|
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta
“Totalitas Perjuangan”
Kawasan Blok M, di selatan kota Jakarta
“Val, liat arah jam satu..”
“Jam satu? Cewe cantik ya? Ato cekci?”
Aku langsung menoleh ke arah yang dituju Nino, sambil memperkirakan model cewek yang bakal ditunjukkan sobat tersayangku itu, but nda sampai sedetik sebuah jari telunjuk mulus mendarat di pelipis kiriku.. kena toyor deh..
“Dodol lo, diajakin ngomong serius juga.. masih aja mikirin cewe.. makanya ndank merid sana…itu loh..liat ke arah Mabes Polri tuh..”
“Lah! Kamu aja belum merid malah kasih nasehat yang nda-nda…”
Aku hanya tersenyum ngedenger omelan Nino, sambil kembali memperhatikan (kali ini serius) arah jam satu yang ditunjukkan Nino. Ternyata ada serombongan mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi, sambil membawa beberapa poster, berorasi dengan menggunakan megaphone, serta bernyanyi lagu-lagu pergerakan mahasiswa.
“Inget beberapa tahun lalu No?”
Aku mengarahkan pandangan ke arah Nino, sambil menyandarkan badan ke kursi. Mumpung masih terjebak kemacetan kawasan Blok M yang nggak pernah absen di jam-jam sibuk seperti ini. Sayup suara nyanyian para mahasiswa yang sedang demo lambat laun membawaku membuka kotak memori saat masih menjadi mahasiswa. Emang sih waktu mahasiswa dulu aku bukan model aktivis yang doyan demo kaya mereka tapi..sedikit banyak aku ngikutin perjuangan mereka.
“Kira-kira mereka nuntut apaan lagi ya Val?”
Pertanyaan Nino membuyarkan lamunanku, ditambah air muka yang tampak serius, seolah memikirkan tanggung jawab negara membuatku nda tega untuk bercanda kali ini.
“Emang kenapa? Paling soal Jayus, kan katanya dia ‘kepergok’ keluar tahanan”
“Jayus ya? Aku jadi penasaran, berapa sih duitnya dia sebenarnya bisa nyuap ampe ratusan juta? Mungkin aku salah pilih instansi dulu ya, harusnya aku ikutan CPNS bagian finance ya hahahaha…”
“Ya elah.. ni orang, diajakin becanda noyor-noyor orang, pas diseriusin malah nglawak... Untung pinter…... pinter ngibulin atasan. Whuahahaha…”
Kami tertawa lepas sambil mata tak beranjak dari tingkah polah para mahasiswa yang sedang demo di jalan Trunojoyo itu. Dan lagi-lagi aku teringat, kalo nda salah aku pernah nulis artikel di blog-ku tentang sikapku terhadap para demonstran, kalo nggak salah di sini. Andai mereka nda berani demo kira-kira akan ada nda ya yang akan rela turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi publik? Menyambung lidah rakyat?
Kami segera meninggalkan jalan Trunojoyo beserta para mahasiswa yang tampaknya masih betah berada di depan markas besar kepolisian Republik Indonesia. Dari balik kemudi aku menangkap wajah Nino yang tiba-tiba saja berubah, ada gurat kegalauan di situ. Oke, ini bukan Nino yang seperti biasa. Masak hanya karena ngelihat “masa lalunya” pada sosok mahasiswa yang sedang demo tiba-tiba sobat tersayangku jadi mellow? Kayanya nda segitunya deh.
“Ko jadi diem No?”
Aku menoleh ke Nino saat traffic light mengharuskanku menghentikan laju kendaraan. Yang dilihat tampak kaget dan langsung berusaha menguasai diri.
“Aku? Diem? Nda ko..biasa aja..”
Weew.. lagi defend ni ceritanya.. Tak urung ku kembangkan senyuman untuk menenangkan Nino. Maklum kalo cowo di-skak kan harga dirinya semakin naik. Apalagi kalo model pegawai yang nyelenehnya kaya Nino.
“Kamu..kangen masa-masa di kampus?” Oke, mungkin percakapan ini terlalu aneh untuk dua orang cowok, tapi aku pikir Nino juga tahu banget gimana modelku kala menghadapi orang lain, baik klien, temen atau siapa pun itu.
“Kamu jadi romantis gitu sama akyu…”
Eaaaa! Sudah ku duga respon itu yang aku dapat! Untung aku nda langsung muntah atau langsung tendang dia dari mobil…
“Ya gimana No, kita kan udah lama bersama…”
“Whuahahahahaha”
Sejujurnya dulu aku jijik banget kalo becandaan model kaya gini, tapi sekarang paling tidak langkah pertama untuk membuang kegalauan di wajahnya tercapai, meski dengan perasaan agak eneg-eneg gimana gitu..
“Dasar psikolog gila lo”
Yak! Sekali lagi aku kena toyor. Mentang-mentang badan lebih gede dari aku, mentang-mentang tanganku nda bisa beranjak dari kemudi jadi semena-mena deh Nino. Hadew…untung aja udah kenal 10 tahun, kalo nda beneran aku tendang keluar mobil dari tadi dia.
“Kayanya ada yang kamu pikirin ya No? Apaan? Soal Rani?”
“Ada yang aku pikirin iya, tapi Rani, bukan.. bukan dia.. dan bukan topik itu. Boleh kita ngomongin ini kalo udah di rumah Val.. terus terang aku emang ada hal yang ingin aku bicarakan ma kamu”
Olrait… ini dia yang aku suka dari Nino, dia selalu blak-blakan kalo ngomong, jadi enak untuk dimengerti. Aku nda perlu lagi menebak-nebak apa yang mengganggu pikiran dia sekarang ini, toh seperti yang dia katakan, he will tell everything later. And like a real man, Nino always does what he said. Setelah aku menyebut nama gadis yang sempet hadir di hatinya dan ternyata itu dibantah oleh Nino, segera ku pacu mobil menuju kawasan Kuningan, setelah seharian ngukur jalanan ibukota. Maklum week-end. Dan dua jomblo ngenes ini tak punya banyak pilihan selain berkeliling kota untuk menikmati liburan.
Kawasan Patra Kuningan, my own castle…
“Sir, here’s your coffee..”
“Woah!! Danke my bro..”
Kopi krim tanpa ampas, sudah sepuluh tahun aku dan Nino saling kenal, sekitar dua tahun ini kami tinggal di rumah yang sama, da heran dia tahu banget kegemaranku. Sambil melepas lelah di teras rumah plus menikmati indahnya senja yang menampakkan jubah jingga keemasan.
“So..what do you want to say, mister Nino…” Ujarku setelah membiarkan seteguk kopi hangat meluncur mulus menuju tenggorokan. Nino nda segera menjawab, dia mengeluarkan secarik kertas dengan kop surat sebuah nama partai politik lengkap beserta gambar lambang partai, dan dia langsung menyerahkan padaku.
Aku membaca sejenak surat resmi untuk Nino tersebut. Salah satu partai politik besar di negeri ini dengan background yang khas baik dari dasar, nama, hingga pendukung telah menyatakan “melamar” Nino untuk dijadikan ketua departemen pengembangan sumber daya manusia. Well..aku belum tahu apa pendapat Nino, but I thinks it sounds good, at least kemampuan dia sudah diakui secara nasional. However..I must know his opinion first.
“So?”
“Boleh aku ngomong sesuatu Val…”
Aku mengganggukkan kepala pelan merespon pertanyaan Nino. Ia menghela nafas panjang sejenak sebelum kemudian melanjutkan ucapannya
“Honestly, sejak lama aku pingin bergabung ma mereka. Aku udah mengamati semua hal tentang mereka, sejarah mereka, track record, hingga visi misi mereka. N aku merasa ada kesamaan, khususnya visi dan misi dengan partai itu. Tapi berhubung aku abdi Negara, aku baru akan bergabung dengan mereka ketika mereka yang meminta, bukan karena aku mau”
“Okey…and they do.. terus apa yang bikin kamu galau?”
“Tapi kamu jangan marah ya Val…”
Aku mengerutkan kening mendengar ucapan Nino barusan. But nothing to say…just wait till he finish his sentence.
“Val!”
“Iya…iya… nda marah.. Napa sih?”
“I wanna you join them too…”
“APA??! Uhuk… uhuk…”
Aku langsung tersedak saat mendengar perkataan Nino. Oke, ini emang salahku, kalo kita lagi diskusi serius dengan seseorang, jangan minum kopi di tengah pembicaraan, bisa membuat yang kamu minum masuk hidung, dan percayalah, itu NGGAK ENAK BANGET!
“Sori..sori.. Val…”
Nino langsung bangkit menuju tempat aku duduk sambil memukul-mukul tengkukku, emang kalo orang keselek harus digituin ya?
“Udah..udah.. aku nda papa No… I’m fine… all is well…”
Ucapku saat sudah bisa mengendalikan diri kembali. Huff…asal jangan sering-sering aja deh kaya gini. Mending aku ngajak Nino duel ampe mati hehe..
“Beneran Val?”
“Iya..iya.. sana duduk aja..”
Nino balik ke kursinya setelah yakin aku udah nda papa. Sambil pasang wajah bersalah karena udah bikin aku keselek dengan omongannya. Hehe…lucu juga wajahnya kalo gitu..
“Oke.. kenapa tiba-tiba kamu pingin aku gabung ke partai seperti kamu? Bukannya yang dilamar kamu doang?”
“Iya sih Val, emang surat itu ditujukan ke aku. Tapi kemarin, begitu surat itu sampai, Pak ketua partai menghubungi aku, dan dia juga menyatakan andai kamu juga bisa ikut bergabung, pasti seluruh pengurus partai akan senang dan optimis bisa memenangkan pemilu tahun depan”
“That’s all?”
Aku menatap tajam ke arah Nino, masak hanya karena “disuruh” pak ketua partai dia nekat ngajakin aku gabung ke partai. Nda mungkin dia nda tahu prinsipku soal parpol.
“Umm..ya nda karena itu aja sih. Terus terang aku butuh bantuanmu, aku butuh publisitas yang kamu punya, dan karena kamu emang orang yang tepat untuk memperbaiki negeri ini…”
“Itu pujian?”
Nino tetawa mendengar ucapanku barusan. Terus terang, aku agak kurang nyaman dengan kalimatnya yang terakhir, karena sesungguhnya aku nda pernah menilai diriku sebagai sosok yang super ingin memperbaiki negeri ini. Aku hanya ingin kita sebagai makhluk Tuhan yang sempurna bisa menjadi lebih baik bagi semuanya, bagi Tuhan, bagi keluarga, lingkungan, dan baru bagi Negara.
“Aku serius Val, kamu punya semua yang dibutuhkan untuk memperbaiki negeri ini, idealisme kamu, kemurahan hati kamu, juga optimisme dan keikhlasan yang kamu miliki. Kita butuh pribadi seperti kamu”
“No, aku nda sesempurna itu…”
“Memang..tapi kamu nda perlu jadi sempurna untuk bisa berbuat banyak bagi negeri ini kan Val? Aku kenal kamu udah lama banget Val. I know who you are”
Dan percakapan barusan langsung menerbitkan hening di antara kami. Aku terdiam. Agak kaget memikirkan permintaan Nino yang tiba-tiba. Yah… kaget mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini, sedikit nggak nyangka karena Nino yang idealis, yang menuntut kesempurnaan tiba-tiba memilih untuk masuk jadi anggota partai politik. Sejujurnya aku juga tahu track record partai tersebut. Aku juga respek akan perjuangan mereka yang tergolong “lurus”, aku juga kenal beberapa petinggi mereka, rata-rata adalah kaum muda yang sama-sama idealis seperti aku atau Nino. Tapi untuk bergabung secara langsung dengan mereka. Kayanya itu bukan termasuk dalam sejarah hidup yang ingin aku tulis. Aku menghela nafas sejenak, sebelum kemudian berkata,
“Nino…aku hargai semua yang kamu bilang tentang aku, aku juga merasa tersanjung saat kamu pingin aku berjuang bersama. Dan, aku pasti ada untuk kamu sebagai sahabat dan saudara. Jadi mohon maaf, aku nda bisa meluluskan permintaan kamu untuk bergabung di partai bersama. Ini masalah prinsip, kamu tahu kan aku emang pingin bisa berguna bagi banyak orang di negeri ini, tapi tidak melalui jalur politik. Untuk itulah aku memilih jadi psikolog, juga jadi pembicara”
“Hhh…aku juga bisa mengerti Val, tapi kamu juga tahu di negeri ini juga butuh kendaraan dan alat untuk bisa berbuat lebih. Aku nda meremahkan reputasimu Val, tapi sekedar kata-kata belum cukup untuk membangun negeri ini.. kita butuh power kan?”
Aku tersenyum mendengar kalimat yang diungkapkan Nino, memang benar sih, di negeri ini kita harus punya kekuasaan, atau minimal dekat dengan penguasa untuk berbuat banyak. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Nino sambil berujar,
“Selama orang-orang itu masih memperhatikan kata-kataku, dan melaksanakan sepenuh hati apa yang aku katakan. Aku akan berjuang dengan cara itu. Walau mungkin agak sulit tapi aku yakin aku bisa!”
Raut muka Nino berubah setelah mendengar ucapanku. Lalu ia tersenyum, mungkin ia menyadari bahwa sudah tak ada gunanya berusaha membujukku untuk mengikutinya bergabung di partai.
“Yah..kamu benar Val… aku ngerti ko…”
Nino menepuk bahu kiriku sambil tak henti tersenyum. Tidak terlukis rasa kecewa di air mukanya meski kali ini aku nda bisa meluluskan permintaanya. Huff…andai seluruh dunia bisa menghargai perbedaan pendapat… Aku pun beranjak meninggalkan senja yang mulai gelap, sayup-sayup adzan Maghrib terdengar membahana di kota. Mengharuskanku untuk segera berwudhu dan shalat.
“Nino, aku tetep akan dukung perjuangan kamu meski mungkin jalan kita emang beda. Aku juga masih ingin berbuat lebih banyak bagi semua. Sampai kapan pun, aku masih seperti Valent yang dulu kamu kenal, kecuali pemuda egosentris ini telah mengenal arti ketulusan”
Apapun yang terjadi…ku kan s’lalu ada untukmu…
Janganlah kau bersedih…
Coz everything’s gonna be okay……
“Ya sudahlah” by Bondan & Fade 2 Black
Gambar diambil dari sini
Wallahualam bishawab








