Jika memang masih bisa mulutku berbicara
Santun kata yang ingin terucap
Kan ku dengar caci dan puji dirimu padaku
Kita masih muda dalam mencari keputusan
Maafkan daku ingin kembali
Seumpama ada jalan tuk kembali…..
Jika by Melly n Ari L
“Huffff…..!”
Terik matahari yang menyengat menyambut kedatangan Dika di Ibukota siang itu. Tempat baru yang ia pilih untuk melanjutkan lembaran sejarah hidupnya. Ada rasa aneh hinggap di hatinya, rasa lega karena lelah di perjalanan kereta 12 jam dari Surabaya telah berakhir, meski di sisi lain ia masih tak mempercayai bahwa sebentar lagi ia akan beraktifitas di Jakarta, sebuah kota yang sejak kuliah telah ia eliminasi sebagai kota tinggalnya kelak. Nyatanya, takdir membawanya merantau ke kota tersebut.
“Mas Dika?”
Sesosok suara wanita membuyarkan lamunannya, menoleh ke sumber suara, sepupunya Nina menepati janjinya untuk menjemput di Gambir hari itu. Sambil tersenyum Dika menjabat tangan gadis manis berkaca mata di depannya.
“Apa kabar?”
“Super!”
Sambil tersenyum Nina menirukan jawaban yang sering dilontarkan Mario Teguh di televisi. Membuat suasana menjadi semakin ceria meski kali ini sang surya memamerkan panas yang nggak kira-kira. Sambil berjalan ke arah mobil yang akan membawa mereka ke rumah orang tua Nina di salah satu kawasan elit Jakarta, Dua suadara satu nenek tersebut bertukar cerita tentang kesibukan masing-masing, tentang keluarga, juga tentang masa depan yang ingin mereka ukir kelak. Sudah hampir setahun mereka tidak berjumpa, bahkan karena kesibukannya Dika tak sempat mengunjungi Nina saat Idul Fitri tahun ini.
“Oya mas, kenapa sih tiba-tiba pingin ke Jakarta?’
“Sebenernya si nggak tiba-tiba, yah..semua uda direncanakan, hanya memang aku kasih tau kamu begitu uda mo berangkat..”
“Ya, tiba-tiba ato nggak, yang penting mas uda nyampe Jakarta. Perasaan waktu kita sama-sama di kampus dulu, mas pernah bilang kalo nggak bakalan mau kerja di Jakarta, lha kok sekarang malah menjilat ludah sendiri?”
Dika tidak segera menjawab, pandangannya menerawang menembus macetnya jalan Sudirman siang itu. Di benaknya tergambar jelas saat keduanya masih kuliah di Unair sekitar setahun yang lalu. Saat itu Dika yang baru saja mengenyam gelar sarjana mendapat tawaran dari ayah Nina, yang notabene pamannya, seorang direktur di salah satu perusahaan di Jakarta untuk menjadi seorang supervisor di salah satu divisinya. Namun karena idealismenya yang ingin berusaha dengan tangan sendiri, Dika menolak dengan halus tawaran tersebut, dan posisi ini kini menjadi milik Nina, sepupunya. Nina juga mengambil pendidikan yang sama dengan Dika di universitas yang sama, universitas Airlangga.
“Entahlah Nin, jujur ya, sampai sekarang aku masih belum perrcaya kalo akhirnya aku mengambil keputusan untuk pindah kerja ke Ibukota.”
“Ko gitu? Yang jelas bukan karena Cinta kan?”
“Ya nggak-lah, dia kan udah lama nggak di Jakarta, dia udah kerja di Tokyo lagi.”
“Oya? Kok mas Dika tahu? Aku yang temen seangkatan aja nggak pernah dikasih tau ma Cinta. Masih sering kontak ya meski sudah…. Eh maaf, mas Nina nggak bermaksud untuk…”
“Udah putus maksudmu? Kan bukan berarti silaturahmi juga harus putus… Kami masih sekali-kali bertukar kabar ko meski hanya lewat facebook ato twitter”
Nina yang merasa tidak enak karena pertanyaannya memilih langsung diam sambil menundukkan kepala, Dika pun maklum, sambil menyandarkan badan di sandaran kursi, ia biarkan kotak memori di otak membawanya ke masa enam bulan yang lalu, saat ia dan Cinta, gadis yang menemani kesehariannya selama beberapa waktu, memutuskan untuk tidak bersama lagi. Karena alas an yang tak bisa ceritakan hingga kini, Dika menyusulnya, sambil bekerja di Jakarta tentu saja.
“Kita pasti bisa Cin, LDR bukan akhir dari segalanya, kamu bisa percaya aku, hati ini hanya terisi namamu. Nggak akan ada yang lain.” Hingga di pertemuan terakhir mereka, Dika masih berusaha meyakinkan gadis pujaannya untuk mempertahankan hubungan mereka meski jarak akan memisahkan. Nyatanya, Cinta tetap menolak bila harus berhubungan jarak jauh, Long Distance Relationship (LDR).
“Aku…aku percaya sama mas Dika, tapi jujur justru aku yang nggak bisa percaya ma diriku sendiri. Mas tau aku butuh seseorang di sampingku selalu, itu yang membuat aku tenang.”
“Oke, segera aku akan pindah kerja, Nggak masalah bila aku harus meninggalkan rumah untuk bekerja di Jakarta, di tempat kamu dan orang tua-mu tinggal, aku akan berusaha untuk bisa terus disampingmu.”
“Maaf mas, aku nggak bisa terus sama mas.”
“Kenapa Cinta? Kenapa???”
Hingga beberapa waktu, pertanyaan Dika belum terjawab. Sampai akhirnya, setahun kemudian, hari ini saat Dika melangkahkan kaki menuju Jakarta untuk mempertanyakan semua pada Cinta, untuk kembali siap merajut takdir bersama di Ibukota. Namun, lagi-lagi takdir berkehendak lain, satu jam sebelum kereta berangkat dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya,
@Luv_Cinta hei..apa kabar? Wiken ini libur kan? I have surprise 4 u
Melalui twitter, Dika coba menghubungi Cinta, selain memastikan bahwa kedatangannya takkan sia-sia. Tak sampai lima menit kemudian, balasan dari Cinta tiba,
Aku baik ko mas. Surprise? Apaan nih? Penasaran jadinya… RT @Dee_kaa hei..apa kabar? Wiken ini libur kan? I have surprise 4 u
Ada deh..pokoknya tunggu aku di jkt RT @Luv_Cinta Aku baik ko mas. Surprise? Apaan nih? Penasaran jadinya…
Agak lama balasan dari Cinta sampai, sekitar hampir satu jam kemudian, ponsel Dika bergetar
@Dee_kaa mas nggak ke jkt wiken ini hanya buat nemuin aku kan?
Sambil tersenyum membayangkan wajah Cinta saat mengirimkan tweet balasan, Dika yang datang ke Jakarta dengan hati berbunga-bunga langsung memainkan keypad ponsel, mengetik sebuah kalimat
@Luv_Cinta Y g segitunya juga si..mksdku g cm wiken ini aku k jkt..cos mulai wiken ni, aku kerja di jkt (^^)
Nun jauh di sana, hati Cinta serasa teriris membaca tweet yang dikirim Dika ke accountnya. Andai Dika tahu, setetes kristal bening meluncur mulus dari pelupuk matanya. Gadis berhati putih tersebut tak tega membayangkan kenyataan yang akan dihadapi Dika saat di Jakarta nanti. Namun bagi Cinta yang tak memiliki banyak pilihan dalam hidup, Ia harus mengatakan semuanya sekarang. Sudah saatnya Dika berhak tahu kondisinya saat ini, serta perasaan terdalam yang ia simpan selalu untuk pria tegar yang telah menemani kesehariannya saat kuliah di Surabaya dulu.
@Dee_kaa mas, buka message fb ya..
Segera Dika membuka account facebooknya, membuka inbox-nya, sebuah pesan dari Cinta telah ada di situ. “Maafkan Cinta, mas Dika”. Subjek pesan yang dikirim Cinta membuat Dika semakin penasaran. Tanpa membuang banyak waktu ia pun membuka pesan tersebut.
“Mas Dika yang selalu ada di hati Cinta.. Sungguh mas, kalimat di atas bukan hanya pemanis bibir belaka, bukan pula sekedar basa-basi tak perlu. Namun kalimat tersebut adalah ungkapan jujur berasal dari relung hati Cinta yang paling dalam. Hanya kalimat itu yang bisa Cinta persembahkan buat mas. Karena tak ada lagi yang bisa cinta berikan pada mas saat ini. Mas pasti ingat setahun yang lalu, saat mas Dika mempertanyakan kenapa Cinta minta putus? Padahal saat itu pun mas sudah punya rencana untuk pindah kerja di Jakarta sekaligus menemani Cinta di sini. Sekarang Cinta akan jawab semuanya, karena mas Dika berhak tahu kenyataan ini.
Sebenarnya jauh sebelum Cinta kenal mas, Cinta telah dipertunangkan dengan anak teman papa, yang juga seorang diplomat, sama seperti papa. Saat itu Cinta masih kecil mas, Cinta menurut saja apa kata orang tua, apalagi pernikahan itu diputuskan akan berlangsung setelah Cinta mendapat gelar kesarjanaan. Namun ternyata saat Cinta kuliah, banyak hal terjadi, Cinta bertemu mas, dan yah seperti akhirnya yang kita jalani bersama.. menjelang wisuda, Cinta bahkan pernah meminta papa untuk memutuskan pertunangan kami karena Cinta lebih memilih mas Dika ketimbang calon yang disiapkan papa buat Cinta. Tapi ternyata papa dan mama malah marah besar, lalu memutuskan untuk memajukan acara pernikahan kami. Itu juga alasan mengapa mas Dika nggak Cinta izinkan untuk hadir di acara wisuda. Meski mas kecewa, mas tetap meluluskan permohonan Cinta saat itu. Cinta ucapkan terima kasih atas pengertian mas.
Dan setelah papa tahu hubungan Cinta dan mas Dika, papa langsung minta agar Cinta putus dengan mas, Papa bahkan menyita seluruh ponsel yang Cinta bawa. Makanya kita baru bisa berhubungan kembali sebulan terakhir, setelah papa menyerahkan kembali ponsel Cinta. Namun Cinta minta maaf, karena hanya itu kalimat yang bisa Cinta ucapkan pada mas, saat ini Cinta berada di Tokyo, di Jepang, mengikuti papa yang sekarang tugas di sini, sambil mempersiapkan pernikahan Cinta dan Ryan bulan depan, calon suami yang disiapkan papa bagi Cinta.
Sekali lagi, Cinta minta maaf… sungguh dari hati yang terdalam..Cinta tidak ingin ini terjadi, namun Cinta tak berdaya, Cinta tak bisa melakukan apapun. Cinta tak ingin melukai hati mas Dika yang sudah begitu baik selama tiga tahun menemani Cinta. Dan cinta ingin mas Dika tahu bahwa tiga tahun masa kuliah Cinta bersama mas Dika adalah tiga tahun terbaik dalam hidup Cinta. Karena saat itulah Cinta menjadi wanita seutuhnya, yang sangat sayang dan juga disayang oleh mas Dika..
Sampai kapanpun…nama mas Dika kan tetap di hati Cinta. Tapi demi kebaikan kita sekarang, Cinta minta maaf bila harus menghapus seluruh account mas. Maafkan Cinta mas… I luv U"
“Mau dikata kenapa lagi.. kita tak akan pernah satu..
Engkau di sana..aku di sini.. meski hatiku… Memilihmu…”
Mantan Terindah by Kahitna
Dika merasakan hatinya hancur berkeping-keping, tersayat sedemikian rupa sehingga bahkan ia seolah-olah tak merasakan apa-apa lagi malam itu. Di antara deru kereta yang berdesing, di gelap malam yang dingin, Dika hanya bisa terdiam tanpa kata, tanpa gerakan malam itu. Ponsel masih tetap dalam genggamannya meski agak lama kemudian ia tertidur karena lelah.
Sinar matahari pagi yang masuk menerobos jendela kereta membangunkan Dika dari tidur, sambil berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tak sedang mengalami mimpi buruk setelah membaca pesan dari Cinta semalam. Pandangan matanya tertuju ke LCD ponselnya, ada dua pesan yang muncul di account twitter dan satu facebooknya
You have removed by Cinta Chantique
You have unfollowed by @Luv_Cinta
You have blocked by @Luv_Cinta
Dika menghela nafas panjang sesaat…lalu beranjak bangun menuju restorasi.. memesan secangkir kopi panas, membawanya kembali ke kursi, lalu menikmati hangatnya kopi sambil melihat hamparan sawah yang terhampar indah di jendela kereta, seolah tak ada kejadian istimewa yang telah terjadi. Berbagai ujian dan cobaan yang hadir di hidupnya telah menjadikan pribadinya semakin tegar, dan membentuk akar yang kokoh dalam hidupnya.
“Jadi gitu mas.. kok tega ya Cinta…” Nina berkomentar miris mendengan cerita kakak sepupunya tentang perjalanan mencari cinta sejatinya.
“Hei…Cinta teman angkatanmu loh..”
“Ya emang dia salah..nggak peduli dia temanku ato bukan…”
“Bocah…bocah… emang ya… darah muda itu selalu mudah panas… Cinta tuh nggak salah lagi.. dia hanya terjebak keadaan” Dika menjawab sambil mengacak-acak rambut Nina yang duduk di sampingnya.
“Tapi kenapa dulu ia memilih jadian ma mas kalo memang uda dijodohin coba?”
“Entahlah Nin, mungkin memang kami masih terlalu muda saat itu, kami nggak berpikir panjang dan realistis. Aku nggak pernah nyalahin siapa pun atas apa yang terjadi saat ini. Semua udah digariskan. Gimana pun juga itu adalah kenangan terindah… coz love will never leave your life… iya kan?”
Nina tersenyum manis mendengar ucapan Dika. Sebuah kekaguman muncul manakala mengetahui kebesaran hati sepupunya sambil mengulang kembali kata-kata mutiara milik Dika,
“Yah…mas bener… love will never leave your life…”
“Bila..yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu
Kan ku jadikan Kau kenangan yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupmu
Yang t'lah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah…”
Kenangan Terindah by Samsons