|
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
I’ve no choice... I love you live
Love you wave good bye.....
Never wanna wake up from this night
Never wanna leave this moment
Waiting for you only, only you
Never gonna forget every single thing you do
When loving you is my finest hour
Leaving you, the hardest day of my life
The hardest day of my life
Well, setelah sekian lama absen (dua bulan lebih ga nulis di sini), kita mulai episode kali ini dengan “The hardest day”-nya The Corrs feat Alejandro Sanz. Umm..let me be honest here. Long-long ago I knew this song when I bought this komputer from my friends. And the love story at that moment is about Aya, yang sekarang da jadi istri temanku hahahaha....jadi lucu sekarang rasanya. But now, this song reminds me to another woman that I love much, she’s not Aya, kagak! I never feel love as much as this before I meet this woman. She’s Tyas, Asrining Tyas Herdiawansyah, eh sori, Asrining Tyas Handayani. Sejujurnya si gendut bulet itu bener-bener ngebuat aku merasakan cinta. Sori, agak gombal ya? Berlebihan sih, tapi itu kenyataannya. Mungkin aku seneng liat cewek cantik lain, cewe seksi, but kalo uda ga ketemu lagi, ya udah, rejekiku berakhir di situ. Tapi Tyas lain, aku ga mau kehilangan dia, n dua tahun lagi, at least we have to marry, Insya Allah...doain yee....
Oke..cukup ngomongin cinta-cintaan, daripada muntah di depan komputerku. Yang jelas hari ini hampir 2 minggu kami berpisah dan berjauhan (katanya nggak ngomongin CINTA????) maaf, sebenarnya topik kali ini tentang itu, jadi dinikmati aja
Berpisah? Berjauhan? No..no...we’re not finish, Tyas lulus jadi S. Psi Oktober lalu. That means, she must go home to Tangerang, lha aku? Aku masih ada MMK yang harus diurusin. Meski kadang aku lelah ngerasa ngurusin MMK sendiri. Like now, entah sejak kapan aku ngerasa capek di MMK, kayanya aku terlalu berharap banyak sama teman-teman mahasiswaku yang ada di MMK.
Ditambah Tyas udah cabut dari Semarang, jujur aku ngerasa hampa di sini. Biasanya memang cuma dia yang bisa maksa aku keluar kos, cari makan bareng, atau jalan bareng ke mall ato kemana...gitu. Semenjak dia balik sekitar 2 minggu lalu, rasanya bisa diitung berapa kali aku keluar kos. Semuanya seolah menumpuk jadi satu. Kepergian Tyas juga entah mengapa menerbitkan keinginanku untuk kerja di Jakarta, tapi jadi PNS. Ga tau ya, dulu aku agak menghindari jadi PNS apalagi ampe kerja di Jakarta, tapi sekarang lain. Ini analisisku sendiri tentang kondisiku saat ini, aku sesungguhnya adalah orang yang introvert, aku jarang mengungkapkan perasaanku yang terdalam dari dalam hatiku. Entah itu sedih atau senang, semua langsung aku repres, akibatnya ya seperti saat ini, ketika aku merasa aku tak mampu menahan semua yang aku repres, akhirnya malah termanifestasikan dalam perilaku yang seolah tanpa gairah hidup. Beberapa waktu ini aku merasa aku hanya menjalani hari demi hari sekedar untuk membunuh waktu, sekedar membiarkan sang waktu berlalu. Nggak seperti biasanya yang selalu ada target, selalu ada agenda mo ngapain trus ngapain. Sejak Tyas pergi aku seolah bingung mo ngapain lagi. Aku jadi ngerti sekarang kenapa Anang nyiptain lagu “Separuh Jiwaku Pergi” hehe...sori ya... hari ini, dan kemarin-kemarin aku emang bener-bener melow.
Aku jadi inget waktu Bapak dipanggil menghadap Allah, aku emang nangis saat beliau nggak ada. Tapi setelah itu, semua selesai. Aku nggak pernah mau terlihat sedih, nggak mau terlalu mikirin kenyataan bahwa Bapak udah nggak diantara kami lagi. Tapi tampaknya perilaku yang aku lakukan emang lebih jujur dari ucapanku. Jujur setelah Bapak nggak ada, disadari ato nggak terjadi perubahan drastis padaku. Sebenernya aku ngrerasa Bapak-lah inspirasiku, Bapak yang selalu memotivasi aku untuk sukses setingggi langit, untuk menggapai bintang di langit, Bapak yang idealis yang selalu mendorongku untuk melakukan yang terbaik apapun keputusanku. Setelah beliau menghadap kehadirat-Nya, saat itulah pertama kali aku kehilangan motivasi, kehilangan arah, meski tak ada satu pun orang yang tahu, karena aku nggak mau orang lain tahu. Sekali lagi, perilaku itu memang manifestasi jiwa, meski aku mencoba kuat dan tegar, toh tubuhku nggak bisa bohong. Disadari ato nggak, tubuhku semaki menyusut, aku jadi sering males makan, dan udah bisa ditebak, entah berapa banyak orang yang bilang aku semakin kecil, semakin kurus, dan sebagainya. ..dan kayanya kota ini sedang berusaha mengerti kondisi hatiku saat ini.
Beberapa hari ini Semarang bener-bener nggak jelas cuacanya, 2 hari yang lalu sepanjang hari Semarang mendung tanpa sinar matahari, 3 hari yang lalu malah ujan deres banget. Tapi kemaren panas banget seharian. Dan yang paling aneh hari ini, mendung dan matahari seoalh sedang bersaing berebut pengaruh di bumi. Kalo matahari menang, sinarnya menghangatkan Semarang, tapi kalo matahari kalah, sang mendung yang menutupinya. Seharusnya sih, kalo berdasarkan geografi SMA dan SMP plus IPS waktu SD, bulan November ini hampir seluruh wilayah Indonesia pusaka ini sudah terguyur hujan. Tapi tampaknya sekarang ini kita harus menunggu apakah benar November Rain-nya GnR masih relevan dengan iklim di bumi. Padahal, sejujurnya aku lagi pingin mendung atau hujan. Rasanya adeem banget di hati kalo lagi mendung, bumi tampak indah ketika putih langit bercampur dengan titik air yang jatuh.
Huff...entahlah...aku tiba-tiba merasa labil, agak pesimis, aku berharap ini segera berakhir. Aku capek kaya gini, tapi aku juga belum bisa bikin rencana lagi. Semua rencanaku meski nggak gagal total, tapi nggak semua sukses 100%. Padahal aku trainer ya? Haha...kalo mo jujur, itu hanya biar ibuku nggak nyebut aku jobless. Sakit rasanya kalo inget aku belum bisa kasih kebanggaan yang beliau inginkan. Huff...Astaghfirullahaladziim... Maaf Gusti, tapi aku mo curhat boleh ya .. Ya Allah ya Rabb, hanya pada-Mu hamba bergantung, hanya pada-Mu hamba meminta. Tolong kabulkan keinginan hamba yang ingin jadi PNS di Jakarta, agar hamba deket ma Tyas, agar hamba bisa ketemu dia tiap minggu. Amiin...
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
I’ve no choice... I love you live
Love you wave good bye.....
Never wanna wake up from this night
Never wanna leave this moment
Waiting for you only, only you
Never gonna forget every single thing you do
When loving you is my finest hour
Leaving you, the hardest day of my life
The hardest day of my life
Well, setelah sekian lama absen (dua bulan lebih ga nulis di sini), kita mulai episode kali ini dengan “The hardest day”-nya The Corrs feat Alejandro Sanz. Umm..let me be honest here. Long-long ago I knew this song when I bought this komputer from my friends. And the love story at that moment is about Aya, yang sekarang da jadi istri temanku hahahaha....jadi lucu sekarang rasanya. But now, this song reminds me to another woman that I love much, she’s not Aya, kagak! I never feel love as much as this before I meet this woman. She’s Tyas, Asrining Tyas Herdiawansyah, eh sori, Asrining Tyas Handayani. Sejujurnya si gendut bulet itu bener-bener ngebuat aku merasakan cinta. Sori, agak gombal ya? Berlebihan sih, tapi itu kenyataannya. Mungkin aku seneng liat cewek cantik lain, cewe seksi, but kalo uda ga ketemu lagi, ya udah, rejekiku berakhir di situ. Tapi Tyas lain, aku ga mau kehilangan dia, n dua tahun lagi, at least we have to marry, Insya Allah...doain yee....
Oke..cukup ngomongin cinta-cintaan, daripada muntah di depan komputerku. Yang jelas hari ini hampir 2 minggu kami berpisah dan berjauhan (katanya nggak ngomongin CINTA????) maaf, sebenarnya topik kali ini tentang itu, jadi dinikmati aja
Berpisah? Berjauhan? No..no...we’re not finish, Tyas lulus jadi S. Psi Oktober lalu. That means, she must go home to Tangerang, lha aku? Aku masih ada MMK yang harus diurusin. Meski kadang aku lelah ngerasa ngurusin MMK sendiri. Like now, entah sejak kapan aku ngerasa capek di MMK, kayanya aku terlalu berharap banyak sama teman-teman mahasiswaku yang ada di MMK.
Ditambah Tyas udah cabut dari Semarang, jujur aku ngerasa hampa di sini. Biasanya memang cuma dia yang bisa maksa aku keluar kos, cari makan bareng, atau jalan bareng ke mall ato kemana...gitu. Semenjak dia balik sekitar 2 minggu lalu, rasanya bisa diitung berapa kali aku keluar kos. Semuanya seolah menumpuk jadi satu. Kepergian Tyas juga entah mengapa menerbitkan keinginanku untuk kerja di Jakarta, tapi jadi PNS. Ga tau ya, dulu aku agak menghindari jadi PNS apalagi ampe kerja di Jakarta, tapi sekarang lain. Ini analisisku sendiri tentang kondisiku saat ini, aku sesungguhnya adalah orang yang introvert, aku jarang mengungkapkan perasaanku yang terdalam dari dalam hatiku. Entah itu sedih atau senang, semua langsung aku repres, akibatnya ya seperti saat ini, ketika aku merasa aku tak mampu menahan semua yang aku repres, akhirnya malah termanifestasikan dalam perilaku yang seolah tanpa gairah hidup. Beberapa waktu ini aku merasa aku hanya menjalani hari demi hari sekedar untuk membunuh waktu, sekedar membiarkan sang waktu berlalu. Nggak seperti biasanya yang selalu ada target, selalu ada agenda mo ngapain trus ngapain. Sejak Tyas pergi aku seolah bingung mo ngapain lagi. Aku jadi ngerti sekarang kenapa Anang nyiptain lagu “Separuh Jiwaku Pergi” hehe...sori ya... hari ini, dan kemarin-kemarin aku emang bener-bener melow.
Aku jadi inget waktu Bapak dipanggil menghadap Allah, aku emang nangis saat beliau nggak ada. Tapi setelah itu, semua selesai. Aku nggak pernah mau terlihat sedih, nggak mau terlalu mikirin kenyataan bahwa Bapak udah nggak diantara kami lagi. Tapi tampaknya perilaku yang aku lakukan emang lebih jujur dari ucapanku. Jujur setelah Bapak nggak ada, disadari ato nggak terjadi perubahan drastis padaku. Sebenernya aku ngrerasa Bapak-lah inspirasiku, Bapak yang selalu memotivasi aku untuk sukses setingggi langit, untuk menggapai bintang di langit, Bapak yang idealis yang selalu mendorongku untuk melakukan yang terbaik apapun keputusanku. Setelah beliau menghadap kehadirat-Nya, saat itulah pertama kali aku kehilangan motivasi, kehilangan arah, meski tak ada satu pun orang yang tahu, karena aku nggak mau orang lain tahu. Sekali lagi, perilaku itu memang manifestasi jiwa, meski aku mencoba kuat dan tegar, toh tubuhku nggak bisa bohong. Disadari ato nggak, tubuhku semaki menyusut, aku jadi sering males makan, dan udah bisa ditebak, entah berapa banyak orang yang bilang aku semakin kecil, semakin kurus, dan sebagainya. ..dan kayanya kota ini sedang berusaha mengerti kondisi hatiku saat ini.
Beberapa hari ini Semarang bener-bener nggak jelas cuacanya, 2 hari yang lalu sepanjang hari Semarang mendung tanpa sinar matahari, 3 hari yang lalu malah ujan deres banget. Tapi kemaren panas banget seharian. Dan yang paling aneh hari ini, mendung dan matahari seoalh sedang bersaing berebut pengaruh di bumi. Kalo matahari menang, sinarnya menghangatkan Semarang, tapi kalo matahari kalah, sang mendung yang menutupinya. Seharusnya sih, kalo berdasarkan geografi SMA dan SMP plus IPS waktu SD, bulan November ini hampir seluruh wilayah Indonesia pusaka ini sudah terguyur hujan. Tapi tampaknya sekarang ini kita harus menunggu apakah benar November Rain-nya GnR masih relevan dengan iklim di bumi. Padahal, sejujurnya aku lagi pingin mendung atau hujan. Rasanya adeem banget di hati kalo lagi mendung, bumi tampak indah ketika putih langit bercampur dengan titik air yang jatuh.
Huff...entahlah...aku tiba-tiba merasa labil, agak pesimis, aku berharap ini segera berakhir. Aku capek kaya gini, tapi aku juga belum bisa bikin rencana lagi. Semua rencanaku meski nggak gagal total, tapi nggak semua sukses 100%. Padahal aku trainer ya? Haha...kalo mo jujur, itu hanya biar ibuku nggak nyebut aku jobless. Sakit rasanya kalo inget aku belum bisa kasih kebanggaan yang beliau inginkan. Huff...Astaghfirullahaladziim... Maaf Gusti, tapi aku mo curhat boleh ya .. Ya Allah ya Rabb, hanya pada-Mu hamba bergantung, hanya pada-Mu hamba meminta. Tolong kabulkan keinginan hamba yang ingin jadi PNS di Jakarta, agar hamba deket ma Tyas, agar hamba bisa ketemu dia tiap minggu. Amiin...
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


