|
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. Matur nuwun Gusti... Terima Kasih Ya Allah.. atas semua nikmat yang Engkau berikan pada Hamba-Mu ini. Shalawat dan salam juga semoga selalu tercurah pada Rosulullah, sang cahaya dan roh zaman bagi umatnya. Eniwei, judul posting kali ini terinspirasi dari salah seorang tokoh Muslim besar yang terkenal, bahkan disegani oleh bangsa barat sekalipun. He’s Shalahudin al Ayubi, orang barat mengenalnya sebagai Saladin. Salah satu panglima besar muslim saat perang salib.
Konon, saat Shalahudin menaklukkan dan merebut Palestina dari orang-orang barat, beliau ditanya apakah akan membalas dendam kematian 5000 lebih muslim dan muslimah yang dibantai habis-habisan oleh orang barat saat mereka memasuki wilayah Palestina. Dengan tenang sang Jenderal menjawab, “NO!! Coz I am Shalahudin. Waow....dengan elegan dia menunjukkan jati diri dan agamanya yang luhur, yang pemaaf, tidak pendendam, dan berpikiran progresif, maju ke depan. Selain itu terbesit pula kepercayaan diri Shalahudin atas semua tindakan dan keputusan yang diambilnya. Aku harus bisa meneladani sikap seperti ini (^^)
Sekitar dua hari lalu, aku baca sebuah sebuah note teman tentang...umm tunggu, aku mo nyusun kalimat yang enak. Note itu bercerita tentang sebuah diskusi tentang sebuah ajaran agama. Honestly...aku agak...i dunno.. bukannya skeptis, tapi.. I feel in many case we need some empathy. Oke, aku ngerti ini ga mudah dimengerti, karena aku juga nggak mo menyinggung orang lain, apalagi kena UU ITE. Tapi...gini aja, anggap aja ini masukan positif.
Note itu membahas tentang hal yang bisa dibilang sensitif, apalagi, sampai blog ini ditulis, kasus video porno mirip artis masih mondar-mandir di TV. Ya! Note itu tentang hubungan pria dan wanita. Terus terang, dari segi isi, aku membenarkan dan percaya atas apa yang disampaikan, hanya saja, secara penyampaian, maaf...aku merasa orang belum tentau mau menrima dengan mudah. Soalnya masih dogmatis, bukan persuasif. Dan dari situ aku merasa, mungkin aku juga harus lebih berempati ketika nanti dapat kesempatan untuk menyampaikan materi yang ingin berikan ke peserta training. Aku nggak boleh terkesan memaksakan materiku untuk langsung disetujui, I must listen first.
My teacher, Mario Teguh juga pernah mengatakan agar kita “teguh dalam prinsip, namun fleksibel dalam metode”, n I agree with that sir. Percuma kita koar-koar hal baik ke banyak orang tapi dengan cara yang tidak baik, memaksa, tanpa mo mendengar dulu. Karena mereka nggak akan mo denger itu, walaupun sekali lagi, itu hal yang baik. Bila pun kita nggak setuju, jangan langsung secara frontal bilang ke orang tersebut kalo kita nggak setuju. Karena itu akan malah bikin dia semakin defence, semakin mempertahankan pendapatnya. Disetujui dulu...baru diberikan koreksi bila memang harus. Okey...
Aku lakukan ini, karena aku Rakhmad Herdiawansyah
Wallahu a’lam bi shawab
Kami hanya iseng nulis, salah sendiri mau baca!!!!”
(^^)
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh










