Coz I am... Rakhmad Herdiawansyah


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. Matur nuwun Gusti... Terima Kasih Ya Allah.. atas semua nikmat yang Engkau berikan pada Hamba-Mu ini. Shalawat dan salam juga semoga selalu tercurah pada Rosulullah, sang cahaya dan roh zaman bagi umatnya. Eniwei, judul posting kali ini terinspirasi dari salah seorang tokoh Muslim besar yang terkenal, bahkan disegani oleh bangsa barat sekalipun. He’s Shalahudin al Ayubi, orang barat mengenalnya sebagai Saladin. Salah satu panglima besar muslim saat perang salib. 

Konon, saat Shalahudin menaklukkan dan merebut Palestina dari orang-orang barat, beliau ditanya apakah akan membalas dendam kematian 5000 lebih muslim dan muslimah yang dibantai habis-habisan oleh orang barat saat mereka memasuki wilayah Palestina. Dengan tenang sang Jenderal menjawab, “NO!! Coz I am Shalahudin. Waow....dengan elegan dia menunjukkan jati diri dan agamanya yang luhur, yang pemaaf, tidak pendendam, dan berpikiran progresif, maju ke depan. Selain itu terbesit pula kepercayaan diri Shalahudin atas semua tindakan dan keputusan yang diambilnya. Aku harus bisa meneladani sikap seperti ini (^^)

Sekitar dua hari lalu, aku baca sebuah sebuah note teman tentang...umm tunggu, aku mo nyusun kalimat yang enak. Note itu bercerita tentang sebuah diskusi tentang sebuah ajaran agama. Honestly...aku agak...i dunno.. bukannya skeptis, tapi.. I feel in many case we need some empathy. Oke, aku ngerti ini ga mudah dimengerti, karena aku juga nggak mo menyinggung orang lain, apalagi kena UU ITE. Tapi...gini aja, anggap aja ini masukan positif. 

Note itu membahas tentang hal yang bisa dibilang sensitif, apalagi, sampai blog ini ditulis, kasus video porno mirip artis masih mondar-mandir di TV. Ya! Note itu tentang hubungan pria dan wanita. Terus terang, dari segi isi, aku membenarkan dan percaya atas apa yang disampaikan, hanya saja, secara penyampaian, maaf...aku merasa orang belum tentau mau menrima dengan mudah. Soalnya masih dogmatis, bukan persuasif. Dan dari situ aku merasa, mungkin aku juga harus lebih berempati ketika nanti dapat kesempatan untuk menyampaikan materi yang ingin berikan ke peserta training. Aku nggak boleh terkesan memaksakan materiku untuk langsung disetujui, I must listen first.

My teacher, Mario Teguh juga pernah mengatakan agar kita “teguh dalam prinsip, namun fleksibel dalam metode”, n I agree with that sir. Percuma kita koar-koar hal baik ke banyak orang tapi dengan cara yang tidak baik, memaksa, tanpa mo mendengar dulu. Karena mereka nggak akan mo denger itu, walaupun sekali lagi, itu hal yang baik. Bila pun kita nggak setuju, jangan langsung secara frontal bilang ke orang tersebut kalo kita nggak setuju. Karena itu akan malah bikin dia semakin defence, semakin mempertahankan pendapatnya. Disetujui dulu...baru diberikan koreksi bila memang harus. Okey... 

Aku lakukan ini, karena aku Rakhmad Herdiawansyah

Wallahu a’lam bi shawab

Kami hanya iseng nulis, salah sendiri mau baca!!!!”
(^^)












Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


 




Sang Penyala Obor


Cerita ini tentang pribadi besar pembangun jiwa
Yang mengisi keseharian sejak dalam buaian
Hingga kini melangkah tegap..mantap berdiri
Di atas kaki yang kokoh... dan semangat yang tak pernah mati

Kisah ini tentang sosok istimewa
Sosok yang menanamkan cita-cita..
Optimisme dan kepercayaan dalam hidup
Tuk warnai dunia.. tuk melukis bintang di langit

Tulisan ini diperuntukkan padanya
Sang penyala obor dalam hati
Obor kehidupan bernama mimpi
Berhias kasih sayang tulus tanpa henti

Dan...puisi ini hanya bagimu...
AYAH...........


Persembahan Bahagia bagi Siapapun yang S’lalu Percaya

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Dalam hidup ini...arungi cerita indahku
Saat-saat remaja yang terindah... Tak bisa terulang
Ku ingin nikmati... Segala jalan yang ada hadapku
Kan ku tanamkan cinta tuk kasihku
Agar ku bahagia...

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. Matur nuwun Gusti... Terima Kasih Ya Allah.. atas semua nikmat yang Engkau berikan pada Hamba-Mu ini. Well.. I think the opening has describe everything... Yuph! Alhamdulillah... I’m happy right now. Bukan hanya karena sedang ultah hehe.. tapi karena emang aku pingin bahagia dan Allah mengizinkan, lalu semesta ikut berpartisipasi dalam acara bahagia bersama rakhmad (^^). Hmm...maybe I’m not a teenager anymore..but... these several days, I felt live in my past. Indikatornya jelas, tiba-tiba saja aku jadi pingin dan sering ngedengerin lagu-lagu jadul yang dulu nongol mulai aku SD, SMP, SMA, ampe aku kuliah. Nggak tau kenapa bisa seperti itu, tapi.. sejak dulu emang aku ngerasa seperti seseorang yang dikelilingi masa lalu. Maksudnya gini, aku begitu menghargai arti sebuah kenangan, kenangan baik ato buruk. Itu semacam jejak langkah yang tertinggal –Glend Friedly banget yak (^^)– dari masa lalu yang akan kita gunakan sebagai salah satu petunjuk untuk mengisi masa kini dan merencanakan masa depan –agak dalem nih– jadi, aku setuju dengan apa yang dibilang Jikustik,

Barisan kenangan ini..adalah yang aku punya
Mungkin akan kau lupakan ...Atau untuk dikenang
Tulisan dariku ini... mencoba mengabadikan..
Yang mungkin kan kau lupakan... Atau untuk DIKENANG

Yah...that’s me, aku bukan tipe orang-orang yang bisa seenaknya membuang apa yang telah aku alami –kecuali emang lupa (^^)– even until now, setelah 4 tahun Bapak nggak ada, aku tetep aja keukeuh merasa kalo Bapak masih diantara kami. Idealisme Bapak masih mengalir di darahku, juga darah adekku di rumah.
Dan di ulang tahunku yang seperempat abad ini, kembali aku mo membagi bahagia yang aku rasain. Ya! BAHAGIA! Trust me, even I live with my past, I always happy. 
First... Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin... Danke well Ya Allah...
Second, Shollu ‘ala Nabi... Shalallahu ‘alaihi wa salam...
And then... Grazie mille My Mom... Luv u as always
Matur nuwun Bapak... atas cita-cita luhur yang tertanam dalam darah ini
Thanks my bro, Rakhmad Agil Pradipta, for be my best friend ever
Muchas gracias por Asrining Tyas Handayani, separuh sayap hidupku yang menerimaku apa adanya
Sukron katsiran ilaa Bpk. Bagus Trihandoyo dan Ibu Yuniasri atas kasih sayang yang tulus hingga kini
Terima kasih buat sahabat-sahabat terbaik yang pernah singgah dan terus tinggal dalam kehidupanku,
My bro at Egypt, Norman Muttaqien
The teacher, Syaiful Hamzah Nasution
The white-heart bestfriend, Arif Fathoni
Farashi Wira, Arinda Yudhit, Zakiyah Rahmani
• Teman-teman seperjuangan di Ngesrep Timur VI no 56, Keluarga Munawir Siradj, plus si kecil Vina, Mas Ricky Salpanio, Bang Yos, Mas Tomy, Mas Umar, Mas Ridwan “Kriting”, mas Aris. Semoga sukses selalu
Thanks a lot for everything... for all that we’ve shared.. Wallahu a’lam bi shawab

Kami hanya iseng nulis, salah sendiri mau baca!!!!”
(^^)

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


Live with My Life, with My Way

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. Matur nuwun Gusti... Terima Kasih Ya Allah.. atas semua nikmat yang Engkau berikan pada Hamba-Mu ini. Entah lagi kena angin apa, dua hari ini aku lagi keranjingan nulis yang tidak biasa. Kalo di episode sebelumnya adalah kali pertama aku nulis dua hari berturut-turut, maka hari ini pun juga kali pertama aku hattrick nulis di 3 hari berturut-turut. 

Alhamdulillah...pagi ini da bisa tahajud lagi, kayanya ini yang pertama sejak aku pindah kos ke Kuningan hehe...agak memalukan sih, tapi tetep perlu disyukuri juga. Yah...walopun tahajudnya didahuluin ma nonton Itali main di Piala Dunia. Dan seperti kebiasaanku sebelumnya, kalo abis tahajud gini, aku nggak bakal bisa bobo lagi! Sempet mikir juga sih, ntar di kantor ngntuknya kaya apa coba, but then I realized something that said by Mario Teguh, “bekerja keraslah sepanjang waktu, karena nanti Allah akan mengubah arti lelah bagi kita, Allah akan mengecilkan arti lelah untuk kita”, and I feel he’s right, aku emang masih ngantuk sekarang, tapi ya itu, nda bisa bobo lagi . Rasanya Allah membimbingku agar tubuhku melakukan sesuatu yang produktif atau yang belum aku kerjakan. Setelah aku pikir-pikir aku masih punya PR setrika baju, hanya karena masih agak males bwat itu, aku pilih nulis aja ah.. Curang ya? Emang kadang gitu sih 

Sambil nonton Itali tadi aku baca Marketing Revolution-nya TDW, tadinya buku itu mo aku tinggal di kantor, sapa tau bisa dimanfaatkan temen-temen marketing. Tampaknya first impression yang buruk pada TDW saat kami ikut seminarnya membuat mereka ogah pegang tuh buku, yawda aku bawa balik lagi aja buat dibaca di rumah. Eniwei, I read several last chapter of the book, sampai saat ini, jujur aja aku masih merasa bahwa Mario Teguh is the best. Fine, mungkin kata the best kurang bijak, tapi bagi aku, apa yang diajarkan Mario Teguh lebih sreg aja buat aku ketimbang TDW, hanya aku sepakat dengan apa yang dibilang TDW, kita harus tetap terbuka sama semua pengetahuan, karena itu modal untuk sukses.

TDW emang seorang marketing sejati, tak kurang mulai dari Hermawan Kertajaya ampe Anthony Robbins mengacungkan dua jempol atas totalitas dan kemampuannya itu, tapi...buat aku Mario Teguh adalah motivator sejati. Subjektif sih...but that was I feel. Bagiku, menjadi sosok Mario Teguh adalah lebih mungkin daripada aku niru TDW. Pembawaan pak Mario yang cool, kalem, dan penuh kebijaksanaan lebih gue banget dari pada gaya ekspresifnya TDW. That’s why hatiku (?) cenderung ke arah pemilih salam super itu (pliss..jangan berpikir kemana-mana kalo aku bilang “hati”). Mungkin benar bahwa apa yang dilakukan TDW melalui CD, buku, seminar dan trainingnya berhasil membuat banyak orang sukses dengan mengikuti caranya, tapi bukankah tiap individu itu beda, there’s always individual differences, huh? Karena di sisi lain tidak sedikit individu yang sukses ketika mengikuti jalan Mario Teguh. Itu juga alasan kenapa aku agak lebih condong ke pak Mario. 

However, tiada gadis yang tak retak, ups! Sori becanda, tak ada gading yang tak retak. Beberapa lama kumpul ma pak Mario, Allah kembali menunjukkan kebesaran-Nya, bahwa trainer hebat seperti Mario Teguh pun punya kelemahan, dan nantinya kelemahan itulah yang ingin aku tutupi dengan training-training yang akan aku jalankan di Sciencom. Bukannya sok pinter ato merasa lebih dari Mario Teguh. Buat aku yang selalu memilih “jalan tengah”, setiap orang, sesempurna apapun tetap aja pasti punya kelemahan di balik segala kelebihan. Bahkan secara agak ekstrem aku bilang bahwa adanya kelemahan pada pribadi seseorang itulah yang membuat pribadinya sempurna disebut sebagai seorang manusia. Begitu...

Kembali lagi ke masalah individual differences, pak Mario sukses dengan jalannya, aku yakin itu bukan murni jalan yang ia “buat” sendiri, I’m sure that before he becomes like now, he learns much from other succes person. N all of that he modifies so that it match with his own personality. Dan itu pula yang akan aku lakukan, mungkin aku nggak akan sesukses Hendy Setiono, pemilik franchise Kebab Turki Baba Rafi yang belajar banyak dari TDW, karena aku lebih “memilih” berguru pada pak Mario, dengan tetap mengambil hal yang positif dari TDW ato trainer lainnya. Dan aku juga nggak akan menjadi pak Mario seratus persen plus salam supernya, karena memang aku sudah sejak awal memilih hidup ke arah yang aku inginkan. I live in my life, in my way. Bismillahirrahmanirrahiim. Wallahu a’lam bi shawab

Kami hanya iseng nulis, salah sendiri mau baca!!!!”
(^^)

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh



Piala Dunia, Antara Hiburan dan Distraksi

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. Matur nuwun Gusti... Terima Kasih Ya Allah.. atas semua nikmat yang Engkau berikan pada Hamba-Mu ini. Kayanya ini kali pertama aku nulis blog dua hari berturut-turut, abis ngga tau tiba-tiba aja hasrat untuk menulis muncul. Melihat fenomena yang muncul belakangan ini, rasanya aku nggak betah untuk duduk diam dan memendam opini. 

Tepat 11 Juni 2010 lalu FIFA menggelar hajatan besar di Afrika Selatan, negara asal Nelson Mandela, apalagi kalo bukan Piala Dunia Sepak Bola, World Cup 2010. Sebagai event yang disebut terbesar dan terpopuler di dunia, bahkan konon mengalahkan kemeriahan olimpiade, tentu saja Piala Duni 2010 ini diselenggarakan layaknya pesta besar bagi seluruh umat manusia di kolong jagat ini. Tak ketinggalan juga di Indonesia, sudah bukan rahasia lagi kalo Indonesia merupakan surga bagi penikmat sepak bola. Saat pecinta sepak bola dari berbagai negara wajib bayar mahal untuk sebuah tayangan langsung dari para idola yang berlaga di Piala Dunia, kalo di Indonesia, anda hanya perlu duduk manis di depan TV saat pertandingan berlangsung tanpa bayar sepeser pun alias GRATIS tis..tis!!! Uenak toh? Yang kaya gini emang Indonesia banget. 

Terima kasih buat salah satu stasiun TV yang menang tender sebagai official broadcast World Cup 2010. Dengan begitu kami masyarakat pecinta bola di Indonesia mampu melihat sebuah tontonan berkualitas dunia tanpa mbayar, daripada terus bermimpi dan bertanya...kapan timnas PSSI kami yang nongol di Piala Dunia.. 

Yah...gimana pun juga, ada ato nggak ada timnas PSSI, Piala Dunia tetaplah sebuah hiburan yang menyenangkan bagi rakyat Indonesia. Setidaknya kami bisa melupakan sejenak beban hidup yang masih belum beranjak dari pundak, paling tidak kami bisa tersenyum melihat kemenangan tim favorit atas lawan-lawan mereka, kami juga terhibur oleh aksi-aksi memukau dari para bintang sepak bola dunia, ketimbang harus mikirin Tarif Dasar Listrik (TDL) yang mungkin akan naik bulan depan, ato mikirin sapa lagi yang bakal menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi di KPK, bahkan mungkin piala dunia bisa membuat kami lupa pada seringnya elpiji 3 kg yang meledak diberbagai tempat.

Selama sebulan penyelenggaraan Piala Dunia, kami juga punya “tontonan” baru yang lebih mendidik dan lebih bermanfaat ketimbang harus menonton video mirip artis yang menghebohkan dunia persilatan. Oia...ngomong-ngomong video tersebut, jujur aku miris melihat kenyataan yang terjadi di Republik ini. Di salah satu televisi swasta, sang artis menyatakan bahwa mereka adalah korban, sebelumnya beberapa psikolog senior yang nongol di TV juga menyatakan hal yang sama. Well, setiap orang emang berhak punya pendapat, tapi.....gini loh.. aku nggak peduli para artis (ato yang mirip artis) mo ngapain, mo jungkir balik di jalan kek, di kasur kek, itu bukan urusanku. Tapi kalo jungkir baliknya itu bikin moral kita dan adik ato anak-anak kita jadi merosot bahkan semakin bejat kelak, tentu aku harus ikut peduli.

Sikapku dalam kasus video itu sih gampang aja, ga mungkin ada asap hitam kalo ga ada yang maenan kompor eh api, lha kalo yang maenan api itu ngerasa jadi korban, maka ini nasehatku: (1) tolong buktiin anda sudah menikah pada saat video itu terekam, jadi yang anda lakukan halal, dan kalo ada yang nyebarin itu, anda berhak tereak-tereak kalo anda korban; (2) tolong bantu kami memahami apakah definisi korban itu artinya anda sudah berhak melakukan adegan video itu tapi kemudian dibocorkan dan disebarkan rekamannya atau korban itu artinya anda bisa melakukan suatu kebodohan dan akibat dari kebodohan itu bisa anda lempar ke siapa saja. Tolong jelaskan dengan singkat dengan pilih jawaban pertama ato kedua. 

Namun kalo memang anda bersikeras bahwa anda benar-benar korban, ya sudah, aku ngalah, aku akan bilang ke siapa saja yang baca blog ini bahwa kalo ada anggota keluarga ato sodara yang jadi artis, jangan sampai melakukan hal yang di video itu, Karena mo disebarin ato nggak, yang dilakukan dalam video itu, kalo belum tanda tangan surat nikah ato belum ijab kabul dengan disaksikan para wali dan saksi, maka berarti kita BELUM BERHAK melakukannya. Okey...

Eniwei, beruntunglah Piala Dunia membuat sebagian dari kita melupakan soal itu, tapi Insya Allah Tuhan nggak pernah tidur, Tuhan juga Maha Adil, famaiyya’mal mitsqollah dzarratin syarroiyarah, wa maiyya;mal mitsqollah dzarrotin khoiroiyyaroh Wallahu a’lam bi shawab

Kami hanya iseng nulis, salah sendiri mau baca!!!!”
(^^)

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Kereta Panjang Berjudul Masa Lalu


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. Matur nuwun Gusti... Terima Kasih Ya Allah.. atas semua nikmat yang Engkau berikan pada Hamba-Mu ini. Eniwei, ini kali pertama aku menghabiskan liburanku di kos Kuningan. Biasanya tiap week-end aku pasti nginep di rumah Tyas. Berhubung kemarin aku ada acara kumpul bareng temen-temen kuliah plus harus kontrol bwat terapi TB-ku di Tangerang, maka aku putuskan untuk nggak nginep di Perum, rumah ortunya Tyas, biarpun tetep diiringi sedikit rengekan manja Tyas karena kami nggak ketemu hehe... It’s fun enough, let the time flow in my room, watch TV, read the book, n of course write in “Tentang Rakhmad”.

Seminggu yang lalu, like i said in the previous episode, aku agak melow-melow gimana gitu. Yang pasti aku jadi gampang merenung, n feel surrounded by my past. Sampai hari ini pun aku masih merenung tentang usiaku yang beberapa hari lagi beranjak seperempat abad, udah tua yak? Hehe... Ternyata selama seperempat abad aja uda buanyaaaaaak banget yang aku alami, dan yang aku –atau ter- simpan dalam ruangan bernama kenangan. Mungkin selama seminggu lalu beberapa kenangan itu menampakkan dirinya dalam beberapa bentuk sehingga manifestasinya adalah aku yang jadi mellow (sori, agak sok psikologis ya?) but i think that was I felt. Parahnya, aku membiarkan aku tenggelam dalam perasaan itu, jadinya malah semakin melow.

Dan setelah seminggu berlalu, aku sadar kalo... semua itu (kenangan itu tadi) semacam kereta panjang yang terkadang menghampiri kala kita melewati sebuah persimpangan hidup. Yah... saat kita melewati beberapa persimpangan hidup baru, mungkin ada semacam mekanisme dalam tubuh kita yang merasakan bahwa persimpangan “baru” itu pernah kita lewati. Yah..meski tak sepenuhnya mirip, mungkin tubuh (ato jiwa?) kita merasa pernah mengalami persimpangan yang hampir sama dengan persimpangan yang sebelumnya kita lalui, dan segera memberi sinyal pada kita tentang peristiwa yang terjadi pada persimpangan lalu tersebut. Dan kereta panjang bernama kenangan masa lalu itulah yang menghampiriku seminggu lalu.

Entah mengapa aku jadi rindu beberapa masa yang aku lewati sebelumnya, masa saat di Semarang, masih kuliah, masih ngumpul bareng temen-temen, saling curhat dan berbagi, yeah... I miss that, apalagi tanggal 12 Juni kemaren kita sepakat untuk bikin ketemuan rutin, melanjutkan pertemuan pertama 2 bulan yang lalu. Semakin rajinlah kenangan masa kuliah di Semarang nongol dalam keseharianku. N then...

12 Juni, Plaza Semanggi, Jakarta
Aku datang agak nelat karena setelah kontrol, ternyata masih diajak ma Tyas n fams buat makan laksa bareng, makan siang gratis... Alhamdulillah... terus aku langsung ngacir ke Jakarta. Nah, ini juga ada cerita agak konyol, karena aku ke Jakarta lewat Cikokol, padahal sebelumnya ga pernah sama sekali, jadilah akhirnya aku muter-muter dulu ke serpong-BSD-kampung rambutan-cawang yang menempuh waktu 2 jam lebih, padahal kalo lewat rute biasa, palem-tol jkt merak- slipi-semanggi paling lama hanya sejam, yah,,,itung-itung pengalaman baru... 

Sampai Semanggi, uda ditunggu Lita yang baru datang juga, terus kita ke Sky dining di lantai 9, coz udah ada Dewo ma Curnt yang uda dateng duluan, ternyata Curnt ma sang suami, jadilah kita kenalan (padahal pas nikahan dia kita dulu da kenalan). Setelah nunggu agak lama ternyata kita sadar bahwa dari 12 orang yang diundang, hanya kita berempat yang datang! Ada yang sakit, terus ada acara keluar kota, ampe ada juga yang ga baca undangan karena emang ga buka fesbuknya... well... jujur aku agak kecewa, aku pikir ajang silaturahim ini bakal bisa berlangsung dengan lancar kaya punya anak 2002, malah seniorku di kampus itu pada ngumpul sebulan sekali. Yah...tampaknya memang dunia kami sudah sedemikian berbeda. Aku cuman ngerasa agak nggak enak ma Curnt aja, dia yang uda berkeluarga, lagi hamil pula masih berusaha untuk ngumpul sekedar melepas kangen ma temen-temen. Oya, aku juga ngerasa ga enak ma Winnya yang menitipkan 12 undangan buat temen-temen yang rencananya hadir di Semanggi. Amanahnya hanya bisa ku tunaikan sebagian, mungkin kalo kepepet, aku bakal kirim undangan-undangan itu via pos. 

Bagaimana pun juga kereta panjang itu sudah menghilang, masing-masing kami telah tiba di persimpangan-persimpangan baru lainnya, persimpangan yang tentu saja berbeda satu sama lain, arah, tujuan, dan alamatnya. Semoga kita bisa bertemu di suatu persimpangan yang sama. Wallahu a’lam bi shawab

Kami hanya iseng nulis, salah sendiri mau baca!!!!”
(^^)

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh



Bulan Madu Segera Berakhir...

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin.. Matur nuwun Gusti... Terima Kasih Ya Allah.. atas semua nikmat yang Engkau berikan pada Hamba-Mu ini. Termasuk baru-baru ini, Engkau ingatkan hamba-Mu yang mulai bandel lagi. Gimana ga bandel kalo sholat Isya nelat, Tahajud bolong lagi, mulai jarang jamaah di masjid, ampe nonton video aneh-aneh.. hehe.. Terima kasih atas tegurannya Gusti..

Well..beberapa hal terjadi kemarin, sempat bikin aku excited, some of it also make me disapointed. Oya, aku harus telp mama camer dulu yang ultah hari ini. Oke, telp uda beres, eniwei... terus terang aku lagi mellow minggu ini, gara-gara baca Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, n I let this feeling flow into my day.. He write about L-O-V-E, yah...tadinya aku juga ngga nyangka aja penulis buku komedi ngomong soal cinta, tapi hasilnya luar biasa. Dika bisa membuat cerita cinta yang genrenya komedi, tapi ngena di hati. Ato kadang aku juga mikir apa emang aku dasarnya melow, jadi kesenggol perasaan dikit langsung mbrebes mili ya? Entahlah

Ntar lagi masa probation-ku di kantor berakhir, it means aku Insya Allah bakal jadi pegawai tetap (Amiin...) hanya saja yang menjadi ganjalanku adalah, aku merasa belum menghasilkan sesuatu di sini. Jujur aja, aku tipe orang yang merasa eksis kalo menjadi bagian yang bermanfaat bagi orang lain ato perusahaan, meski hal-hal tersebut terkesan kecil dan sepele, seperti jadi teman yang baik, mo ngedengerin orang curhat, atau apapun lah yang intinya kehadiranku punya arti di suatu tempat. Mungkin hal-hal “sepele” itu udah aku lakukan, tapi kayanya bukan itu yang aku cari sekarang. Aku trainer, jadi aku merasa eksis kalo aku ada di depan kelas, di depan peserta, mengelola emosi dan pikiran mereka, that’s why I choose this job, coz I like it. Sayangnya...kantorku lagi mengembangkan sayap baru, yaitu divisi SDM tempat aku sekarang, jadi kami belum punya pelanggan tetap untuk SDM, meski pasarnya sebenarnya buanyaaaak banget.

Aku sempet tawarkan ke my big boss, to help out sales, aku ikut terjun ke lapangan. Karena gimana pun aku tahu gimana kondisi lapangan as a sales. Tapi kayanya demi pertimbangan lain aku “hanya” diminta upgrade sales tim sama sesekali memaksa mereka untuk ikut ketemu klien. Oke...aku terima pertimbangan n alasan beliau. Toh positifnya, aku nggak ikut repot, aku jadi bisa konsen buat ngurusin materi pelatihan. Negatifnya....huff.. aku ambil nafas dulu biar agak sabar... Beberapa temen sales jadi mengeluh males ngejual pelatihan SDM karena belum langsung laku... Oke, aku bisa ngerti beberapa hal. Karena belum ada reinforcement positif, maka sesuatu yang baru cenderung tidak “dianggap”, mungkin kalo mereka dapat satu event aja trus sukses, itu bisa jadi penguat positif bagi mereka, ato...bonus yang lebih gede... hanya saja option kedua kayanya bukan kewenanganku sih. Actually I wanna help them, tapi.. kembali lagi ke mindset pribadinya, kalo nggak mo keluar dari zona nyaman, mo dipaksa gimana pun juga bakal susah.

Aku jadi inget beberapa kali diskusiku dengan salah seorang trainer IT senior di kantor, sebut saja pak X, he’s right when he explain condition in this office, 100% correct. He knows about system, about people involve in, even he knows how the boss think! But he never listened carefuully by others. Akibatnya dia jadi pribadi yang keras dan terkesan ngotot dalam berpendapat, karena dia ingin kebenaran yang sesungguhnya emang benar dipakai oleh semua orang di kantor.

While me, I don’t wanna like that, I wanna people agree with my opinion or my idea, then do it with pleasure. Sayangnya...kalo bener-bener mo jujur, beberapa dari kami adalah tipe orang-orang yang terlalu nyaman di zona nyaman masing-masing, sehingga mungkin setelah probation ini sukses aku jalani, aku harus jadi sosok seperti Mr X yang aku ceritain di atas, aku harus jadi galak yang penting hasilnya tercapai.... Tampaknya bulan madunya memang harus segera berakhir.

Kami hanya iseng nulis, salah sendiri mau baca!!!!”
(^^)

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh



Diberdayakan oleh Blogger.