna, tapi juga makna dalam catatan umurku. Pelajaran itu tentang kerja keras, cita-cita, dan tekad. Terus terang kalo ingat yang baru aku alamin, jadi pingin senyum sendiri. Dua episode terakhir tulisanku berbicara getirnya hati saat dukungan keluarga memudar atas usahaku untuk mencapai cita-cita. Aku menganggap itu sebagai ujian yang sifatnya negatif. Kalo kita analogikan dengan hal lain, mungkin aku menyamakan dengan ketika kita diuji oleh Allah dengan kemiskinan. And then, everything gonna change. Tak perlu menunggu waktu lama untuk mendapat “kebalikannya”, saat tekad maupun cita-cita telah ditetapkan, dan saat kerja keras menjadi lokomotifnya, saat itu pula ujian dan cobaan datang dan pergi. Bila dengan ujian negatif bisa kita lalui, bukan berarti kita telah mendapatkan liburan kawan, ujian positif itu akan singgah untuk menggoda tekadmu. Itu aku alamin waktu aku dapat sms om-ku yang di Jogja. Beliau menganjurkan aku untuk gabung di salah satu lembaga out bound di Jakarta (kayanya) dengan alasan agar aku bisa belajar di perusahaan yang besar. Yah...mungkin setelah diuji dengan kemiskinan, kita akan diuji dengan kekayaan. Sounds like that 
Aku memutuskan untuk menolak tawaran itu secara halus. Bergabung dengna tim out bound di Jakarta (walaupun mungkin lebih profesional dan bergaji tinggi) artinya meninggalkan teman-temanku di Semarang begitu saja, itu juga berarti aku melupakan mimpiku tuk jadi trainer dan pengusaha yang sukses. Karena pertimbangan itulah aku pilih tetap di Semarang, dengan apapun resiko dan tantangannya. At least I know that I’m not alone. I still have Allah to ask, to hope, and to pray. Dan aku percaya, seperti yang udah aku ungkap sebelumnya, bahwa jejak langkah yang telah kita lalui adalah pelajaran sejarah yang amat berharga bagi kita di masa depan.
Masih cerita tentang jejak langkah yang bermakna dalam hidup kita. Namun kali ini Allah membantuku dalam membuat jejak tersebut lebih bermakna. Here the story:
Kurang lebih setahun yang lalu, aku masih berjuang agar tim out bound dimana aku menjadi bagiannya mampu eksis, berkembang, at least cash flow-lah, sehingga aku bisa mengandalkan hidupku di bidang itu. Entah mungkin aku hanya berusaha secara lahir, dalam artian secara fisik saja, aku ngerasa kurang berhasil. Karena ternyata hambatan yang ku rasakan lebih besar daripada kemudahan yang ku dapat. Hampir aku putus asa saat itu, meski saat itu pun aku juga belum tahu apa yang harus aku lakukan dengan “mimpi”-ku itu. Tapi sekarang, aku merasa roda kehidupanku telah berputar. Aku punya tiga tim, yang yah...meski belum sepenuhnya cash flow seperti yang ku inginkan, tapi telah bergerak maju ke depan, dan kan jadi lebih baik. Selain itu, aku selalu merasa bahwa Allah semakin dekat membimbingku, memberikanku kemudahan, bahkan lebih dekat dari urat leherku kala membimbing langkahku. Sebuah langkah kecil untuk memulai langkah besar. Sebuah langkah untuk menggapai semuanya. Dan sebuah langkah yang yang kan terus dan selalu untuk dikenang.

So, I lay my head back down..........
And I lift my hands and pray........
To be only yours, I pray, to be only yours
I know now you're my only hope......

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillah.... Atas Akhir Tahun yang Indah

Senin 29 Desember 2008 a.ka. 1 Muharram 1430 H
Episode #18

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillah.... Atas Akhir Tahun yang Indah
Happy new year!!!!! Hari ini 1 Muharram nih, sekitar 14 abad yang lalu Rosulullah SAW mempersatukan kaum muslim Anshar dan Muhajirin di Madinah. Dan itulah tonggak sejarah baru peradaban Islam. Subhanallah, mengutip ucapan Din Syamsudin, ketua PP Muhammadiyah semalam, semoga semangat hijrah senantiasa memayungi derap langkah kita, Amiin.
Well, di tahun bari ini aku juga beberapa resolusi yang ingin aku kerjakan n dengan izin Allah aku ingin it comes true. Tapi sebelum ngomongin soal itu, I wanna talk about my happy ending at final day on 1429 H. Alhamdulillah.... Cuma itu yang aku bisa persembahkan atas Allah berikan padaku kemarin. Well, actually it wasn’t a very-very special day for me, but I don’t know, I just feel I miss it. And it never happen anymore since a several time, till yesterday of course.
Sebenarnya aku kemarin hanya hadir di acara pernikahan mba Elita, seniorku di kampus dulu. Karena dia nikah di Magelang, kediaman dia, ya otomatis aku numpang ma senior yang lain yang seangkatan dengan dia. Yah... kalo dipikir-pikir sih emang ga ada yang spesial, orang aku cuma datang ke acara nikahan teman aja. Tapi kalau mau dirunut dari awal, mungkin itu yang spesial.
Sekitar awal bulan ini, aku sudah dapat kabar dari teman-teman kalo mba Elita mo married, tadinya aku nggak berpikir untuk hadir di acara mereka, tapi semua berubah saat mba Elita sms aku, isinya sih undangan. Yah...salah satu kewajiban muslim terhadap saudaranya adalah mendatangi undangannya. Itu yang terlintas di benakku saat pertama baca sms undangannya, tapi setelah agak lama berpikir, aku jadi sadar, dari mana dia dapat nomor HP-ku yang baru? Aku bahkan kemudian berpikir, waow, ternyata mbak Elita masih ingat aku. Dan itulah yang mendorongku untuk memutuskan datang di acara bahagianya Mba Elita. And that’s not a bad desicion  Coz what? I’m glad to be there. Setelah acara kami sempet “jeng-jeng” ke Ketep. Bukan jeng-jengnya sih yang istimewa, tapi kebersamaannya itu loh... Kumpul-kumpulnya yang menyenangkan. Aku bahkan merasa merindukan itu. Jujur aja, aku merasa nyaman banget, even they’re not my peer! Aku merasa dihargai di sana, aku merasa keberadaanku ada artinya di sana, bersama mereka, dengan mereka. Ketawa bareng, gila-gilaan bareng. That’s amazing...
I don’t know...mungkin cara berpikirku yang sometimes want to be different from other make me sensitive. Bayangin aja, kita udah sama-sama dewasa, udah punya urusan n kerjaan masing-masing, tapi hubungan kami kemarin tidak hanya berlangsung secara formal dan mekanis, tapi juga terjalin melalui sebuah ikatan emosi. Lewat acara kumpul-kumpul kemarin aku merasa kalo seperti inilah seharusnya sebuah hubungan pertemanan, persahabatan, bahkan persaudaraan. Nggak ada sekat di antara kami kemarin. Nggak ada yang merasa I still have a work at home, I still have a important bussiness afterthis. Yang mungkin saat itu kami pikirkan adalah this is our time, so just enjoy it, we never meet together before, and when it happens we just talk about quality time not only a quantity. That’s what a friendship. Waallua’lam bi showab

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


Saat Hanya Allah yang Tersisa di Hati

Aku tak pernah takut pada sebuah ketidak pastian
Toh beberapa hal di dunia ini memang berupa ketidak pastian
Bagaimana pun juga semua hal telah tercipta berdasarkan pasangannya
Kalau memang ada kepastian, bukanlah suatu yang aneh
Bila ketidak pastian melengkapi setengahnya
Aku juga tak pernah khawatir tentang masa depan
Karena sesungguhnya, andai kita menyadarinya lebih awal
Bahwa masa depan adalah rancangan takdir terindah dari-Nya
Dengan kita sendiri sebagai arsiteknya
Banarkah demikian adanya? Akankah terus seperti itu?
Lalu mengapa kita memaksakan takdir yang bukan takdir kita?
Mengapa justru kita melukis takdir orang lain dalam lembar hidup kita?
Tidak adakah tempat bagi mimpi dan cita-cita?
Haruskah semua menyerah atas nama kondisi dan keadaan?
Bukankah kita juga turut merajut kondisi itu?
Bukankah keadaan itu ada karena kita meng-ada-kan?
Mungkin....kita telah terbang terlalu tinggi
Mungkin pula sayap kita mulai letih terkena goncangan
Hingga kita merasakan tak ada yang bisa menolong
Tak seorang pun bahkan mengerti yang kita rasakan
Atau malah kita tak lagi merasakan apa yang harus kita rasa
Sampai kita menyadari bahwa saat itulah
Saat hanya Allah yang berada di hati kita

Berpegang Mentari tuk Hadapi Badai


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulllahi rabbil ‘alamiin. Terima kasih ya Allah... Engkau terus memberikan nikmat yang tak terhitung. Well...sebenarnya udah seminggu yang lalu aku mo update blog-ku ini. Aku mo cerita tentang event terakhirku, pelatihan bwat salah satu instansi pemerintah di kota Semarang yang...waow...such a amazing experience. Tapi ternyata seminggu setelah event pun aku masih lumayan banyak kerjaan, ditambah lagi bakal ada event lagi di akhir bulan dan awal bulan depan, ya aku jadi harus merelakan waktuku ngetik blog tersita. Tapi semua itu telah usai bung! Yaa...meski sementara sih...paling nggak dua hari ini aku dapet liburan n nggak harus mikirin event atau tim lagi. Apalagi mikirin DUIT! Sori katarsis dikit. Soalnya pagi ini aku baru aja ditelepon seseorang yang intinya aku harus cari duit yang datang padaku secara tetap dan rutin. Kenapa sih harus duit mulu? Oke kita butuh duit itu pasti, tapi apa terus semua harus duit? Huff...
Astaghfirullahal adziim.. eniwei, jadi emosi nih aku. Okelah ganti topik lagi aja... Kita mulai dari event-ku aja ya...The amazing experience. Yah...itu yang aku dapat. Salah satu alasan kenapa aku menyukai dan semakin mencintai pekerjaanku adalah aku selalu bertemu orang baru, karakter baru, dan tentu pengalaman baru yang unik bersama klien-klien kami. Itu terbukti kemarin. Aku udah sangat sering sekali melakukan out bound maupun pelatihan bersama klien dari berbagi instansi dan lembaga. Tapi tetep aja aku nggak bisa nebak apa yang bakal terjadi (Ya iyalah! Emang dukun?) Maksudku, biarpun udah sering aku ber-event ria, toh tetep aja aku menemukan pengalaman n kejadian yang nggak aku duga sebelumnya. Contohnya di event kemarin nih ya, untuk pertama kalinya aku “bisa” ngebentakin peserta yang notabene udah bapak/ibu n kakek/nenek (Bangga gitu?) Yaa...itu cuman contoh..biar mudah diingat aja...Sebenarnya buanyak banget tapi kan aku punya kewajiban menjaga kerahasiaan data dan kodisi klien, so maaph banget kalo nggak cerita. Kode etik je... (Ceilee... Sori nggaya dikit )
Terussss apa ya...oya, sebenarnya aku punya tiga tim pelatihan di Semarang, tapi baru satu yang bisa jalan. Yah..penyebabnya tentu saja karena satu dan lain hal. Tapi Alhamdulillah di awal bulan ini semua tampak semakin cerah (emang bisanya mendung ya?) Ya...paling nggak harapan untuk tiga tim jalan bersamaan itu ada, dan semakin menunjukkan eksistensinya (Hwalah! Opooo kuwi???) Hanya saja...masih ada beberapa kerikil tajam yang harus disingkirkan terlebih dahulu untuk membulatkan tekad agar sebulat telur asin (Hmm...bahasanya itu loh...emang orang ngerti?). ceritanya gini, semenjak 2006 awal, aku membentuk semacam tim out bound ma temen-temen di Semarang, Red By Star (RBS) itu namanya, sori aku nggak banyak cerita, ntar bisa abis data 40 giga lagi. Sampai sekarang masih ada, tapi kurang eksis. Ya itu tadi, karena satu dan lain hal. Lalu pertengahan tahun lalu aku bergabung dengan Diponegoro Out Bound Training (DOBT) hingga kini. Namun nasibnya nggak berbeda jauh dengan RBS, lagi-lagi karena karena satu dan lain hal hehe... Dan akhir tahun kemarin aku ikut Media Mitra Keluarga (MMK) di bawah bimbingan dosenku pas kuliah dulu. Hingga kini baru MMK yang masih banyak kegiatannya, meski belum banyak duit hehe...
Alhamdulilah-nya di bulan ini ternyata menjadi bulan yang luar biasa bagi ketiga tim-ku tadi. MMK semakin eksis dan siap “bersaing” dengan lembaga lainnya, sementara RBS kayanya bakal dapat supervisor baru, seorang psikolog terkenal di Semarang, dulu juga dosenku (Aku jadi kerja dengan para dosen-dosenku nih..) Dan DOBT, meski pelan-pelan waton kelakon udah mulai berjalan kembali roda organisasinya. Hanya...namanya hidup pasri selalu adaaa..aja ujian dan cobaan. Yah...insya Allah aku tetap khusnudzon ma Allah.. Aku percaya Allah pasti memberiku jalan yang terbaik.
Kemarin, Danang, temen baikku di tiga tim tersebut sempet cerita kalo dia “ditegur” temen-temen di RBS. Katanya dia terlalu terbawa euforia kesuksesannya di MMK ke dalam RBS. Padahal menurut temen-temen RBS dan MMK itu beda. Hhhh..cuman itu komentarku saat itu. Oke, MMK dan RBS itu beda, sip! Bener banget! Lha tapi apa harus langsung diperbesar perbedaan itu??? Jujur aku nggak ngerti maksud hati temen-temen RBS dengan bilang bahwa Danang sebaiknya tidak terlalu membawa euforia MMK di RBS. Aku hanya merasa kalo euforia itu sifatnya positif dan memberikan akibat yang positif juga, kenapa harus nggak boleh? Kenapa justru mereka mematahkan semangat temannya yang sedang on fire? Toh kalo ternyata hasilnya positif dan memang sudah terbukti positif kita-kita juga sebagai tim RBS yang akan untung dan menikmatinya. Kenapa harus seperti itu seeh..
Tampaknya memang kerikil-kerikil dalam perjalanan hidup memang selalu ada. Mungkin kerikil-kerikil itu juga yang kan membuat kita menjadi lebih baik. Insya Allah.. Terus terang, apa yang dirasakan Danang, aku merasakannya juga. Aku merasa aku sedang berusaha menggapai mimpi dan cita. Tapi entah kenapa ada seseorang yang lebih mementingkan citra diri dan materi memaksaku untuk meninggalkan cita-citaku, dan hidup “normal” layaknya orang kebanyakan. Sekolah – kuliah – lulus – kerja – dapat duit. Dan yang dinamakan “kerja” adalah jadi karyawan perusahaan A, perusahaan B, atau punya NIP di departemen A atau departemen B. Selain itu bukan kerja! Karena DUITNYA NGGAK BANYAK!!!
Padahal sekali lagi Hidup bukan cuman materi. Sampai kapan pun cita-cita luhur selalu mendapatkan tempat yang terhormat selama kita terus berusaha. Bagaimana pun semua butuh proses, dan tiap proses butuh waktu karena sukses dan kebahagiaan dicapai tidak dengan cara yang instan! Wallahualam bi showab

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Sehat itu Nikmat Allah loh...


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulllahi rabbil ‘alamiin. Terima kasih ya Allah... Engkau selalu menuntun hariku kepada hal-hal yang bermanfaat. Biarpun nggak semua menghasilkan duit (Busyet!!!), tapi paling nggak aku produktif dalam penggunaan waktu. Maaf ya, pagi-pagi gini malah ngomongin duit. Nggak bermaksud materialitis atau duitis. Cuman emang pada beberapa hari ini (atau lebih tepatnya minggu) aku lagi ada event bwat pelatihan, maklum trainer hehe...(Nggak sombong loh...congkak aja dikit hihihi ). Oleh karena itu...waktuku jadi terpakai buat ngurusin event itu. Padahal sebenernya masih ada satu lembaga pelatihan (dari tim lain tentunya) yang masih harus aku urusin, udah gitu bulan depan aku juga merencanakan buka warung makan-ku (Buat yang udah baca blog ini AWAS kalo nggak dateng ke warung kalo udah buka hehehe...). Sebenarnya sih aku seneng pastinya, ya itu tadi waktuku jadi bermanfaaat. Tapi karena banyaknya schedule- schedule di atas aku jadi ngerasa capeeekk banget beberapa hari ini. Ditambah lagi, nafsu makanku suka datang dan pergi seenaknya, model jailangkung gitu, datang tak diundang, pulang tak diantar 
Maka nggak heran kalo jebol juga pertahanan fisikku. Ampe sekarang aku masih ngerasa radang tenggorokan belom sembuh-sembuh, masih juga bersin-bersin karena flu, dan body rasanya masih aja berat (bukan gendut loh! Ingat, BERAT!) tidur udah 8 jam semalam pun nggak cukup buat ngurangin pegel-pegel body. Any suggest?
Kalo di pikir-pikir sih, hidupku cukup teratur, kecuali makan kayanya. Olah raga, seminggu sekali futsal, tidur at least 6 jam sehari, tapi ya itu maemku susah. Apa aku nikah aja ya biar ada yang masakin? Hehe...tambah ngelantur malahan. Ty lagi penelitian buat skripsinya, kalo tiba-tiba aku langsung bilang “dek, kita nikah yuk...” bisa-bisa saking kagetnya dia langsung kurus (huhehehe...sori dek, b’canda). Ternyata toh, emang kalo kita sehat, kita fit body-nya rasanya enaak banget buat ngapa-ngapain. Yah...gimana pun juga sehat itu menyenangkan. Sehat itu juga nikmat Allah. Dan betapa mahalnya yang namanya kesehatan itu. Tapi kadang kita justru tidak mensyukurinya, dan baru menyadari bahwa sehat itu nikmat yang mahal saat kit udah nyampe dokter, saat kita harus dirawat di rumah sakit, bahkan kita baru sadar saat kita mampir di meja operasi atau ICU Hii...naudzubillahi min dzalik.
Beberapa minggu ini, aku sering mengunjungi BKPM wilayah Semarang. Balai Kesehatan Paru Masyaratkat. Sebuah instansi yang mengurusi penyakit paru di bawah koordinasi dinas Kesehatan Propinsi Jateng yang juga klien kita buat event mendatang. Karena sering kesana aku juga sering menjumpai banyak banget pasien-pasien dengan keluhan penyakit paru yang dideritanya. Dan yang paling banyak adalah pasien TB atau TBC (Tubercolosis). Udah tau semua pasti kan apa itu TB n TBC?  Yang baru aku tahu tentang penyakit tersebut adalah seberapa parah penyakit TB atau TBC itu. Bayangin, seseorang yang sudah didagnosa terkena TB atau TBC harus secara total mengubah pola hidup, makan, tidur, olah raga, atau aktivitas lainnya. Tapi yang paling bikin aku begidik, pola penanganan penyakitnya. Pertama, selama tiga bulan pasie harus disuntik obat yang namanya.....sori lupa ntar aku liat lagi kalo kesana hehe... tapi intinya pertolongan pertamanya ya itu suntik obat tiap hari selama tiga bulan!! Gimana nggak bengkak abis tuh pantat? Aku sebenarnya nggak takut jarum suntik, tapi kalo tiap hari? Weleh... Belum lagi obat tablet atau kapsul yang harus juga dikonsumsi. Wah..wah... ini aja baru satu sakit yang agak parah. Gimana kalo banyak kaya komplikasi gitu? Semoga Allah terus menjagaku untuk terus sehat. Emang deh, sehat itu termasuk nikmat Allah yang luar biasa yang diberikan pada makhluknya. Tapi kalaupun kita diberi sakit, aku pikir kita nggak boleh seenaknya aja “momvonis” Allah nggak sayang lagi ama kita. Allah cuman ingin meninggikan derajat kita melalui sakit, tentu saja selama kita bisa menghadapi sakit itu dengan syukur dan tetap berbaik sangka pada Allah, khuznudon sama Allah. Nah loh..jadi kuliah subuh nih. Biarin aja, toh blog-ku sendiri ini hehehe...

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,”
Q. S. Asy Syu'araa': 80

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Dear God.......

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulllahi rabbil ‘alamiin. Matur nuwun Gusti... Terlalu banyak nikmat yang udah engkau berikan padaku. Semoga itu membuat aku semakin bersyukur, yaa..meski kadang masih agak bandel. Hehehe...sori ngeles Gusti  Hmm...Sebenarnya buanyaaak banget yang aku ingin tulis. Jadi bingung malah harus mulai dari mana
Umm..mungkin aku mau cerita saat aku pulang ke rumah di Sidoarjo. Rasanya udah cukup lama aku nggak pulang. Lima bulan kayanya. Oke, aku tahu untuk anak kos yang rumahnya AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) kaya aku, lima bulan itu bukan waktu yang lama banget, tapi berhubung aku bukan lagi mahasiswa, lima bulan itu jadi lama, lha wong sebenarnya kalo aku mau aku bisa pulang kapan pun aku mau. Tapi ya itu, kadang aku sayang biaya ama tenaga. Mudah-mudahan aku bisa pulang naik pesawat secepatnya Hihihi...Amiin..
Yuph! Sekitar seminggu yang lalu aku pulang n kangen-kangenan ma Ibu n adekku atu-atunya. Oya, sama ziarah ke makam Bapak. Tempat aku “melaporkan” sampai dimana progress report dari “proyek” idealisme yang telah Bapak curhatkan padaku. Sampai sekarang aku masih ingat keinginan Bapak untuk jadi seorang job maker. Yang samapai beliau dipanggil kehadirat-Nya, keinginan itu tinggal cita-cita yang belum tercapai. Entah mengapa, aku merasa saat ini, akulah yang akan melanjutkan. Sekarang sih mungkin belum bisa gaji orang, tapi paling nggak bisa ngajak temen-temenku bwat menghasilkan duit bareng. Alhamdulillah...
Pas di rumah, sempet juga diskusi ma Ibu soal masa depanku. Mulai pekerjaan ampe rumah tangga. Yang agak berat yang terakhir sih. Tadinya aku berharap aku nikah usia 25-an. But now...kayanya harapan itu harus mengalami peninjauan kembali oleh mahkamah akal sehatku  Aku belum punya apa-apa bo...Tim Out Bound, Alhamdulillah udah punya tiga tim (ga nyombong kok...Sumpah ) tapi belum cash flow, rencana buka warung makan....belum bisa terlaksana. Makanya pas ngomongin pekerjaan n rumah tangga ma Ibu, dua hal yang sebenarnya berkaitan. Aku jadi lebih banyak mencoba berpikir realistis. Mana ibuku orangnya ambivalent. Sekarang A, tiga jam kemudian bisa jadi B (Hehe...sori curhat). Tapi gimana pun juga aku Insya Allah terus bersyukur, sambil terus positif feeling. Semua hanya proses, yang penting terus berusaha, harus lebih baik dari kemarin, dan kenceng doanya ma Allah 
Waktu di rumah juga aku jadi sering dengerin “Graduation”-nya Vitamin C. Kayanya lagu itu lagi “tune-in” di hati deh. Aku jadi inget semuamua temen n sahabatku. Mulai SD (Pas TK aku nggak punya sahabat atau teman yang sebenarnya, belum ngerti sih ) ampe kuliah sekarang. Apa kabar ya mereka semua? Ampe aku nulis dua note di facebook yang isinya reff-nya Graduation. Kayanya aku lagi kangen banget buat gila-gilaan ma temen-temen lagi. Abis biasanya ga bisa, harus inget umur hehe...
Oya, buat temen-temenku...yang lagi apes baca blog ini (hehe...) yang juga tinggal di Semarang dan sekitarnya, khususnya Tembalang. Ada tempat nongkrong baru yang asik abis loh...Bukannya berniat promosi, soalnya jujur aku nggak kenal ama yang punya, nggak juga tanam saham di sana, juga nggak ada temen yang kerja di sana. Hanya saja aku terkesn ama pelayanan n temapatnya yang emang asik banget. Alamatnya, aku lupa!!! Sori aku lagi dodol sekarang, yang jelas masih daerah Ngesrep yang ke arah Undip Tembalang, sebelum bubur ayam pak Brewok pas kanan jalan. Nah loh...bubur ayam pak Brewok jadi ikutan kesebut deh  Nama cafe-nya aku juga lupa! Muaaphkan kedodolanku pren. Tapi yang jelas aku suka tempat itu. Silahkan cari aja, siapa tau tertarik 

As we go on.....We remember....
All the times we....Had together
And as our lives change.....Come Whatever
We will still be......Friends Forever

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Aku Hanya Ingin Agar Aku Banyak Bersyukur Pada-Nya


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulllahi rabbil ‘alamiin. Matur nuwun Gusti... Entah kenapa tiba-tiba aku merasa kalau Allah nggak pernah lelah menunjukkan sayang-Nya padaku, padahal aku termasuk hamba yang agak bandel  Tapi aku juga lebih nggak bisa n nggak berani membayangkan kalau Allah udah nggak sayang lagi padaku. Naudzubillahi min dzalik. Kalau dipikir sih, aku emang nggak pernah meragukan keberadaan dan kekuasaan-Nya. Hanya saja sebagai hamba, mungkin aku belum bisa bersyukur. Terlebih bersyukur melalui perbuatan dan dalam kehidupan sehari-hari.
Rosulullah SAW pernah ditanya seorang sahabat, mengapa beliau masih rajin melaksanakan shalat dan ibadah-ibadah yang lain? Padahal Allah SWT telah menjamin bahwa beliau akan masuk surga tanpa hisab (kalau aku salah dikoreksi ya..) dan yang mencengangkan adalah jawaban Rosulullah saat itu. Beliau malah bertanya balik, “Tidakkah boleh bila aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” Subhanallah...yang bilang itu Rosul loh, kekasih Allah, penghulu para Nabi dan Rosul yang telah mendapat jaminan masuk surga tanpa hisab. Tapi beliau masih saja terus beribadah, sebagai ungkapan syukur atas penghargaan Allah yang diberikan padanya. Lha kita? Boro-boro masuk surga tanpa hisab, masuk surganya sendiri aja belum tau iya apa kagak, tapi tingkahnya malah jauh dari yang dicontohkan Rosul.
Okelah, sebagai muslim kita memang harus optimis bahwa kita akan masuk surga, at least, itu uda bisa bikin kita ayem duluan. Paling tidak kita “selamet” karena telah memeluk agama yang sama dengan yang didakwahkan Rosulullah. Cuman masalahnya adalah apakah kita masuk surga segera setelah hisab atau setelah bertahun-tahun, beratus-ratus bahkan berjuta-juta tahun kita “mampir” dulu di neraka untuk disucikan dan mendapatkan balasan setimpal atas perbuatan kita di dunia? Hii...kalau inget jadi takut sendiri. Apalagi kalau ingat segala macam dosa dan salah yang pernah dibuat. Meski manusia adalah tempat salah dan dosa, tapi kan tetep juga kita bisa jadi manusia yang sempurna, atau mungkin mendekati sempurna, tentu saja dengan banyak-banyak pertolongan dari Sang Illah, tanpa itu kulo niki sinten to?
Aniway, kembali ke masalah syukur tadi, entah aku udah beli beberapa buku yang “mengajari”-ku untuk ikhlas, bersyukur pada-Nya. Kayanya belum sepenuhnya bisa dipraktekin deh. Yah...moga itu hanya proses yang mesti aku lalui untuk bisa menjadi hamba yang terbaik bagi-Nya. Sama seperti proses yang aku jalankan saat ini untuk mencapai cita-citaku menjadi seorang trainer. Aku hanya bisa berusaha sekuat tenaga dan sebaik mungkin, sementara soal hasil akhir hanya Allah yang tahu yang terbaik bagiku, tugasku hanya berserah, tawakkal, dan selalu khusnudzon pada Sang Maha Segalanya. Itu pula yang diajarkan dosenku, yang sekarang jadi bos-ku. Cobalah untuk positive feeling. Karena itu akan sangat membantu kita untuk mencapai yang terbaik. Dan mungkin pula, seperti itulah bentuk syukur yang mampu aku panjatkan, yang aku ungkapkan atas segala hal yang telah Allah berikan padaku. Bagaimana pun juga Aku Hanya Ingin Agar Aku Banyak Bersyukur Pada-Nya

Dan demi nafas yang telah Kau hembuskan dalam kehidupanku...
Ku Berjanji Ku akan menjadi yang terbaik....
Menjalankan segala perintah-Mu menjauhi segala larangan-Mu
Adalah sebaris doaku untukmu.....

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Beginikah Potret Manusia Indonesia Sesungguhnya?


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Well, this my first write in 2009. Hmm.. udah sekitar 20 hari aku nggak nulis, payah deh.. Gitu mo jadi penulis hehehe... Tapi mudah-mudahan ini bakal jadi awal yang baik buat tekadku itu.
Kemarin, 15 Januari 2009, pemerintah secara resmi memberlakukan harga baru BBM (Bahan Bakar Minyak) yang diturunkan kembali dari Rp. 5000,00 menjadi Rp. 4500,00 per liter-nya. Itu berarti dalam selang dua bulan ini pemerintah melalui presiden SBY telah dua kali menurunkan kembali harga BBM, setelah sempat melambung pada awal Desember kemarin menjadi Rp. 6000,00 per liter akibat meroketnya harg minyak dunia sampai menembus kisaran US $140-an per barel.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin. Matur nuwun Gusti, ternyata janji-Mu untuk terus bersama orang-orang yang sabar benar-benar terbukti. Bagaimana pun juga penurunan harga BBM ini mestinya akan memberikan efek domino yang baik bagi seluruh anak negeri ini. Lha wong kalo (harga) BBM naik aja, (harga) semua barang ikutan merambat naik, masak pas harga BBM turun, harga-harga yang tadinya naik masih keukeuh di atas? Kan nggak adil kalo kaya gitu...
Sayangnya...kita masih berada di Indonesia, negara yang konon masih tergolong negara dunia ketiga. Hehehe.. Buktinya salah satu induk organisasi yang mengurusi bidang angkutan umum di Jakarta (Organda) malah belum juga bersedia menurunkan tarif angkutan umumnya. Bahkan pemerintah, malalui menteri perhubungan sampai harus turun tangan untuk mendesak Organda agar segera munurunkan tarif angkutan umum. Presiden SBY pun sampai melakukan sidak (inspeksi mendadak) di beberapa terminal dan stasiun untuk mengecek apakah tarif angkutan telah turun kemarin.
DPP Organda beralasan bahwa penurunan BBM tidak serta merta bisa menurunkan tarif angkutan umum, karena menurut mereka variabel harga tersebut bukan hanya dari BBM tapi juga dari onderdil (spare part) kendaraan yang digunakan untuk perawatan serta harga beli kendaraan. Hmm..sebentar-sebentar. Kalo diamati sekilas, alasan tersebut memag masuk akal, tapi kok ada yang aneh ya? Oke, kita coba runut satu-satu. Pertama kalo memang BBM bukan satu-satunya variabel penentu besarnya tarif kendaraan umum, lalu mengapa ketika harga BBM naik Organda langsung berkoar sedang menghitung besarnya kenaikan tarif angkutan umum? Dan tak lama berselang kenaikan itu pun direalisasikan. Kedua, saat sekarang BBM telah turun, mengapa organda justru masih saja menimbang-nimbang apakah perlu menurunkan tarif angkutan? Yang lebih menjengkelkan malah menyatakan bahwa ada variabel onderdil dan variabel lain-lain yang “ternyata” ikut menentukan tarif angkutan. Padahal saat BBM naik “variabel-variabel” itu tidak disebutkan sama sekali. Lha kok aneh? Kok nggak konsisten? Apa kata dunia? Inikah potret manusia Indonesia sesungguhnya? Kalo ngerasa udah enak di atas ogah turun lagi demi kepentingan bersama?
Padahal saat ini ibu pertiwi sedang menangis sedih karena ulah anak-anaknya terhadap bumi Indonesia. Bayangin aja, mulai dari wakil rakyat yang korupsi, pejabat pemerintah yang nilep duit rakyat, hingga rakyat jelata yang ribut dan bersikap anakhis “hanya” karena jagonya nggak menang di Pilkada ato “cuma” karena tim bola kesayangannya kalah. Apa nggak sedih tuh mother nature kita ngelihat yang kaya gitu? Inikah potret manusia Indonesia sesungguhnya?
Satu lagi yang sempat menggelitik dalam benakku. Entah apa yang dipikirin Presiden SBY andai saja sang RI 1 menonton liputan 6 pagi dua hari lalu. Berita pagi dari salah satu televisi swasta tersebut memuat salah satu berita di daerah Medan. Isinya, para supir bis dan angkutan umum (angkutan umum lagi....) merasa khawatir dan mengeluh bila pemeritah benar-benar menurunkan kembali harga BBM (Loh???!) Pasalnya para sopir tersebut takut kalo BBM turun maka akan terjadi kelangkaan seperti yang terjadi sebelumnya. Wah...wah... Inikah potret manusia Indonesia sesungguhnya? Ketika pemerintah menaikkan harga BBM, banyak yang protes, banyak yang mengeluh, bahkan ada beberapa aksi anarkhis. Namun saat harga BBM turun, lha kok mengeluh??? Lha terus pemerintah harus ngapain dul? Dasar! Bukankah akan jauh lebih baik kalo kita bersyukur? Berterima kasih pada Allah SWT karena Ia telah membuka mata hati para pemimpin kita? Itu jauh lebih menentramkan dari pada mengeluh dan mengeluh. Inikah potret manusia Indonesia sesungguhnya? Waallua’lam bi showab

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Diberdayakan oleh Blogger.