Matahari baru saja menampakkan wujudnya di sabtu pagi yang mendung, dan Dika sudah berada di salah satu rumah sakit di kawasan Kuningan. Tiara, his fiancée terpaksa dirawat di rumah sakit karena menderita Demam Berdarah. Week-end kali ini Dika ingin menggantikan orang tua Tiara untuk menjaga dan menemaninya di rumah sakit.
“Assalamualaikum…”
Sapa Dika manakala telah sampai di depan ruang Edelweiss. Ruangan tempat Tiara dirawat.
“Waalaikumsalam.. masuk mas Dika…”
Suara lembut Bu Ida, ibunda Tiara menyahut dari dalam.. selang sedetik pintu ruangan terbuka.
“Hei.. uda bangun Sayang?”
Dika mengangguk hormat pada Bu Ida lalu memberikan senyum paling manis untuk gadisnya.
“Iya mas, kan nungguin mas datang”
Nggak mau kalah, Tiara juga memberikan senyum termanis untuk Dika. Bu Ida yang melihat segera tahu diri, beliau segera meningalkan ruang perawatan anak gadisnya untuk segera kembali ke rumah. Setidaknya hari ini tugas menjaga dan menemani Tiara sudah menjadi tanggung jawab Dika.
“Uda sarapan Sayang?’
“Belum.. kan masih setengah 6, biasanya jam 7 baru dianter”
Dika segera mengambil tempat duduk di sisi Tiara, sesaat pandangan mereka bertemu agak lama…
“Astaghfirullah…”
Gumamnya dalam hati.. Dika kemudian beranjak menuju lemari es di pojok ruangan, membukanya sambil berujar
“Oh, mau aku suapin buah?”
“Kurmanya aja ya mas… Biar trombositnya cepet naik”
Dika kembali tersenyum mendengar permintaan Tiara, dengan cekatan ia mengambil sekaleng kurma dingin, membawanya ke Tiara, mengeluarkan bijinya lalu menyuapkan ke gadis manis tersebut. Wajah Tiara sontak memerah mendapatkan perlakuan seperti itu, namun tak urung ia biarkan Dika terus menyuapinya. Dika dan Tiara memang baru saling kenal selama enam bulan, bahkan menjadi dekat sejak tiga bulan lalu. Namun mereka memutuskan langsung bertunangan.
“Kita kan bukan ABG lagi mas, aku pingin kepastian”
Demikian “syarat” yang Tiara berikan saat Dika menyatakan cintanya sekitar sebulan yang lalu. Dan karena Dika sebenarnya juga ingin segera memenuhi separuh Dhien-nya, tentu saja syarat itu diluluskan tanpa ada pertimbangan lagi. Ditambah karier dan umur keduanya yang memang sudah matang. Dika, 26 tahun, kini sudah mantab bekerja sebagai seorang psikolog di Ibukota, memiliki biro Psikologi yang menjadi langganan banyak perusahaan besar dan instansi pemerintah bergengsi. Sementara Tiara, 25 tahun, baru sekitar enam bulan mendapatkan gelar dokter namun langsung dipercaya untuk praktek di sebuah rumah sakit Internasional.
“Oh ya mas, pagi ini temen-temen SMA pada mau datang ke sini katanya..”
“Temen SMA? Aku uda kenal mereka nda?”
Dika yang selesai menyuapi Tiara kembali mengobrak-abrik isi kulkas, nemu cheese cake yang harusnya untuk Tiara dan langsung dicomot. Sementara Tiara hanya tersenyum ngeliat tingkah polah lelakinya itu.
“Beberapa mungkin mas tau, pernah ketemu juga di rumah sakit. Tapi yang lain mungkin belum… eh kalo nggak salah ada yang satu almamater deh ama mas Dika”
“Ummm??”
Tok…tok….
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam…”
Belum selesai Dika menghabiskan kalimatnya, terdengar suara salam seorang wanita dari luar kamar. Tak sampai sedetik Dika beranjak membukakan pintu, dan saat pintu terbuka, sesosok gadis langsung menghambur ke dalam, menuju tempat tidur Tiara disusul beberapa gadis lain..
“Sayaaaaang… ko nda kasih kabar kalo masuk rumah sakit…”
Sosok gadis yang langsung masuk dan memberikan cipika cipiki Tiara di tempat tidur sempat membuat Dika shock, untunglah Tiara tak melihat perubahan wajahnya, selain Dika langsung bisa menenangkan diri, perhatian Tiara terfokus pada gadis di depannya, serta teman-teman lain yang memang sengaja datang untuk menjenguk dan menemani. Sampai kemudian..
“Eh… ada mas Dika, cie..cie… Tiara… seneng dong ditungguin tunangan..”
Intan, salah seorang teman Tiara yang mengenal Dika langsung menggoda keduanya ketika melihat keberadaan Dika. Sementara yang digodain hanya tersenyum. Dan sesosok gadis diantara mereka juga merasa kaget seperti yang Dika rasakan saat mengetahui kenyataan bahwa Dika adalah tunangan Tiara. Ya, gadis itu bernama Cinta. Gadis cantik yang dulu meninggalkan Dika karena harus menikah dengan Ryan, lelaki pilihan orang tuanya. Dan Tiara bisa melihat betapa terkejutnya Cinta meski Cinta langsung menyembunyikannya.
“Mas, kenalin temen-temenku, biasanya kan tau-nya cuma Intan ato Mila, hari ini ada banyak.. Nita, Arin, Yulia, dan Cinta.. eh Cinta kalo nggak salah juga kuliah psikologi Unair, sama kaya mas, masak nda kenal??”
“Ya…kami kenal satu sama lain ko…”
Dika tersenyum simpul sambil menyalami satu demi satu teman-teman Tiara, beberapa yang hadir adalah teman dekat Tiara sejak SMA hingga kini. Yang tidak Dika ketahui adalah bahwa Tiara telah membaca ada sesuatu yang terjadi antara Dika dan Cinta, meski tampak biasa saja, Tiara bisa menangkap sedikit rasa canggung manakala pandangan keduanya bertemu. Namun Tiara tidak sedang ingin membahasnya, tidak saat teman-teman ada diantara ia dan Dika.
Meanwhile..dalam perasaan yang campur aduk, Dika lalu memilih untuk keluar kamar. Sekalian membiarkan Tiara berkumpul dengan teman-teman lama yang mungkin mulai jarang ditemui. Sayangnya saat ia berpamitan pada Tiara, sesuatu yang lebih mengejutkan ia dapatkan.
“Sayang…aku sarapan dulu ya…”
Tiara tidak segera menjawab atau memberikan respon, pandangannya mengarah ke arah mata elang Dika. Mendapatkan tatapan teduh seperti itu Dika bingung harus berbuat apa
“God…tatapan ini lagi.. kalah deh aku…”
Desis Dika dalam hati, ia masih tak beranjak dari hadapan Tiara, menunggu respon gadisnya yang seolah membiarkannya mematung menanti respon dari Tiara.
“Oke… I’ll tell you later, bebz..”
Akhirnya Dika mengalah… dan tiba-tiba saja sebuah senyum manis penuh kemenangan kembali mengembang di bibir Tiara setelah mendengat perkataan pacarnya itu. Seolah menantikan pernyataan itu diucapkan oleh Dika. Melihat perubahan di wajah Tiara, Dika hanya tersenyum kecut sambil berujar,
“Aku emang uda nda bisa bo’ong ama kamu ya Sayang?”
“Nope, you can’t”
Dika melangkah pelan menuju kantin rumah sakit, langkahnya sengaja diperlambat seolah sedang menantikan sesuatu. Ya! Dia memang menunggu seseorang untuk menyusulnya keluar. Dika ingin berbicara denga Cinta, sebelum Tiara tahu kenyataan yang sebenarnya yang pernah terjadi antara dirinya dan Cinta. Dan bila dugaan Dika benar, Cinta pasti segera menyusulnya.
“Mas Dika…”
Yess! he’s right, suara seorang gadis yang dikenalnya sejenak menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh sambil menatap dingin Cinta yang sudah berada di hadapannya.
“Bisa bicara sebentar?”
“Sure.. but not here….. come..”
Cinta mengiikuti Dika dari belakang, mulutnya diam seribu bahasa, ia bahkan tak berani lagi menatap sosok pria di depannya, apalagi untuk berjalan beriringan. Hatinya berkecamuk hampir segala rasa, antara senang dan lega karena Dika telah menemukan pengganti dirinya, yang ternyata adalah teman dekatnya sendiri, rasa sedih dan rasa bersalah karena perlakuannya terhadap Dika di masa sebelumnya, serta rasa belum rela untuk menyerahkan Dika pada Tiara, tapi apakah itu pantas? Cinta bahkan masih belum mengerti apa yang akan ia katakan nanti dan mengapa ia nekat melakukan ini.
Kantin Rumah Sakit MMC, Kuningan – Jakarta
Dika dan Cinta duduk saling berhadapan. Dika masih dengan tatapan dinginnya yang membuat Cinta merasa semakin canggung untuk memulai semua. Dan untuk beberapa saat mereka saling diam.
“Aku baru tahu kalo kamu dan Tiara berteman cukup akrab… bahkan sejak kalian sama-sama di SMA. Tiara nda banyak cerita soal kamu… eniwei, gimana kabarmu sekarang?”
Dika bertanya untuk memecah kesunyian yang hadir di antara mereka, meski perasaannya juga campur aduk, ia tidak ingin terus tampak canggung di depan Cinta.
“Baik mas, sebenernya Tiara dan aku sudah sejak SD hingga SMA bersekolah di tempat yang sama. Nda jarang juga satu kelas. Jalan bareng juga, maen-maen bareng. Hanya emang saat itu aku belum kenalin dia ke mas. Ternyata rencana Allah memang nda bisa ditebak….”
Cinta merasa ada cemburu di hatinya, tapi ia tak tahu mengapa tiba-tiba rasa itu muncul. Cinta sadar bahwa dia yang memutuskan hubungannya dengan Dika, Cinta juga telah bertunangan dengan pilihan ayahnya, seharusnya dia tak boleh cemburu. Terlebih bila ia cemburu pada Tiara, salah satu sahabatnya. Sementara Dika tak bereaksi banyak, pandangannya menerawang ke langit. Pagi itu, langit masih tempak memutih.
“Mas Dika sendiri, gimana kabarnya? Kayanya kalian serasi banget yah? Pasti mas bahagia didampingi seorang dokter hebat seperti Tiara.”
Dika menangkap cemburu di nada pertanyaan Cinta, tapi ia mengacuhkan apa yang mungkin dirasakan Cinta saat itu.
“Aku baik, dan semakin baik. Kalo kamu tanya bahagia atau nda, dari dulu aku juga terus merasa bahagia ko..”
Dika menjawab pertanyaan Cinta dengan senyuman. Senyum manis yang dulu diberikan hanya untuk Cinta. Namun kini senyuman itu telah beralih ke gadis lain.
“So, when will u marry?”
“Mas ngajak aku hanya untuk nanya itu?”
Cinta tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mendengar pertanyaan Dika, air mukanya berubah, menunjukkan ketidak nyamanan. Namun tak urung ia mencoba menenangkan diri. Ia sadar bahwa pertanyaan Dika padanya adalah pertanyaan yang wajar, justru perasaannya yang campur aduk saat bertemu Dika adalah yang tak wajar.
“Sori mas, aku masih agak kaget setelah lama kita nda ketemu..”
“Aku ngerti ko… hampir setahun yang lalu ya? Life goes on too fast sometimes…”
Kembali sepi hadir di tengah keduanya, mulut Cinta masih terasa berat hanya untuk menjawab pertanyaan Dika barusan. Bagaimana pun keputusannya meninggalkan Dika bukanlah pilihannya. Jauh di lubuk hatinya masih ada nama Dika di dalamnya. Terlebih ketika sekarang kenyataan menyibak semuanya.
“Sejujurnya mas, pertunangan aku dan Ryan udah lama kandas… Aku mergokin dia ma cewek lain di klub malam. Sekitar sebulan sebelum kami menikah.”
Tatapan dingin Dika yang sejak kedatangan Cinta hadir tiba-tiba saja lenyap, berubah menjadi simpati nan teduh.
“I’m sorry…”
Setetes kristal bening yang sedari tadi ingin tumpah, akhirnya jatuh juga dari pelupuk mata Cinta. Dika hanya terdiam, membiarkan Cinta menumpahkan semuanya. Alangkah malangnya nasib gadis cantik ini. Memori otak Dika berputar ke masa lalu saat pertama kali bertemu Cinta di kampus Psikologi Unair. Saat itu Dika selalu melihat gurat kesedihan di wajah Cinta. Meski begitu, wajah cantiknya masih mampu membuat banyak laki-laki di Unair melakukan segalanya hanya untuk membuat Cinta tersenyum, bagaimana pun pesona Cinta tetap memikat bagi siapa pun. Dan melihat ‘kompetisi’ yang begitu mengasyikkan, Dika juga tertarik untuk ‘ikut serta’. Tentu saja, kapten tim sepak bola universitas yang terkenal paling baik se-Surabaya itu yang jadi pemenangnya, hingga tiba-tiba pertunangan Cinta dan Ryan yang menjadi kemauan orang tua Cinta membubarkan hubungan mereka. Membuat hidup Dika cukup tergoncang.
Setelah ia telah mantap kembali dan berdamai dengan masa lalunya, serta mendapat pendamping yang lebih cocok untuknya, Cinta datang secara tak sengaja di hidupnya. Meski tidak menyesali, Dika tidak bisa menunjukkan keterkejutannya. Di balik wajahnya yang tenang, gemuruh hatinya belum berhenti sejak kedatangan Cinta hari ini.
“Maaf mas, aku nggak bermaksud ganggu mas lagi dengan serpihan masa lalu yang uda usang”
Ucapan Cinta menyadarkan Dika dari lamunannya. Ia ingin melakukan banyak hal bagi Cinta untuk meringankan kesedihannya, namun saat ini ia tahu ia tak bisa lagi berbuat seperti itu. Ada Tiara di sisinya kini, dan meski Dika tahu Tiara tak akan cemburu atau marah pada Cinta, Dika tak mau bertindak lebih dari ini.
“Well, aku ngga merasa keganggu ko. Aku yang meminta kamu untuk bercerita. So everything you have told will never bother me. But I couldn’t do anything but listening”
“I know, thanks coz till now, you always listen and care to me. Aku pergi dulu, udah lama aku nda ngobrol ma Tiara, kangen juga rasanya. She’s a great lady, please make her happy”.
Cinta berdiri, lalu tersenyum manis sebelum meninggalkan Dika. Senyum termanis yang pernah ia berikan pada seorang laki-laki. Dika hanya mengangguk pelan menanggapi permintaan mantan kekasihnya itu.
“Tanpa kamu minta pun aku juga pasti lakukan itu”
Bisik Dika lirih, ia pun mengeluarkan ponselnya mengetik sesuatu dan mengirimkan ke suatu nama di phone booknya. “^^My Beloved Queen”
Sementara di ruang perawatan, Tiara tersenyum membaca pesan singkat Dika yang baru saja ia terima. Meski belum tahu pasti apa yang terjadi, tapi ia tahu pasti bahwa Dika akan selalu menjadi pangerannya yang selalu ada untuknya
“Layaknya musim yang datang dan pergi
Menemani waktu yang terus berputar
Tanpa lelah demi titah sang Maha
Seperti itu pula hati ini untukmu
Tak pernah bosan memberi yang terbaik
Karena di hati ini telah terukir nama terindah
Namamu”
Cerpen di atas adalah dwilogi dari cerpen sebelumnya, hayoo cerpen sebelumnya yang mana??? sedikit banyak pengalaman pribadi (curcol dikit lah...)
Wallahualam bishawab