Takdir Cinta


by: Rossa
Ku tutup mataku dari semua pandangaku
Bila melihat matamu..Ku yakin ada cinta
Ketulusan hati..Yang mengalir lembut
Penguasa alam.. Tolonglah pegangi aku
Biar ku tak jatuh pada sumur dosa yang terkutuh
Dan menyesatkanku
Andaikan ku bisa lebih adil
Pada cinta kau dan dia
Aku bukan Nabi yang bisa sempurna
Ku tak luput dari dosa
Biarlah ku hidup seperti ini
Takdir cinta..harus begini
Ada kau dan dia bukan ku yang mau
Oh Tuhan..tuntunlah hatiku

Konformitas ala Devide et Impera


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Indonesia kembali membara. Negara yang konon gemah ripah loh jinawi serta memiliki Bhineka Tunggal Ika sebagai salah satu alat pemersatu bangsa ini kembali terbelah. Ironisnya kejadian itu terjadi saat hari lahir Pancasila yang juga menjadi landasan munculnya asas “berbeda tetapi satu”. Kejadian yang seolah mencoreng dan mengkhinanati Pancasila yang diagung-agungkan sejak zaman kebangkitan nasional dicetuskan Dr. Sutomo seabad yang lalu.

1 Juni 2008 adalah hari peringatan Pancasila dilahirkan. Hari itu dirayakan di beberapa tempat –bahkan wapres Jusuf Kalla menggelar jalan santai untuk memperingatinya– Jakarta kembali membara oleh kerusuhan. Ibukota kembali berduka, melihat saat hampir seluruh elemen bangsa memperingati salah satu hari bersejarah, beberapa oknum justru merayakannya dengan cara yang unik, atau mungkin nyeleneh kalau tidak boleh dibilang edan.

Sesama anak negeri yang katanya senasib sepenanggungan, sesama umat seiman yang seaqidah dan seperjuangan malah justru saling jotos-jotosan di Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) versus Front Pembela Islam (FPI) “bertempur” demi idealisme yang bahkan mungkin mereka sendiri belum mengerti apa itu idealisme. Belakangan diketahu bahwa bukan hanya FPI yang merupakan “musuh” AKK-BB, tercatat beberapa ormas Islam bergabung dengan aksi yang kemudian menyebut dirinya sebagai Laskar Pembela Islam (LPI). Tampaknya semua terjadi “hanya” karena mereka yang bertempur adalah kelompok saya, ini pertarungan kelompok saya maka saya “wajib” ikut serta. Romantis sekali bukan? Meski terkesan guobloknya naudzubillahi min dzalik.

Kenyataan bahwa kita memang bangsa yang pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun memang pahit, terlebih bila siasat yang digunakan adalah politik adu domba yang legendaris hingga ditulis dan harus dihafalkan oleh murid-murid sekolah zaman sekarang, politik devide et impera. Namun yang lebih pahit harus kita rasakan sebagai anak bangsa yang religius dan Pancasila-is adalah kenyataan yang baru saja terjadi, yang menyatakan bahwa politik yang telah menghancur leburkan persatuan bangsa di masa lampau, justru masih mampu meretakkan persatuan bangsa di masa kini. Untuk apa kita pelajari sejarah masa lalu bila masih terperosok di lubang yang sama?? Mengapa generasi muda justru dijejali sesuatu yang ternyata sifatnya teoretis sekaligus absurd namun di lapangan semuanya hanya omong kosong? Apa kata dunia????! Sedemikian parahkan nasib bangsa yang terdiri dari ribuan pulau dan jutaan kekayaan alam yang dianugerahkan Allah SWT ini??

Konon, juru bicara LPI menyatakan bahwa kejadian di Monas kemarin (1/6) merupakan klimaks dari kesabaran LPI selama ini. Mereka berdalih bahwa kesabaran mereka telah habis menyikapi keberadaan aliran ahmadiyah yang nyata-nyata didukung oleh AKK-BB. LPI juga menyatakan bahwa peristiwa Monas merupakan balasan atas apa yang dilakukan oleh AKK-BB melalui media yang disebut memfitnah LPI dan beberapa ormas yang di dalamnya sebagai ormas-ormas perusak dan penghancur Pancasila dan NKRI, karena tidak menghormati kebebasan beragama.

Memang sudah hukum alam yang namanya aksi selalu mengundang reaksi. Berdasarkan hukum fisika Newton tersebut, mungkin yang dilakukan LPI cs bisa dibilang benar. Sayangnya, yang tidak mereka pikirkan dalam otak mereka –kalau punya– adalah mereka melakukan kekerasan yang membabi buta, anarkhisme hukum rimba yang justru akan menjatuhkan citra dan kredibilitas mereka sendiri. Sebab dengan bereaksi seperti itu menunjukkan bahwa mereka cenderung memakai otot ketimbang otak dalam berbuat, yang seperti itu mah mental zaman primitif, dimana semua hal diselesaikan dengan kekerasan Sekarang bukan zaman seperti itu bung!!! Apalagi saat insiden berlangsung terdapat banyak ibu-ibu dan anak-anak di sekitar lokasi. Astaghfirullahaladzim... Padahal Rosulullah SAW saja melarang kita menyentuh wanita dan anak-anak saat perang melawan orang kafir. Perang man!!! Sekali lagi PERANG!!! Bukan dalam kerusuhan kelas teri hanya karena berbeda pendapat.

Sementara AKK-BB, kayanya sih korban, tapi kok ada yang aneh ya??? Salah seorang anggota AKK-BB yang juga direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menuturkan bahwa tudingan fitnah terhadap LPI tidak pernah dilancarkan AKK-BB. AKK-BB juga tidak menggunakan segala cara dalam bertindak tapi hanya melalui media, dan tidak berniat menfitnah siapa pun, jadi kalau ada yang merasa difitnah, maka sudah bukan urusan AKK-BB (Nuansa Pagi – RCTI, 2/6). Wah..wah.. Ternyata enak ya kalau kita bertindak pakai media. Kita hanya perlu nulis, mengadakan konferensi pers dan ngomong seenaknya sendiri. Tanpa peduli apakah omongan kita itu (baik melalui media cetak atau elektronik) bakal menimbulkan fitnah bagi publik, bakal melukai hati seorang atau lebih, dan yang lebih parah bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu semua sudah bukan urusan kita. Kan kita “hanya” menggunakan media.

Padahal, tidakkah anda sadar dul? Bahwa anda adalah orang yang terpelajar, berpendidikan. Masak hanya bisa ngomong tanpa mempertimbangkan baik buruknya? Tanpa mempertimbangkan akibat positif dan negatifnya bagi orang lain? Kalau hanya seperti itu anak TK juga bisa son!!! Malu kali sama gelar yang berderet-deret di belakang nama tapi bisanya hanya NATO (Not Action, Talk Only). Bukankah lebih bijak kalau sebagai kaum intelektual yang berpendidikan tinggi seperti anda dan bala kurawa mengajak pihak-pihak yang berbeda pendapat dengan anda untuk duduk bersama mencari solusi terbaik bagi semua. Win Win Solution kalimat kerennya. Anda pasti diajarkan dan belajar apa itu komunikasi efektif, manajemen konflik, hingga bagaimana caranya saling menghargai pendapat orang lain. Amalkan itu di keseharian anda donk!!! Jangan hanya berani ngomong yang mencela, mengkritisi, tapi nggak bisa menawarkan solusi terbaik. Sayang kan sekolah tinggi-tinggi tapi nggak ada yang bisa diamalkan???

Secara psikologis, kesetiaan dan kepatuhan pada kelompok, perasaan senasib dan sepenanggungan disebut konformitas. Konformitas ini mucul karena adanya kesamaan minat, nilai dan norma yang dianut oleh anggota kelompok, serta adanya interaksi yang terus menerus dalam kelompok tersebut. Konformitas memberikan dampak hilangnya pendapat atau aspirasi tiap individu. Mengingat keputusan yang dilaksanakan adalah keputusan kelompok, sehingga setiap anggota kelompok secara sadar maupun tak sadar terseret ke dalam keputusan kelompok. Konformitas juga memiliki arti yang hampir mirip dengan kohesifitas kelompok. Biasanya kelompok dengan kohesifitas yang tinggi akan memiliki solidaritas yang tinggi pula antar anggota kelompok.

Bila kita amati kasus Monas kemarin (1/6), dimana hampir seluruh individu yang terlibat kerusuhan begitu bangga dengan identitas kelompoknya sehingga semakin keluar jalur dari yang semestinya mereka lakukan, pada dasarnya merupakan bentuk solidaritas dan konformitas dalam kelompok semata. Hampir seluruh anggota AKKBB maupun LPI saling bentrok demi mempertahankan kelompoknya masing-masing. Mereka mengklaim bahwa kelompok mereka yang paling benar, mereka memiliki bukti-bukti yang menunjukkan bahwa kelompok lain adalah kelompok yang salah dan harus dibasmi.

Okey, mungkin tiap orang pernah melakukan kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna di jagat raya ini. Nampaknya itu yang belum mereka sadari betul selama ini. Padahal jika saja mereka tahu apa manfaat dari konformitas terhadap kelompok yang selama ini mereka bela, mereka perjuangkan, bisa jadi mereka menyesal atas kebodohan yang mereka perbuat. Karena apa? Karena saat mereka bersimbah darah, keringat, dan air mata bertarung melawan saudara-saudaranya sendiri yang juga seiman, sebangsa dan setanah air, sang dalang kerusuhan, aktor intelektual, provokator atau apalah nama yang tepat untuk menyebut kebrengsekannya, sedang tersenyum lebar menikmati hasil karyanya. Bahkan mungkin sang aktor sedang tertawa dan bertepuk tangan melihat adegan yang sebenarnya ia rencanakan dengan memanfaatkan konformitas buta dalam sebuah kelompok, sebuah konformitas yang digunakan untuk mengadu domba seluruh anak bangsa, untuk kemudian memecah belah dan menghancurkan bangsa yang kita cintai ini dari dalam. Andai saja anda-anda semua mengerti betapa licik dan jahatnya konformitas devide et impera yang telah menuai hasil dengan tumpahnya darah rakyat Indonesia oleh akibat tangan-tangan saudara sebangsa di negerinya sendiri. Wallaua’lam bishawab

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Rakhmad Herdiawansyah S. Psi
Alumnus Psikologi Undip, Trainer RBS
Bukan Anggota AKKBB atau LPI
Diberdayakan oleh Blogger.