Alhamdulillah.... Atas Akhir Tahun yang Indah

Senin 29 Desember 2008 a.ka. 1 Muharram 1430 H
Episode #18

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillah.... Atas Akhir Tahun yang Indah
Happy new year!!!!! Hari ini 1 Muharram nih, sekitar 14 abad yang lalu Rosulullah SAW mempersatukan kaum muslim Anshar dan Muhajirin di Madinah. Dan itulah tonggak sejarah baru peradaban Islam. Subhanallah, mengutip ucapan Din Syamsudin, ketua PP Muhammadiyah semalam, semoga semangat hijrah senantiasa memayungi derap langkah kita, Amiin.
Well, di tahun bari ini aku juga beberapa resolusi yang ingin aku kerjakan n dengan izin Allah aku ingin it comes true. Tapi sebelum ngomongin soal itu, I wanna talk about my happy ending at final day on 1429 H. Alhamdulillah.... Cuma itu yang aku bisa persembahkan atas Allah berikan padaku kemarin. Well, actually it wasn’t a very-very special day for me, but I don’t know, I just feel I miss it. And it never happen anymore since a several time, till yesterday of course.
Sebenarnya aku kemarin hanya hadir di acara pernikahan mba Elita, seniorku di kampus dulu. Karena dia nikah di Magelang, kediaman dia, ya otomatis aku numpang ma senior yang lain yang seangkatan dengan dia. Yah... kalo dipikir-pikir sih emang ga ada yang spesial, orang aku cuma datang ke acara nikahan teman aja. Tapi kalau mau dirunut dari awal, mungkin itu yang spesial.
Sekitar awal bulan ini, aku sudah dapat kabar dari teman-teman kalo mba Elita mo married, tadinya aku nggak berpikir untuk hadir di acara mereka, tapi semua berubah saat mba Elita sms aku, isinya sih undangan. Yah...salah satu kewajiban muslim terhadap saudaranya adalah mendatangi undangannya. Itu yang terlintas di benakku saat pertama baca sms undangannya, tapi setelah agak lama berpikir, aku jadi sadar, dari mana dia dapat nomor HP-ku yang baru? Aku bahkan kemudian berpikir, waow, ternyata mbak Elita masih ingat aku. Dan itulah yang mendorongku untuk memutuskan datang di acara bahagianya Mba Elita. And that’s not a bad desicion  Coz what? I’m glad to be there. Setelah acara kami sempet “jeng-jeng” ke Ketep. Bukan jeng-jengnya sih yang istimewa, tapi kebersamaannya itu loh... Kumpul-kumpulnya yang menyenangkan. Aku bahkan merasa merindukan itu. Jujur aja, aku merasa nyaman banget, even they’re not my peer! Aku merasa dihargai di sana, aku merasa keberadaanku ada artinya di sana, bersama mereka, dengan mereka. Ketawa bareng, gila-gilaan bareng. That’s amazing...
I don’t know...mungkin cara berpikirku yang sometimes want to be different from other make me sensitive. Bayangin aja, kita udah sama-sama dewasa, udah punya urusan n kerjaan masing-masing, tapi hubungan kami kemarin tidak hanya berlangsung secara formal dan mekanis, tapi juga terjalin melalui sebuah ikatan emosi. Lewat acara kumpul-kumpul kemarin aku merasa kalo seperti inilah seharusnya sebuah hubungan pertemanan, persahabatan, bahkan persaudaraan. Nggak ada sekat di antara kami kemarin. Nggak ada yang merasa I still have a work at home, I still have a important bussiness afterthis. Yang mungkin saat itu kami pikirkan adalah this is our time, so just enjoy it, we never meet together before, and when it happens we just talk about quality time not only a quantity. That’s what a friendship. Waallua’lam bi showab

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


Saat Hanya Allah yang Tersisa di Hati

Aku tak pernah takut pada sebuah ketidak pastian
Toh beberapa hal di dunia ini memang berupa ketidak pastian
Bagaimana pun juga semua hal telah tercipta berdasarkan pasangannya
Kalau memang ada kepastian, bukanlah suatu yang aneh
Bila ketidak pastian melengkapi setengahnya
Aku juga tak pernah khawatir tentang masa depan
Karena sesungguhnya, andai kita menyadarinya lebih awal
Bahwa masa depan adalah rancangan takdir terindah dari-Nya
Dengan kita sendiri sebagai arsiteknya
Banarkah demikian adanya? Akankah terus seperti itu?
Lalu mengapa kita memaksakan takdir yang bukan takdir kita?
Mengapa justru kita melukis takdir orang lain dalam lembar hidup kita?
Tidak adakah tempat bagi mimpi dan cita-cita?
Haruskah semua menyerah atas nama kondisi dan keadaan?
Bukankah kita juga turut merajut kondisi itu?
Bukankah keadaan itu ada karena kita meng-ada-kan?
Mungkin....kita telah terbang terlalu tinggi
Mungkin pula sayap kita mulai letih terkena goncangan
Hingga kita merasakan tak ada yang bisa menolong
Tak seorang pun bahkan mengerti yang kita rasakan
Atau malah kita tak lagi merasakan apa yang harus kita rasa
Sampai kita menyadari bahwa saat itulah
Saat hanya Allah yang berada di hati kita

Berpegang Mentari tuk Hadapi Badai


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulllahi rabbil ‘alamiin. Terima kasih ya Allah... Engkau terus memberikan nikmat yang tak terhitung. Well...sebenarnya udah seminggu yang lalu aku mo update blog-ku ini. Aku mo cerita tentang event terakhirku, pelatihan bwat salah satu instansi pemerintah di kota Semarang yang...waow...such a amazing experience. Tapi ternyata seminggu setelah event pun aku masih lumayan banyak kerjaan, ditambah lagi bakal ada event lagi di akhir bulan dan awal bulan depan, ya aku jadi harus merelakan waktuku ngetik blog tersita. Tapi semua itu telah usai bung! Yaa...meski sementara sih...paling nggak dua hari ini aku dapet liburan n nggak harus mikirin event atau tim lagi. Apalagi mikirin DUIT! Sori katarsis dikit. Soalnya pagi ini aku baru aja ditelepon seseorang yang intinya aku harus cari duit yang datang padaku secara tetap dan rutin. Kenapa sih harus duit mulu? Oke kita butuh duit itu pasti, tapi apa terus semua harus duit? Huff...
Astaghfirullahal adziim.. eniwei, jadi emosi nih aku. Okelah ganti topik lagi aja... Kita mulai dari event-ku aja ya...The amazing experience. Yah...itu yang aku dapat. Salah satu alasan kenapa aku menyukai dan semakin mencintai pekerjaanku adalah aku selalu bertemu orang baru, karakter baru, dan tentu pengalaman baru yang unik bersama klien-klien kami. Itu terbukti kemarin. Aku udah sangat sering sekali melakukan out bound maupun pelatihan bersama klien dari berbagi instansi dan lembaga. Tapi tetep aja aku nggak bisa nebak apa yang bakal terjadi (Ya iyalah! Emang dukun?) Maksudku, biarpun udah sering aku ber-event ria, toh tetep aja aku menemukan pengalaman n kejadian yang nggak aku duga sebelumnya. Contohnya di event kemarin nih ya, untuk pertama kalinya aku “bisa” ngebentakin peserta yang notabene udah bapak/ibu n kakek/nenek (Bangga gitu?) Yaa...itu cuman contoh..biar mudah diingat aja...Sebenarnya buanyak banget tapi kan aku punya kewajiban menjaga kerahasiaan data dan kodisi klien, so maaph banget kalo nggak cerita. Kode etik je... (Ceilee... Sori nggaya dikit )
Terussss apa ya...oya, sebenarnya aku punya tiga tim pelatihan di Semarang, tapi baru satu yang bisa jalan. Yah..penyebabnya tentu saja karena satu dan lain hal. Tapi Alhamdulillah di awal bulan ini semua tampak semakin cerah (emang bisanya mendung ya?) Ya...paling nggak harapan untuk tiga tim jalan bersamaan itu ada, dan semakin menunjukkan eksistensinya (Hwalah! Opooo kuwi???) Hanya saja...masih ada beberapa kerikil tajam yang harus disingkirkan terlebih dahulu untuk membulatkan tekad agar sebulat telur asin (Hmm...bahasanya itu loh...emang orang ngerti?). ceritanya gini, semenjak 2006 awal, aku membentuk semacam tim out bound ma temen-temen di Semarang, Red By Star (RBS) itu namanya, sori aku nggak banyak cerita, ntar bisa abis data 40 giga lagi. Sampai sekarang masih ada, tapi kurang eksis. Ya itu tadi, karena satu dan lain hal. Lalu pertengahan tahun lalu aku bergabung dengan Diponegoro Out Bound Training (DOBT) hingga kini. Namun nasibnya nggak berbeda jauh dengan RBS, lagi-lagi karena karena satu dan lain hal hehe... Dan akhir tahun kemarin aku ikut Media Mitra Keluarga (MMK) di bawah bimbingan dosenku pas kuliah dulu. Hingga kini baru MMK yang masih banyak kegiatannya, meski belum banyak duit hehe...
Alhamdulilah-nya di bulan ini ternyata menjadi bulan yang luar biasa bagi ketiga tim-ku tadi. MMK semakin eksis dan siap “bersaing” dengan lembaga lainnya, sementara RBS kayanya bakal dapat supervisor baru, seorang psikolog terkenal di Semarang, dulu juga dosenku (Aku jadi kerja dengan para dosen-dosenku nih..) Dan DOBT, meski pelan-pelan waton kelakon udah mulai berjalan kembali roda organisasinya. Hanya...namanya hidup pasri selalu adaaa..aja ujian dan cobaan. Yah...insya Allah aku tetap khusnudzon ma Allah.. Aku percaya Allah pasti memberiku jalan yang terbaik.
Kemarin, Danang, temen baikku di tiga tim tersebut sempet cerita kalo dia “ditegur” temen-temen di RBS. Katanya dia terlalu terbawa euforia kesuksesannya di MMK ke dalam RBS. Padahal menurut temen-temen RBS dan MMK itu beda. Hhhh..cuman itu komentarku saat itu. Oke, MMK dan RBS itu beda, sip! Bener banget! Lha tapi apa harus langsung diperbesar perbedaan itu??? Jujur aku nggak ngerti maksud hati temen-temen RBS dengan bilang bahwa Danang sebaiknya tidak terlalu membawa euforia MMK di RBS. Aku hanya merasa kalo euforia itu sifatnya positif dan memberikan akibat yang positif juga, kenapa harus nggak boleh? Kenapa justru mereka mematahkan semangat temannya yang sedang on fire? Toh kalo ternyata hasilnya positif dan memang sudah terbukti positif kita-kita juga sebagai tim RBS yang akan untung dan menikmatinya. Kenapa harus seperti itu seeh..
Tampaknya memang kerikil-kerikil dalam perjalanan hidup memang selalu ada. Mungkin kerikil-kerikil itu juga yang kan membuat kita menjadi lebih baik. Insya Allah.. Terus terang, apa yang dirasakan Danang, aku merasakannya juga. Aku merasa aku sedang berusaha menggapai mimpi dan cita. Tapi entah kenapa ada seseorang yang lebih mementingkan citra diri dan materi memaksaku untuk meninggalkan cita-citaku, dan hidup “normal” layaknya orang kebanyakan. Sekolah – kuliah – lulus – kerja – dapat duit. Dan yang dinamakan “kerja” adalah jadi karyawan perusahaan A, perusahaan B, atau punya NIP di departemen A atau departemen B. Selain itu bukan kerja! Karena DUITNYA NGGAK BANYAK!!!
Padahal sekali lagi Hidup bukan cuman materi. Sampai kapan pun cita-cita luhur selalu mendapatkan tempat yang terhormat selama kita terus berusaha. Bagaimana pun semua butuh proses, dan tiap proses butuh waktu karena sukses dan kebahagiaan dicapai tidak dengan cara yang instan! Wallahualam bi showab

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Diberdayakan oleh Blogger.