Sesosok wanita cantik berumur tiga puluhan berjas putih dengan stetoskop melingkar di lehernya duduk di hadapan Valent, seorang pemuda berusia 21 tahun yang juga atlet tim nasional (timnas) sepak bola. Dokter Dewi, nama wanita itu kemudian membuka sebuah buku yang diberikan oleh asistennya, sebuah riwayat berobat dari pasiennya yang kini sedang ada di depannya.
Deg......Deg................Deg.........Deg......
Brengsek! Apa apaan ini! Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi nggak enak kaya gini?
What’s going on God?
Raut muka Valent sedikit berubah ketika detak jantungnya dirasa berdetak tak beraturan saat dokter spesialis yang memeriksa kondisi kesehatannya untuk beberapa kali itu membuka-buka riwayat berobatnya. Untunglah tak beberapa lama kemudian Valent bisa menguasai diri, tepat di saat dr. Dewi akan memulai pembicaraan dengannya.
“Valent...Sebelum aku menyatakan semuanya tentang kondisi kamu, aku cuma ingin kamu tabah. Bagaimanapun juga Dia selalu memberikan yang terbaik bagi kita, hamba-Nya” Pelan-pelan dokter lulusan sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya itu merangkai kalimat. Dan Valent hanya bisa mengerutkan keningnya seolah ingin menampakkan tanda tanya besar yang muncul di hatinya begitu mendengar ucapan dr. Dewi barusan.
“Aku tahu, tidak seharusnya sebagai seorang dokter seperti aku berbicara layaknya seorang ustadz atau kyai. Tapi selain karena sebelumnya kita memang sudah cukup saling mengenal, aku juga ingin memberikan semangat untuk adik sahabat dekatku.”
Seolah mengerti yang sedang dirasakan Valent, dr. Dewi segera melanjutkan perkataannya. Sementara Valent, meski belum sepenuhnya mengerti, secara refleks sebuah senyum manis terbit di kedua belah bibirnya.
“Kalau memang ‘sesuatu’ yang ingin disampaikan itu merupakan hal yang terburuk sekalipun, aku sudah siap lagi dok. Lagipula dokter juga tidak mungkin merahasiakan hasil diagnosis pasien dokter hanya karena kebetulan pasien dokter itu adalah adik dari teman seangkatan dokter saat kuliah dulu kan?” Candanya kemudian, namun di balik itu tersirat ketegasan akan kesiapan yang dimiliki Valent terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya nanti, dr Dewi hanya menghela nafas sejenak, lalu...
“Hasil diagnosismyu bisa dibilang tidak terlalu baik, meskipun masih dalam stadium awal yang belum terlalu mengkhawatirkan, namun jika ini tidak ditangani dengan baik bisa membahayakan nyawa kamu.”
“Maksud dokter?” Valent membetulkan letak kaca mata silindrisnya, menunggu kata demi kata keluar dari dokter berwajah cantik itu.
“Yah......kami mendapati adanya kelainan pada sel darah kamu. Sel darah putih di dalam tubuh kamu berkembang jauh lebih cepat dari sel-sel darah yang lain. Sel darah putih ini kemudian memakan sel-sel darah yang lain, atau dengan kata lain kamu menderita........”
“Leukimia!”
Serta merta dr. Dewi terkejut mengetahui tidak adanya perubahan pada wajah Valent. Pemuda dengan paras rupawan yang ada di depannya begitu tenang dan dingin menebak penyakit yang dideritanya. Tidak! Valent tidak asal menebak. Reaksi yang baru saja diperlihatkan seolah ia telah mengetahui apa yang terjadi dengan tubuhnya. Begitu yang ada di benak dr. Dewi.
“Bagaimana kamu bisa tahu Val?” Tanyanya kemudian. Valent hanya mengangkat kedua bahunya menandakan tidak banyak hal yang ia ketahui tentang dirinya.
“Just guess it. Aku suka baca buku, buku apa aja. Jadi sedikit banyak aku juga tahu hal-hal seperti itu.” Ujar Valent, masih dengan sikapnya yang dingin seolah hal yang baru saja ia ketahui bukanlah hal yang perlu dirisaukan.
Padahal bagi dr. Dewi, ini adalah kali pertama ia mendapatkan pasien dengan ketegaran yang bisa dibilang luar biasa dalam menghadapi takdir. Apalagi pasien tersebut masih sangat muda serta sudah cukup dikenalnya karena kebetulan Valent adalah adik Rossa, sahabatnya saat masih sama-sama kuliah dulu.
“Oke......aku menderita kanker darah n saat ini aku sekarat. Yah....Not so bad. Tapi ngomong-ngomong ada hal lain yang bisa aku lakukan sebelum aku dijemput kematian kan dok?” Kali Valent tersenyum, sebuah senyum manis yang tulus. Entah apa yang saat ini sedang ia pikirkan.
“Oh....maaf. Ya, pasti ada. Paling tidak ada beberapa pilihan terapi yang bisa kamu jalani nantinya.” Dr Dewi tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika reaksi Valent lagi-lagi tak terduga. Ia segera memberi isyarat pada asistennya untuk mengambilkan beberapa buku terapi khusus di rak tempat biasa ia menyimpan riwayat berobat pasien-pasien yang sedang ditanganinya.
Bagaimana mungkin seorang pemuda seperti Valent bisa begitu tenang menghadapi sebuah vonis yang mungkin bisa menggiringnya menuju kematian?
Bagaimana bisa ia bersikap sedingin itu dalam menjalani takdir yang mungkin saja bagi orang lain tampak tidak adil dan menyakitkan?
Beribu tanya memenuhi kepala dr Dewi. Selama beberapa waktu ia praktek sebagai dokter spesialis, hanya pada Valent-lah ia menemukan sosok yang istimewa. Setidaknya itu yang ia pikirkan saat ini. Ketika pasien lain yang menurut penilaiannya telah cukup berumur dan lebih memiliki kematangan emosional menangis meratapi nasib yang harus mereka jalani, atau marah-marah tidak jelas karena merasa dipermainkan oleh garis takdir, tidak demikian dengan Valent.
Pemuda ini berbeda, ia begitu tabah menghadapi hidup yang ia jalani. Meskipun ia tahu hidup itu terasa menyakitkan. Bahkan seutas senyum tetap mengembang di wajah tampannya saat kali pertama ia mendengar ‘vonis’ yang diberikan dokternya.
“Sampai saat ini satu-satunya cara untuk mengembalikan kondisi kamu seperti semula adalah dengan pencangkokan sumsum tulang belakang. Itu berarti kamu harus sabar menunggu seseorang yang bersedia mendonorkan organ tersebut. Itu pun dengan catatan struktur organ donor tersebut sama atau paling tidak sesuai dengan kondisi tubuh kamu Val.” Sampai di sini dr Dewi menghentikan uraiannya. Menatap dalam ke arah Valent sambil mereka-reka apa yang akan dikatakan oleh pemuda berkaca mata silindris itu.
“Yah......dengan kemungkinan organ donor yang cocok dengan kondisi tubuhku sekitar 1 : 1000 atau bahkan lebih, apa lagi yang bisa ku lakukan selain menunggu?” Kembali dr Dewi dibuat terkejut dengan reaksi yang diberikan oleh adik sahabatnya itu. Ia tersenyum simpul sebelum akhirnya berujar pelan.
“Angka 1 : 1000 juga kamu dapat dari buku-buku yang sering kamu baca?” Valent tertawa kecil mendengar canda yang dilontarkan dr Dewi.
Tak lama kemudian dokter beranak satu itu pun menawarkan satu terapi khusus untuk Valent. Namun dengan halus cowok yang lahir tepat pada Valentine’s Day itu menolaknya dan memilih terapi biasa sama seperti penderita leukimia lainnya. Dan setelah itu, Valent pamit sembari tak lupa mengucapkan terima kasih. Dr Dewi hanya tersenyum dan kemudian mengantarkan Valent keluar ruang prakteknya, suatu hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
“Udah periksanya mas? Apa kata dokter?"
Ya Allah......What should I say to my lovely girlfriend now?
Sebuah pertanyaan muncul di benak Valent saat Tiara, gadis manis berjilbab yang menemaninya ke rumah sakit itu ingin tahu bagaimana keadaannya. Sebuah senyum tipis mengembang dari bibir Valent, mencoba ‘tuk meredakan rasa ingin tahu seseorang yang selama dua tahun ini menjadi pacar sekaligus mengisi kesehariannya itu. Namun bukan Tiara bila tak bisa menebak bahwa senyum untuknya itu muncul karena terpaksa.
“Udah deh......Nggak usah bertingkah macem-macem. Aku tanya dokter tadi ngomong apa aja soal kondisi mas. Jadi aku butuh jawaban dan bukan senyum sok manis kaya gitu.”
Kali ini tawa Valent terderai bagitu mendengar ucapan polos gadisnya itu. Sejenak ia melupakan apa yang baru saja dikatakan dr Dewi mengenai dirinya. Valent lalu memandang wajah teduh yang pura-pura cemberut di sampingnya. Entah tiba-tiba ia menjadi agak sentimentil. Mungkin Valent merasa, tak lama lagi ia akan kehilangan wajah yang selalu menghiasi mimpi demi mimpinya itu.
“Iya.....iya.....ntar aku pasti cerita deh kalo kita udah sampai rumah. Okey?” Ujar Valent akhirnya. Ia tahu itu tak akan membuat Tiara puas, tapi setidaknya ia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum menceritakan semuanya. Kalau memang Valent ingin menceritakannya.
Corolla Altis berwarna merah metalik dengan nomor polisi ‘L 4 V’ milik Valent melaju menembus jalan-jalan protokol kota Surabaya yang siang itu agak mendung. Titik air hujan turun tak lama kemudian. Tetes demi tetesnya seolah ikut menangis dan larut dalam galau yang ada di hati Valent setelah mengetahui apa yang terjadi dengannya.
Selama perjalanan pulang ke rumah Tiara, keduanya tidak berbicara sepatah kata pun, suatu hal yang tidak biasa. Bahkan CD player di mobil yang selalu ramai kali ini membisu. Hanya sesekali Valent memandang kekasihnya itu, kemudian berbalik mengalihkan pandangannya saat gadis itu ikut memandangnya.
“Oke, kita udah di rumah. Trus aku udah bikinin mas minum. Sekarang giliran mas dong bwat nepatin janji. Tadi dr Dewi bilang apa aja?????” Tanya Tiara begitu mereka tiba di rumah orang tua Tiara.
Valent tidak segera menjawab. Pandangannya masih saja tak lepas dari wajah manis di hadapannya. Yang membuat Tiara jadi salah tingkah plus nggak tahu harus berbuat apa. Pipinya langsung memerah tak lama setelah kedua belah matanya bertemu dengan sorot mata dingin milik Valent. Bagaimana pun juga Tiara tahu meski terlihat dingin, sebenarnya Valent peduli padanya. Valent adalah tipe cowok yang penuh perhatian.
“Udah dong diemnya.....Dari tadi ga mo jawab kenapa siy.......tinggal ngomong aja kok susah banget rasanya”. Ujarnya manja, sambil memanyunkan bibirnya, pura-pura cemberut. Biasanya dengan begitu Tiara mendapatkan perhatian Valent, tapi kelihatannya ‘senjata’-nya kali ini berkurang keampuhannya.
“Sebenernya dr Dewi tadi bilang kalo aku.................”
Akhirnya Valent mengalah. Nggak tega juga melihat peri kecilnya itu penasaran. Tapi ucapannya terhenti tiba-tiba. Valent merasa lebih nggak tega lagi ngebayangin gimana reaksi Tiara bila mengetahui keadaan Valent yang sekarang menderita leukimia. Walau dr Dewi bilang penyakitnya masih stadium satu yang memiliki peluang untuk sembuh seperti sedia kala. Meskipun peluang itu tidaklah cukup besar.
“Dr. Dewi bilang aku harus kurangi aktivitas dan perbanyak istirahat.” Finally Valebt memilih berbohong pada pacarnya . Meski ia tahu Tiara tak akan percaya begitu aja dengan jawaban yang baru saja dilontarkan Valent.
“Cuma itu? Masak dokter Spesialis Penyakit Dalam cuma bilang kaya gitu aja?” Tiara menatap penuh selidik. Tuh kan! Emang susah rasanya kalo ngobohong ma orang yang udah dua tahun jadi pacar. Itu juga yang saat ini ada di kepala Valent.
“Sayang.....aku periksa ke dokter spesialis kali ini kan karena kebetulan dokternya temen baik kak Ocha waktu masih kuliah. Jadi itung-itung aku kan ga perlu bayar he..he... Lagipula emang bener kan kalo akhir-akhir ini aku jarang istirahat?”
Mati-matian Valent berusaha meyakinkan Tiara. Kendati yang ia katakan itu bukanlah sepenuhnya kebohongan, namun dalam hati tetap saja ia merasa bersalah telah menyembunyikan penyakitnya pada kekasihnya tersayang. Gimana pun juga Tiara berhak tahu keadaan Valent yang sebenarnya. Apalagi mereka telah bersama selama dua tahun ini. Dan selama itu pula mereka udah saling mengenal serta bisa menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain.
Aku nggak ingin menyembunyikan ini sayang....
Tapi aku ngerasa belum saatnya kamu tahu hal ini
Maafin aku....
Batin Valent berbisik lirih saat ia membalas lambaian tangan Tiara dari dalam mobil ketika ia pulang sore itu. Kembali Valent tenggelam dalam lamunannya. Bahkan dalam perjalanan pulang itu, hampir saja nyawanya melayang lebih cepat kalau saja ia tak segera membanting stir mobilnya saat sebuah truk keluar dari sebuah pabrik di kawasan industri salah satu sudut kota Surabaya.
Begitu sadar bahwa ia baru saja selamat dari ‘ajakan’ malaikat maut, tanpa pikir panjang ia segera menginjak pedal gas dan beranjak dari ‘TKP’ sambil tidak mengacuhkan suara klakson dan cacian pengemudi truk yang kesal karena kebodohan yang dilakukan Valent barusan.
“Hhhhhh.............”
Valent menghempaskan tubuhnya di kasur begitu tiba di rumah. Sejenak ia memandangi seluruh isi kamarnya. Kamar yang penuh dekorasi berwarna merah dan hitam. Warna ‘kebangsaan’ Valent yang meniru dari kaus tim sepak bola kesayangannya, AC Milan.
Lagi-lagi rasa sentimentil hinggap di dirinya. Wajah dengan kaca mata silindris itu berubah sendu. Tidak! Lebih dari itu, wajah yang selalu ceria dan terus tersenyum itu kini terlihat murung. Sebuah kristal bening yang menggantung di sudut matanya perlahan meleleh, menetes membasahi pipi yang tampak membulat sejak Valent ‘diurusin’ Tiara. Dan tak lama berselang menyusul tetes demi tetes lainnya turun dari sepasang mata Valent yang terpejam karena takut, sedih, dan mungkin saja ada kemarahan di hatinya. Membuat dadanya sesak dan berat. Sore itu, sosok yang tegar dan kuat itu telah menyadari bahwa ia bukan apa-apa dibandingkan kuasa dan kehendak Sang Maha Segalanya.
Suara adzan Maghrib bergema ke seluruh penjuru kota. Menandakan hari akan beranjak malam. Sang mentari pun segera ganti ‘shift’ dengan rembulan yang malam ini hanya menampakkan dirinya seperti sebuah sabit. Dan di salah satu rumah di jalan Wijayakusuma, Surabaya, Valent membuka matanya. Ia tertidur sekitar satu jam setelah tiba dari rumah Tiara, serta.....setelah agak lama ia menangis di tempat tidurnya, satu hal yang sebenarnya sangat tidak ingin dilakukannya.
Valent bangun dari tempat tidurnya saat adzan selesai berkumandang. Menguap sebentar lalu ia melihat sosoknya dari pantulan cermin. Agak lama ia mengamati dirinya sendiri dari cermin.
Masya Allah......ternyata aku jelek ya kalo lagi sedih.
Sebuah senyum manis mengembang dari bibirnya sebelum ia berlalu meninggalkan kamarnya tuk mandi dan menunaikan shalat Maghrib, setelah ia menyalakan beberapa lampu di rumahnya karena memang hari udah mulai gelap.
Valent memang tinggal sendiri di Surabaya, bahkan sejak ia SMU. Tidak heran bila hal-hal yang bersifat ke-rumah tangga-an bagi dia bukanlah sesuatu yang asing. Sejak SMU pula ia sudah terbiasa mencuci sendiri, beres-beres rumah, hingga memasak untuk memenuhi lambungnya, yang menurut pengakuannya sih kecil, tapi sanggup untuk makan hingga lima kali sehari. Sesuatu yang sering bikin Tiara geleng-geleng kepala mengetahui selera makan pacarnya yang nggak kira-kira itu.
Ayah Valent seoarang sosiolog sekaligus peneliti yang nota bene lebih sering di luar negeri untuk melakukan penelitian. Sementara ibunya seorang dosen di salah satu universitas negeri terkenal di Jakarta. Kemudian, satu-satunya saudara yang dimiliki Valent, kakak perempuannya, Rossa, adalah dokter bedah lulusan Monash University, Perth, Australia. Saat ini Ocha, begitu ia dipanggil, tinggal bersama suami dan seoarang anak perempuan –yang menurut Valent paling ngegemesin sedunia– di Singapura. Maklum, kakak ipar Valent seorang diplomat.
Back to the actor, Valent. Cowok berbadan tegap terlihat segar setelah mandi. Sambil bersenandung kecil seolah tak terjadi apa-apa, Valent segara menuju kamar dan bersiap menunaikan shalat Maghrib. Ia melirik jam dinding AC Milan-nya, pukul enam lebih lima. Sekitar lima belas menit setelah adzan Maghrib.
Tiara lagi ngapain ya?????
Ups! Bukan saatnya mikirin cewek!
Valent mencoba untuk konsentrasi agar ia bisa shalat dengan khusyu’. Sebuah doa terpanjat dari mulutnya petang itu. Doa yang mewakili kepedihan dan harapan untuk Sang Pencipta, yang semakin lama terasa semakin dekat dengannya.
Ya Allah....aku memang bukan hamba-Mu yang paling taat.
Juga bukan hamba yang mengerti segalanya.
Aku tak mengerti tentang keadilan-Mu karena hanya Engkau Yang Maha Adil.
Aku juga bukan hamba yang mengerti apa yang Engkau rencanakan padaku.
Karena cuma Engkau Yang Maha Mengetahui.
Maka dari itu aku tak ingin mempertanyakan kenapa hidupku begitu singkat,
mengapa harus ada leukimia dalam catatan takdirku.
Aku takkan bertanya tentang semua itu.
Namun sebagai manusia biasa, sebagai hamba yang tak berdaya, aku hanya ingin memohon dan berdoa pada-Mu. Sebagai satu-satunya tempat untuk menggantungkan harapan.
Ya Allah.....Jika memang sampai di sini batas umur hidupku, aku mohon, berilah ketabahan dan kesabaran pada mereka yang mempercayaiku, mengandalkanku, dan menyayangiku.
Berilah bahagia pada orang tua, kakak, serta keluarga besar dan teman beserta sahabatku. Berikan juga bahagia dan ketabahan itu pada seseorang yang saat ini ada di hatiku, Tiara. Berikan dia pengganti yang jauh lebih baik dariku. Seseorang yang bisa membuat hidupnya lebih berarti dan berharga. Jagalah selalu senyum dan ceria yang selalu menghiasi wajahnya, bila memang sampai di sini takdirku dengan dirinya. Ya Allah.....kabulkanlah doaku ini. Amin......
Valent masih bersimpuh di kamarnya. Ia memejamkan matanya dan membiarkan lembar demi lembar memori lamanya terbuka kembali. Memori ketika pertama kali ia bertemu Tiara, berkenalan dengannya, hingga memori selama dua tahun yang telah mereka jalani bersama. Juga memori tentang ia dan Tiara yang selalu berjalan beriringan sambil merajut mimpi indah yang sama tentang masa depan. Mimpi yang mungkin naif dan terkesan idealis. Tapi sayangnya, kini Valent harus merelakan mimpi indah itu benar-benar menjadi mimpi, benar-benar hanya sebagai bunga tidur.
SATU TAHUN KEMUDIAN
Jakarta, Awal Juli 2007
Sehari sebelum kick-off Piala Asia 2007 diselenggarakan di empat negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, media cetak maupun media elektronik di seluruh negeri digemparkan oleh berita yang berasal dari lapangan sepak bola. Bukan berita mengenai hiruk pikuk Jakarta dan Surabaya yang menjadi tuan rumah piala Asia kali ini. Bukan pula berita tentang mimpi 210 juta warga negara Indonesia yang menginginkan tim nasionalnya menjadi juara pada perhelatan sepak bola terbesar di Asia itu yang digelar di negeri sendiri.
Berita itu mengenai kepanikan yang melanda seluruh anggota timnas Indonesia. Pemain andalan mereka dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh dan pingsan saat latihan. Benar, pemilik nomor punggung 10 timnas –yang nota bene nomor keramat di dunia sepak bola– Valentino Permana, saat ini terbaring di rumah sakit. Dugaan sementara, hal itu dikarenakan kondisi kesehatannya yang menurun drastis. Hingga ia harus berada di rumah sakit selama lima hari. Itu berarti Valent harus absen di dua pertandingan awal. Dan ini akan mempersulit langkah timnas Indonesia menuju tangga juara.
Hari ketiga Valent berada di rumah sakit.
“Selamat pagi mas Valent, hari ini ada tamu istimewa lho...” Suster Mita, suster yang tiap pagi tidak pernah absen mengantarkan sarapan untuk Valent, seperti biasa menyapanya pagi itu. Di belakangnya sesosok gadis mengikuti.
“Tiara!” Seru Valent ketimak mengatahiu sang ‘tamu’ yang datang bersama suster Mita pagi itu. Sementara gadis itu hanya tersenyum simpul.
Valent merasa aneh dengan senyum yang diperlihatkan Tiara. Namun ia segera menepis perasaan itu. Rasa kangen pada pacarnya lebih besar daripada hal yang menurut Valent sendiri nggak jelas. Apalagi, setelah itu, Tiara mengambil makanan yang diberikan suster Mita untuk disuapkan ke Valent.
“Kapan kamu datang? Kok nggak kasih kabar apa-apa? Sms atau apa gitu...” Tanya Valent begitu mereka sudah berduaan.
Ocha yang selama ini merawat Valent pamit keluar setelah berbasa-basi sebentar dengan calon adik iparnya itu. Bagaimana pun juga ia mengerti bahwa saat ini, kehadiran Tiara sudah lebih dari cukup bagi Valent.
“Belum lama, baru juga semalem.” Sahut Tiara kemudian. Masih dengan reaksi yang dingin. Valent yang tahu ada yang tidak beres dengan gadisnya itu memilih lebih banyak diam dan membiarkan suap demi suap nasi yang diberikan Tiara masuk ke mulutnya tanpa ada percakapan yang berarti. Padahal sudah sekitar 3 bulan mereka tidak bertemu. Sejak Valent harus masuk pelatnas.
“Kenapa sih Ra? Nggak biasanya kamu diem kaya gini. Kamu lagi ada masalah apaan?” Kembali Valent berusaha mencairkan kebekuan yang sedari tadi ada di tengah-tengah mereka. Tiara tak menjawab. Gadis manis berjilbab itu masih saja diam. Namun sorot matanya tajam menatap ke arah Valent.
“Ada apa Tiara? Ngomong dong......gimana aku bisa ngerti kalo kamu sendiri diem kaya gitu?” Pinta Valent sekali lagi. Dan kali ini Tiara mengalihkan pandangannya, menatap ke arah luar jendela. Dimana kesibukan kota Jakarta terlihat jelas dari lalu lintas yang padat di luar rumah sakit.
“Mas juga bingung kan kalo aku diem aja?” Ujar Tiara sambil tetap tidak mengalihkan pandangannya dari jendela.
“Maksud kamu? Jujur ya, aku nggak ngerti apa yang kamu bicarain sekarang.”
Tiara langsung menoleh ke arah Valent dan kembali tatapan tajamnya mengarah tepat ke dua buah bola mata Valent.
“Oke, aku nggak akan berbelit-belit. Aku mau tanya dulu, mas tahu kenapa aku terlambat datang ke rumah sakit?” Tanya Tiara kemudian, Valent hanya menggeleng pelan.
“Asal mas tahu, begitu ortu mas n kak Ocha dikabarin tentang keadaan mas, nggak lama kemudian aku juga dikabarin hal yang sama. Tapi aku nggak segera berangkat ke sini buat nengokin mas.” Lanjut Tiara kemudian. Ia menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan penuturannya.
“Aku nggak percaya dengan berita-berita di TV yang mengatakan kalo mas jatuh pingsan waktu latihan hanya karena kondisi kesehatan yang menurun. Jadi, sebelum berangkat ke sini aku menyempatkan diri untuk datang ke tempat dr Dewi. Dan setelah aku paksa, dia menjelaskan semua tentang kondisi badan mas.”
Valent terdiam mendengar penjelasan gadisnya. Wajahnya berubah serius, namun ia tak berani menatap wajah Tiara, yang bila saja Valent tahu, Tiara sedang berjuang keras menahan jatuhnya air mata yang sejak tadi ingin jatuh dari pelupuk matanya.
“Dari dr Dewi juga aku tahu kalo selama ini, cowokku, Valentino Permana menderita leukimia. Tapi kenapa aku ngedenger itu justru dari dr Dewi? Kenapa bukan mas sendiri yang cerita? Kenapa mas?” Di kalimat terakhir nada bicara Tiara meninggi tiga oktaf.
“Maaf Tiara, aku........aku cuma nggak ingin buat kamu sedih....”
“BOHONG! Aku nggak percaya! Kalo emang mas nggak pingin aku sedih, harusnya sejak dari dulu mas udah cerita soal ini. Mas nggak akan sembunyiin ini dari aku sampai sekian lama.” Wajah Tiara merah padam menahan ledakan amarah serta tangisnya, namun tak lama air matanya meleleh membasahi kulit putih wajahnya. Membuat Valent semakin merasa bersalah. Tetapi ia masih saja membisu, tak tahu apa lagi yang harus dikatakannya.
“Aku sayang sama mas, sayang.......banget. Tapi sejujurnya, kali ini aku ngerasa kalo yang aku dapatkan nggak sebanding. Kenapa sih hal sepenting itu malah disembunyiin dari aku? Aku pacar mas kan? Aku bukan orang lain. Tapi kenapa mas nggak bisa percaya? Aku...aku bukan cewek yang cuma untuk seneng-seneng aja kan mas? Aku juga bisa terima biarpun keadaan terburuk pun menimpa mas. Karena, karena aku sayang mas. Tapi setelah kita jalan sekian lama, ternyata aku nggak bisa mendapatkan rasa percaya dari mas” Tiara semakin terisak. Sesekali ia mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
“Ra....aku juga sayang banget sama kamu. Dan aku juga percaya sepenuhnya ma kamu. Makanya aku belum mau cerita. Aku juga nggak mau bikin kamu jadi down gara-gara penyakitku, lagipula kalau udah saatnya aku pasti ceritakan semuanya.” Valent berkata lirih, berusaha meredakan amarah kekasihnya.
“Jangan ngomong macem-macem deh mas. Bagaimana mungkin mas bilang mas sayang aku, mas percaya ma aku, tapi tingkah laku mas nggak menyatakan seperti itu? Mas sendiri kan yang bilang kalo terkadang tingkah laku seseorang itu lebih jujur mengungkapkan isi hati daripada ucapannya?” Tiara masih mencecar Valent dengan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan Valent. Untuk beberapa lama keduanya terdiam hingga tiba-tiba Tiara mengucapkan sesuatu yang sama sekali tak diduga –dan mungkin tak diinginkan– oleh Valent.
“Oke deh, mungkin kita harus saling introspeksi kali ini. Please......please...banget, mas jangan coba hubungi aku dulu. Kita break sampai kita bisa saling mengerti lagi.” Setelah berkata demikian, Tiara segera meninggalkan ruang Edelweiss, tempat Valent dirawat tanpa bisa sedetik pun bisa dicegah oleh cowok Aquarius itu. Tiara hanya menoleh sebentar ketika Valent memanggil namanya namun tak lama berselang ia berlalu saat merasa sudah tak ada lagi hal yang bisa mereka bicarakan.
Seminggu sejak Valent dan Tiara bertengkar
Sore itu Tiara menyempatkan waktunya untuk duduk di depan TV menyaksikan pertandingan sepak bola Asian Cup antara Indonesia melawan Kuwait. Tapi sebenarnya Tiara ingin mengetahui kabar Valent setelah sehari sebelumnya diberitakan telah keluar dari rumah sakit dan mulai berlatih bersama teman-temannya di timnas.
Tiara memang tidak sepenuhnya memusatkan perhatiannya pada pertandingan itu. Jika saja Valent bukan pemain sepak bola, ia bahkan tidak akan peduli dengan olah raga keras tersebut. Selama pertandingan Tiara hanya mengamati keadaan Valent sambil berharap-harap cemas. Terlebih ketika cowoknya itu dijatuhkan pemain lawan. Namun tak jarang ia tersenyum kecil saat Valent berhasil melewati pemain lawan dengan aksi-aksi yang menawan.
Kalau mau jujur, Tiara merasa kangen pada Valent. Biarpun ‘baru’ berpisah sekitar 3 bulanan, terlalu banyak cerita yang ingin ia bagi bersama kekasihnya. Sebenarnya ia juga ingin mendukung Valent langsung dari tribun penonton stadion Gelora Bung Karno, namun karena beberapa hari yang lalu mereka bertengkar cukup hebat dan belum adanya ‘perdamaian’ yang terucap, Tiara jadi berpikir dua kali jika ingin melakukan itu. Ada rasa segan di hatinya, bahkan untuk menghubungi Valent sekedar menanyakan kabar. Yang salah kan dia, jadi dia dong yang harus menghubungi aku duluan. Seperti itu yang mungkin ada di benak Tiara. Padahal waktu di rumah sakit, Tiara sendiri yang bilang agar Valent jangan menghubunginya dahulu. Tapi sekarang, dia malah nggak ingin itu terjadi. Terlebih setelah sore itu, seluruh warga negara Indonesia berpesta setelah timnas kebanggaan mereka mencetak sejarah dengan lolos ke semi final Asian Cup untuk yang pertama kali.
Biasanya, meskipun terpisah oleh jarak yang jauh sekalipun, Valent pasti menyempatkan diri untuk menelepon Tiara sekedar menceritakan hari-harinya di pelatnas atau berbagi kemenangan setelah pertandingan usai. Itu pula yang saat ini begitu Tiara harapkan. Sayangnya, hingga Tiara beranjak tidur Valent belum sekali pun mencoba menghubunginya. Padahal sejak sore ia sering sekali mondar-mandir di depan telepon, saat makan malam pun, pandangannya sesekali melirik ke arah pesawat telepon. Berharap semoga alat itu berdering dan membawa suara Valent kepadanya.
Sambil memasang muka jutek, Tiara pun merebahkan tubuhnya ke kasur. Kembali ia mengarahkan pandangannya pada telepon di meja belajarnya, namun, alat itu masih saja membisu sejak tadi. Ia menghela nafas lalu mengambil ponselnya, mengecek terakhir kali Valent menghubunginya. Sudah seminggu yang lalu, itu berarti sebelum Valent masuk rumah sakit. Begitu ia mengingat rumah sakit, kembali Tiara merasa sebel pada sikap Valent yang menyembunyikan penyakitnya. Ia menghempaskan ponselnya dan kemudian memilih membenamkan dirinya ke alam mimpi.
“Mbak.......mbak Tiara, ini ada surat buat mbak. Kemarin sore baru datang. Maaf bik Inah lupa bilang sama mbak.” Bik Inah, pembantu yang sudah 10 tahun bekerja pada keluarga Tiara pagi itu buru-buru mencegatnya sebelum ia berangkat kuliah.
“Oh...nggak papa lagi bik. Paling juga nggak penting-penting amat.” Sambil tersenyum Tiara menerima sepucuk surat yang diberikan pembantunya itu. Kemudian menyalakan mesin Honda Jazz warna Ungu-nya dan melaju meninggalkan rumah setelah sebelumnya memasukkan surat itu ke dalam tasnya.
Kampus Universitas Airlangga Fakultas Ekonomi
Siang itu Tiara tak segera pulang ke rumah setelah kuliah berakhir, maklum, sebagai aktivis kampus ia punya banyak rapat dan agenda lain yang harus ia jalani selain kuliah. Namun langkahnya terhenti sebelum ia memasuki ruang BEM tempat ia harus rapat siang itu. Di tangannya tampak secarik kertas yang ia ambil dari amplop surat yang disampaikan bik Inah tadi pagi. Selain nama dan alamat lengkap tempat tinggal Tiara, tak ada lagi ID pada surat tersebut. Termasuk nama pengirimnya. Akan tetapi setelah membaca seluruh tulisan yang ada di secarik kertas yang dipegangnya dan memeriksa isi amplop itu, Tiara segera berbalik arah menuju tempat parkir dan memacu mobilnya sekencang mungkin, bukan untuk pulang ke rumah, melainkan ke airport. Tujuannya hanya satu, segera berangkat ke tempat dimana sang pengirim surat berada. Meskipun tak ada ID yang menandakan siapa pengirim surat di amplop surat tersebut, Tiara mengerti benar siapa sang pengirim surat tersebut.
This broken wings heal..................When you come to my life
This frozen heart become warm..................Since your light shines at me
Now I must aware that I.....................Fly to high n I’ve fell down
But I never sorry about it.................Cos I know frontier of my life
However...............When the rainbow hang in the sky
You’ll see me beside the angel.....................Who always protects us
Stadion Gelora Bung Karno, 10 Juli 2007
Tiara melirik jam tangannya sambil meletakkan badannya pada salah satu kursi VVIP di stadion terbesar di Indonesia itu. Nafasnya masih tak beraturan, sedikit kecapaian tampaknya. Namun ia masih merasa beruntung karena ia tiba tepat waktu. Sesaat sebelum pertandingan semifinal Asian Cup antara Indonesia melawan Iran.
Sebuah surat yang diterimanya tadi pagi dari bik Inah bersama sebuah tiket VVIP yang disertakan telah membuatnya berada di tempat yang mungkin tidak termasuk dalam agendanya hari ini. Akan tetapi, ia merasa ia harus berada di tempat ini. Bahkan kali ini ada semacam perasaan bersalah ketika ia memutuskan untuk tidak hadir di tempat ini sekitar seminggu yang lalu setelah bertengkar cukup hebat dengan Valent.
Benar, Tiara hadir di stadion karena ingin menyaksikan sekaligus mendukung Valent, sang pengirim surat tanpa ID tersebut sekaligus kekasihnya yang berjuang membela negara di arena yang sangat dicintai oleh kekasihnya itu. Di panggung yang mungkin dipilih oleh sang kekasih sebagai tempat terakhir ia menghembuskan nafasnya.
Saat ini Tiara mengerti benar apa yang Valent inginkan darinya. Tanpa berkata-kata banyak pun akhirnya Tiara sudah bisa mengerti betapa berharga dirinya bagi Valent. Sama seperti saat Valent memilih sepak bola ketimbang usianya sendiri. Tiara bisa pahami mengapa kekasihnya itu memutuskan untuk mengorbankan hidupnya demi sesuatu yang sangat dicintai dan menjadi impiannya sejak kecil. Dan ia tak keberatan jika pada akhirnya ia harus ditinggalkan oleh Valent, pergi ke dimensi lain. Yang mungkin hanya Allah yang mengetahuinya. Karena memang itulah jalan hidup yang dipilih oleh Valent. Jalan hidup yang membuatnya bahagia dan terus bertahan. Bahagia yang juga dirasakan oleh Tiara.
Hari menjelang petang saat wasit meniupkan peluit tanda selesainya pertandingan semifinal Asian Cup antara Indonesia dan Iran yang dimenagi oleh tuan rumah sekaligus menjadikan tiket ke final milik Indonesia. Seluruh suporter di penjuru negeri langsung bersorak meneriakkan kemenangan yang baru diraihnya. Hingga tiba-tiba sorak-sorai kegembiraan itu terhenti tatkala sang jenderal tim, Valentino Permana didapati tergolek pingsan di tengah lapangan. Tim kesehatan segera mencoba memberikan pertolongan pertama dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Tiara yang kebetulan tahu dimana Valent dirawat, segera bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud. Di sana ia bertemu dengan Ocha, kakak perempuan Valent, dan kedua orang tua Valent yang hari itu terlihat menemani Valent sepanjang hari.
“Tante.....Om....Valent dimana? Gimana keadaan dia?” Tanyanya panik ketika melihat kedua orang tua Valent hanya tertunduk diam dengan wajah penuh kesedihan.
“Valent lagi di ICU sayang, kita semua tidak diperkenankan masuk sampai dokter yang menanganinya menyelesaikan kewajibannya. Kamu yang sabar ya sayang.....Valent menitipkan surat ini pada tante sebelum ia bertanding hari ini.”
Air mata Tiara meleleh dari pelupuk matanya, tetes demi tetes yang keluar menunjukkan besarnya kepedihan yang dirasa saat membaca surat dari Valent untuknya. Kendatipun ia mengerti dan sudah bisa menerima keadaan Valent, bagaimana pun juga ia hanyalah wanita biasa, sama seperti wanita-wanita pada umumnya. Namun ia tahu, ia harus merelakan semuanya. Karena satu hal yang Tiara pahami, bahwa ia menyayangi Valent sama seperti Valent menyayanginya selalu hingga saat ia berjuang bersama ajal.
Teruntuk Peri kecilku yang selalu menemani hari-hariku:
I never know before.................
Something you keep in your heart
I also never know...................
If I understand what you want from me
Coz I’m not a superior people....................
Like another, I’m an ordinary people
But I have a dream to reach
I have a power to make it real
Unfortunately...........
I have no chance to make it comes true
When my lifetime is over and I must die
Before the dream that I looking for is found
I wanna you know and make sure, that
My dream is you, and will always you
Then, before I go and fly to His Love
I wonder to see the last beautifull smile
Which is made just for me
As a light to guide me through the heaven
Terima kasih atas cinta, senyum, bahagia, dan semua yang kamu berikan padaku.
-- Valent --