Rutinitasmu… Harimaumu

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Well, curhatan kali ini diilhami oleh pengalaman pribadi yang selama ini aku alamin. Dulu waktu aku masih kerja di sebuah training center di kawasan kuningan, kerjaan relatif sedikit. Bahkan bisa dibilang kerjaan itu kita sendiri yang nentuin, apalagi saat nggak ada kelas yang lagi apes untuk diajar atau difasilitasi. Biasanya sih aku memilih untuk bikin materi atau sekedar meeting ma klien ataupun calon klien. Jujur, waktu itu aku sempet ngerasa bosen juga, padahal aku bisa dapat banyak materi training yang bagus saat nggak ada kelas ato janjian ma orang lain. Parahnya kondisi di atas baru aku sadari setelah resign dari sana dan terjun kerja di ostrali sekarang ini. Sangat manusia..
Di ostrali ini jabatanku emang trainer, cuman akhir-akhir ini entah kenapa jadi lebih sering ngurusi urusan administrasi trainingnya doang. Jadi ngerasa gimanaaa gitu. Dek pacal aka tante sih ingetin supaya tetep semangat.. memang jenjang kariernya seperti itu sebelum banyak ngajar. She told me. But I think… I lost my mind, my creativity coz of my routine jobs. Makanya aku bilang rutinitasmu harimaumu. 
Bukannya kurang bersyukur atau apa, hanya saja saat ini, ngurusin administrasi itu lelahnya melebihi training tiga hari. Oke agak berlebihan sih, tapi hampir mirip. Ditambah lagi aku tergolong orang yang sok kurang telaten dan teliti, so makin ngerasa dodol-lah aku ngerjain tugas admin. Sekali lagi bukan nggak mau, menurutku waktu yang aku punya akan jauh lebih efektif bila mengerjakan pekerjaan seperti bikin materi training, persiapan ngajar, atau anything but admin. Karena pekerjaan tadi, Insya Allah sudah aku kuasai, sementara kalau ngurusin administrasi, masih agak dudul n perlu banyak belajar, it’s wasting time lah yaaa.

This experience teach me many things. Yang pertama untuk bersyukur atas apa yang aku dapat, sebosen-bosennya aku dengan kerjaan administrasi ini, toh this is my job. Di luar sana masih banyak orang yang masih harus bekerja keras untuk mencari kerja. And then, it teach me also to break out from daily routine. And follow my passion. Makanya itu aku pilih nulis blog di jam kerja ini, selain untuk menghindari stress juga untuk memanfaatkan kesempatan mumpung bos cuti kembali merasakan nikmatnya menulis. 
Mungkin intinya kembali ke sebuah ungkapan klise, bahwa sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik. Somehow semua itu ada kadar dan tingkatannya masing-masing. Bila sudah tak merasa nyaman dengan sesuatu mungkin saja kita sudah merasa berlebihan akan sesuatu itu, dan itu yang membuat kita harus move on, cari sesuatu yang baru yang lebih sesuai dengan kenyamanan kita, tapi pastikan juga saat kita move on, sesuatu yang kita kerjakan sebelumnya sudah terselesaikan dengan baik. That’s all
 Wallahualam bi shawab

Luv u All, like before, now, and ever...
 
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh






Semua gambar onion head diambil dari sini, sini, sini, dan sini

This my confession

`Kemanakah dirimu..

  Yang dulu cinta aku..

  Dimanakah dirimu

  Yang selalu merindukanku..`

Manusia biasa by yovie & nuno


Aku masih inget banget aku pernah menyanyikan lagu ini beberapa bulan yang lalu. There`s something has happened before ofcourse.. Tapi hikmah dari kejadian tersebut justru aku dapatkan dari syair selanjutnya


`Aku memang manusia biasa..

  Yang tak sempurna..

  Dan kadang salah

  Namun di hatiku hanya satu

  Cinta untukmu..luar biasa..`

Manusia biasa by yovie & nuno


Yah.. I`m only human being.. I`ve listened all from you. I`m sorry if you think I couldn`t understand. I just learn to give everything to my mom


I love u


Published with Blogger-droid v2.0.1

Talk about Leader and Boss

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

First write in November. Hope this is not boring and too heavy in this beautiful morning. Yups, this morning so beautiful coz today is FRIDAAAAAAAYYYY!!! Final day of work for this week!! Alhamdulillah yeah... very most something *syahrini english version 
Well, today I wanna share my experience in this week. I got national meeting in my last weekend (that grab my holiday), I got fake award in this midweek, and..I've planned to take a rest for this weekend. FYI, all my weekend last month was robbed by my job. What a life.. 
Udahan ah ngomong enggres-nya jadi merasa kurang bebas berekspresi (secara stok vocab masih limited edition hehe..) well, entah kebetulan ato nggak, tiba-tiba aja Mba bos meminta hadir di annual national meeting buat menentukan program kerja tahun depan, kenapa aku bilang kebetulan? yah karena tak lain tak bukan, bersamaan dengan aku diundang untuk hadir di sana, aku sedang mempertimbangkan untuk cabut dari ostrali ini, pinginnya sih ke tempat lokal. Tapi undangan dari babe gedhe (baca: head department) via mba bos ini membuat langkahku sejenak terhenti, aku berpikir, dengan aku ikut annual meeting aku jadi bisa tahu kira-kira gimana gambaran kerjaanku tahun depan, plus nyiapin waktu kapan aku harus cabut dari ostrali... this called lucky (or unlucky coz in annual meeting I have to work?)
Ada banyak hal yang aku dapat di annual meeting, mulai dari banyaknya kerjaan yang jadi tanggung jawabku (hufft), mulai dari beberapa kabar gembira berkaitan kerjaan, ampe (ehem) kualitas para boss di kantor, maklum yang diundang ke sini adalah supervisor ke atas. Dan itulah yang terpenting, karena dari situ aku bisa mengamati siapa yang bakal bisa aku gulingkan. Mhuahahahahahaha
Becanda...aku ngga sebiadab itu ko cuma gila aja dikit, yah..intinya di annual meeting aku jadi belajar dan tahu banyak hal, meski ada satu hal yang bikin aku agak sebel ampe sekarang, makanya daripada dipendem mending aku share di sini. Kisah ini nonfiktif belaka, jadi kalo ada kesamaan peristiwa dan cerita, lha memang itu disengaja, cuman karena aku menjunjung tinggi kode etik psikologi, yah semua nama dan identitas yang terlibat di dalamnya dengan terpaksa disamarkan
Sebut saja si P, nah si P adalah seorang bos dari salah satu divisi yang ada di kantor. Nah si P ini pas annual meeting kemarin mengajukan beberapa program kerja yang akan dikerjakan di divisinya tahun depan, yang ternyata jauh lebih banyak daripada divisi lain, buat kita it's ok, toh divisi dia emang banyak kerjaannya, cuman yang mungkin kurang berkenan buat aku adalah dari mana asal program kerja yang dia ajukan. Alih-alih meminta masukan dari anak buahnya, dia malah minta masukan dari bos-bos divisi lain, mending kalo usulannya udah mateng, lah ini masih setengah jadi udah nekat diuplod, sementara ide-ide dari anak buahnya yang udah mateng dibuang gitu aja. Mari sama-sama berdoa supaya si P diampuni dosanya dan dimaafkan oleh anak buahnya..
Well, mungkin aku belum pernah ada di posisi bos divisi seperti P. Tapi bukan berarti aku nggak tahu tentang leadership, kepemimpinan, beserta seluruh aspek yang ada di dalamnya. Buat aku, ada faktor penting yang dilupakan P dalam cara dia memimpin. It's called empathy. Inilah buat aku yang membedakan seorang pemimpin disebut leader atau boss. Karena kalo dia seorang boss, dia hanya tipe pemimpin yang asal suruh, cuman menang gertakan (karena punya jabatan), and know nothing (bahkan willnot nothing). tapi seorang leader, ia akan merangkul seluruh anak buahnya, berjalan beriringan untuk mencapai tujuan bersama, dan mau mendengarkan setiap keluhan anak buahnya. Karena dengan mendengar kita akan tahu apa yang tak tampak oleh mata, sehingga akhirnya kita bisa mengerti alasan dari perilaku yang dikerjakan orang lain.
Sebenernya, aku masih pingin banyak ngoceh pagi ini, tapi berhubung jam udah semakin siang dan aku masih harus ngantor, kita sambung kapan-kapan ya...
Wallahualam bi shawab

Luv u All, like before, now, and ever...


 Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh



It's All about Her

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

"Aku tersesat..menuju hatimu...
 Beri aku jalan indah..
 Izinkanku..lepas penatku..
 'tuk sejenak lelap di bahumu..."

Alhamdulillahirabbil 'alamiin..Masih aku ingat dengan jelas saat kali pertama kami jumpa melalui sebuah jejaring sosial (iyah..lewat fesbuknya Mark Zuckerberg), there was nothing except chat and share. We talked anything, about life, friendship, even about job and psychology. Yah...secara kita orang yang gila karena Psikologi. Semua mengalir begitu sja, oke, bo'ong juga sih kalo sealami itu. Yang jelas aku dan dia saling merasa nyaman ketika ngobrol (Insya Allah) hingga nggak sadar (ato pura-pura ngga sadar) kalo kita ngobrol ampe lewat tengah malam, dan paginya masih disambung sebelum aku ngantor. Well...mungkin itu yang namanya jatuh cinta.. mungkinn loh..

Soalnya, waktu itu aku berpikir pake dengkul kalo kita emang pingin sharing, pingin punya temen ngobrol, itu aja. Nggak ada kepikiran untuk pacaran ma kakak kelas, ups! yuph, diakui ato nggak she's my senior in college, and maybe, itu yang jadi pertimbangan khusus seandainya aku 'memutuskan' jatuh cinta padanya. Hanya saja, kalo ngomongin hati, kita emang ngga bisa boongin dan ingkari itu. Perasaan nyaman yang muncul karena kecocokan emang telah merubah segalanya.. Tadinya emang hanya pingin ngobrol tapi lama-lama jadi nggak ingin kehilangan, entah apa yang aku rasain saat itu, yang aku tahu si tante berhasil menjebakku ke dalam hatinya.. Eeaaa... Oh Tante... jebak aku lebih dalam doooong... *mulai gila


Yah..entah siapa yang menjebak, senior yang menipu juniornya ato junior yang ngadalin seniornya, yang pasti sekarang kami udah saling menjebak hahaahaha... dan aku bersyukur atas semua itu. Kalo nggak bersyukur gimana mungkin aku bisa bikin postingan lebay n alay kaya gini. Jadi kalo abis postingan ini terupload..terus ada seorang karyawan bank mati bunuh diri karena over dosis kopi campur air putih.. kalian bisa cari tersangkanya di sini ato ini. Mhuahahahahahaha




Wallahualam bi shawab



Luv u all..like before..now and ever

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Go ahead.. Just Follow your Dreams

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Almost a month I haven't written anymore. It doesn't mean there's no stories to share. Everyday will have their own history. Like sumthing I will share this morning. Several weeks ago I got offering from another company to move. And the offering was too good to be reject, until now, too good to be true.


Somehow, Thanks to Allah give me a chance to build my motivation after get down in work elegantly. He's always has a great way to guide us into His Love. Till this posting is uploaded there's no recent updates about the offering, but it's not a big deal, coz by the offering I've learn much. To enjoy my life, to always gratitude, and to love what you have done, no matter how world give their opinion.

So, note for today is:


Wallahualam bi shawab

 

Luv u All, like before, now, and ever...

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


After Office Hours

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Oke, mungkin posting kali ini terdengar seperti diary, yah..mo gimana lagi emang aku lagi pingin cerita tentang sejarah kelam hidupku yang terjadi kemarin. Iyah..aku tau kata "sejarah hidup" terlalu dramatis plus lebay untuk ngomongin pengalaman yang baru terjadi di satu hari sebelum sekarang, however aku pingin berbagi, karena yang namanya sejarah, namanya masa lalu ada peristiwa dan pengalaman yang telah kita lalui, even it was happened in five minutes ago *ngeyel critanya
 

Cerita berawal ketika Uki, one of my peer, datang ke Jekardah selama beberapa hari. Tentu saja kita yang ada di sini heboh ngajakin kumpul n ketemuan, apalagi sejak menikah dia langsung diboyong suaminya ke Riau, makin pingin lah kita kangen-kangenan bareng. So finally, setelah janjian kanan kiri atas bawah plus sebel n marahan kaya ababil, kita ketemuan di Teras Kota, Serpong.

Setelah lama nggak ketemu, termasuk pas meridnya Uki, memang ada banyak yang berubah gilanya dari Bu Psikolog satu ini. Tapi yang lebih penting dari itu, kita seolah kembali ke jaman kuliah dulu. Becanda bareng, ngakak nggak jelas sama-sama, sampe sesi curhat terselubung. Well, ketemuan dengan teman lama memang 'memaksa' kita berbagi cerita yang telah kita lalui setelah berpisah. Kembali menjalankan roda waktu yang terhenti karena jarak dan keadaan (halah). Kembali menemukan sesuatu yang hilang dari kita, apalagi setelah berkutat dengan pekerjaan dan karier.

Kalo dipikir-pikir, saat itu aku begitu nyaman, n berasa nggak ada beban, udah lupa ma kerjaan yang nggak selesai-selesai di bank asing, nggak keinget lagi ma bos yang nyebelin, pokoknya aku ngerasa, pas ngumpul bareng Uki, Dewo, n Ipan, aku ngerasa seperti nge-recharge energi yang sempat hilang karena kesibukan di ibukota. Padahal bisa dibayangkan dong Sudirman - Serpong itu berapa lama n jauh perjalananya?


Apakah itu artinya aku belum nyaman dengan teman-teman yang sekarang? Sebenernya nggak juga sih, aku nyaman dengan pertemanan itu, tapi mungkin karena pertemanan itu hanya sebatas di kantor, dan tidak berlanjut setelah jam kantor. jadinya ya nggak sedalam saat bersama teman kuliah ato SMA dulu. Yah..harus diakui, aku emang masih manusia masa lalu, tapi setidaknya aku tahu apa yang ingin aku capai di masa depan. Iya kan tante?


" Teman yang terhanyut arus waktu
  mekar mendewasa..masih kusimpan senda tawa kita
  kembalilah sahabat lawasku
  semarakkan keheningan lubuk
  
  Hingga masih bisa kurangkul kalian
  sosok yang mengaliri cawan hidupku
  Bilakah kita menangis bersama
  tegar melawan tempaan semangatmu itu
  oh jingga"


 "Lembayung Bali" by Saras Dewi




Wallahualam bi shawab

Luv u All, like before, now, and ever...

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh






lirik diambil dari sini

Let's write again...

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Well, too long I'm not write here. Alhamdulillah masih inget kalo masih punya blog. Padahal dulunya tempat ini adalah catatan yang akan menjadi saksi sejarah hidupku. Okelah, daripada terus-terusan mengutuk diri di masa lalu mending fokus aja ke masa depan. At least, mari berharap semoga tulisan ini adalah pilot project bagi tulisan-tulisan ku yang lain *nulis sambil tidur aka ngigau*


Jujur nih...sebenernya banyak banget yang ingin aku tulis di sini. Tentang kerjaan, tentang aku sendiri, pacar, teman..pokoknya banyak lah. Tapi nda tau harus mulai dari mana.. hadew...jadi kaya ngerasa ababil deh.. Sedih rasanya kalo inget umur udah lebih dari seperempat abad. Ups! sori jadi nyampah deh, eniwei.. semoga dengan terbitnya postingan kali ini bisa memancing postingan-postingan lain dari Om Mamad. glad to see you again guys (emang ada ya???)



Wallahualam bi showab 

Luv u All, like before, now, and ever...

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh




Kepastian

Kepastian
 by Rossa

Di batas keraguan...
Tersimpan keyakinan..
Ketulusan cintaku...

         Ku ingin kepastian
         Sungguh adanya aku
         Untuk dirimu kasih

Oh..mengapa...
Mengapa kau tak mengerti
Halusnya perasaanku..

         Kau goreskan keraguan..
         Namun ku menyayangimu
         Walau hilang percayaku

Biar cinta menuntunku
Untukmu....

         Haruskah ku pergi darimu
         Haruskan... Oh.....

Kali ini Hanya Pingin Ngoceh

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Tiba-tiba terngiang pembicaraan dengan temen kantor tentang seseorang yang begitu toleran dengan semua sesama, seseorang yang sangat paham konsep individual differences bukan hanya dalam pemikiran namun juga dalam perbuatan, eniwei individual differences itu sebuah konsep psikologi yang menyatakan bahwa tiap jiwa adalah unik dan punya karakteristik tersendiri. Yah..the one is a great human I think
Soalnya, jujur nih, meski aku juga belajar ilmu yang sama, pada kenyataannya, aku masih aja maksain keinginan dan ego-ku. padahal akibatnya tentu saja nggak baik, bisa menimbulkan konflik-lah, ato bisa aja bikin aku kecewa karena keinginanku itu nda terpenuhi. Sometimes, even often, I wanna learn to be more whole-heart to another, especially to another attitude and personality, but honestly, I must learn very hard to do that. Aku nggak ingin membandingkan satu orang dengan yang lain, but somehow, I wanna everything be perfect (look I'm still selfish ya??)
Okey, forgive me... maafkan aku yang masih berpegang pada standar diriku sendiri, maafkan aku yang hanya menginginkan yang terbaik untukku, tanpa belum bisa mengerti apa yang mungkin orang lain inginkan dariku. Apakah memang harus mengalami dahulu untuk bisa berempati dengan orang lain? kalo emang kondisinya seperti itu, apakah masih pantas disebut empati? dunno...
Wallahualam bi showab 

Luv u All, like before, now, and ever...

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh




Karena di Hati Hanya Ada Namamu


Matahari baru saja menampakkan wujudnya di sabtu pagi yang mendung, dan Dika sudah berada di salah satu rumah sakit di kawasan Kuningan. Tiara, his fiancée terpaksa dirawat di rumah sakit karena menderita Demam Berdarah. Week-end kali ini Dika ingin menggantikan orang tua Tiara untuk menjaga dan menemaninya di rumah sakit. 

“Assalamualaikum…” 

Sapa Dika manakala telah sampai di depan ruang Edelweiss. Ruangan tempat Tiara dirawat.

“Waalaikumsalam.. masuk mas Dika…” 

Suara lembut Bu Ida, ibunda Tiara menyahut dari dalam.. selang sedetik pintu ruangan terbuka.

“Hei.. uda bangun Sayang?”

Dika mengangguk hormat pada Bu Ida lalu memberikan senyum paling manis untuk gadisnya.

“Iya mas, kan nungguin mas datang” 

Nggak mau kalah, Tiara juga memberikan senyum termanis untuk Dika. Bu Ida yang melihat segera tahu diri, beliau segera meningalkan ruang perawatan anak gadisnya untuk segera kembali ke rumah. Setidaknya hari ini tugas menjaga dan menemani Tiara sudah menjadi tanggung jawab Dika.

“Uda sarapan Sayang?’

“Belum.. kan masih setengah 6, biasanya jam 7 baru dianter”

Dika segera mengambil tempat duduk di sisi Tiara, sesaat pandangan mereka bertemu agak lama…

“Astaghfirullah…”

Gumamnya dalam hati.. Dika kemudian beranjak menuju lemari es di pojok ruangan, membukanya sambil berujar

“Oh, mau aku suapin buah?”

“Kurmanya aja ya mas… Biar trombositnya cepet naik”

Dika kembali tersenyum mendengar permintaan Tiara, dengan cekatan ia mengambil sekaleng kurma dingin, membawanya ke Tiara, mengeluarkan bijinya lalu menyuapkan ke gadis manis tersebut. Wajah Tiara sontak memerah mendapatkan perlakuan seperti itu, namun tak urung ia biarkan Dika terus menyuapinya. Dika dan Tiara memang baru saling kenal selama enam bulan, bahkan menjadi dekat sejak tiga bulan lalu. Namun mereka memutuskan langsung bertunangan. 

“Kita kan bukan ABG lagi mas, aku pingin kepastian”

Demikian “syarat” yang Tiara berikan saat Dika menyatakan cintanya sekitar sebulan yang lalu. Dan karena Dika sebenarnya juga ingin segera memenuhi separuh Dhien-nya, tentu saja syarat itu diluluskan tanpa ada pertimbangan lagi. Ditambah karier dan umur keduanya yang memang sudah matang. Dika, 26 tahun, kini sudah mantab bekerja sebagai seorang psikolog di Ibukota, memiliki biro Psikologi yang menjadi langganan banyak perusahaan besar dan instansi pemerintah bergengsi. Sementara Tiara, 25 tahun, baru sekitar enam bulan mendapatkan gelar dokter namun langsung dipercaya untuk praktek di sebuah rumah sakit Internasional.

“Oh ya mas, pagi ini temen-temen SMA pada mau datang ke sini katanya..”

“Temen SMA? Aku uda kenal mereka nda?”

Dika yang selesai menyuapi Tiara kembali mengobrak-abrik isi kulkas, nemu cheese cake yang harusnya untuk Tiara dan langsung dicomot. Sementara Tiara hanya tersenyum ngeliat tingkah polah lelakinya itu.

“Beberapa mungkin mas tau, pernah ketemu juga di rumah sakit. Tapi yang lain mungkin belum… eh kalo nggak salah ada yang satu almamater deh ama mas Dika”

“Ummm??”

Tok…tok….

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

Belum selesai Dika menghabiskan kalimatnya, terdengar suara salam seorang wanita dari luar kamar. Tak sampai sedetik Dika beranjak membukakan pintu, dan saat pintu terbuka, sesosok gadis langsung menghambur ke dalam, menuju tempat tidur Tiara disusul beberapa gadis lain..

“Sayaaaaang… ko nda kasih kabar kalo masuk rumah sakit…”

Sosok gadis yang langsung masuk dan memberikan cipika cipiki Tiara di tempat tidur sempat membuat Dika shock, untunglah Tiara tak melihat perubahan wajahnya, selain Dika langsung bisa menenangkan diri, perhatian Tiara terfokus pada gadis di depannya, serta teman-teman lain yang memang sengaja datang untuk menjenguk dan menemani. Sampai kemudian..

“Eh… ada mas Dika, cie..cie… Tiara… seneng dong ditungguin tunangan..”

Intan, salah seorang teman Tiara yang mengenal Dika langsung menggoda keduanya ketika melihat keberadaan Dika. Sementara yang digodain hanya tersenyum. Dan sesosok gadis diantara mereka juga merasa kaget seperti yang Dika rasakan saat mengetahui kenyataan bahwa Dika adalah tunangan Tiara. Ya, gadis itu bernama Cinta. Gadis cantik yang dulu meninggalkan Dika karena harus menikah dengan Ryan, lelaki pilihan orang tuanya. Dan Tiara bisa melihat betapa terkejutnya Cinta meski Cinta langsung menyembunyikannya.

“Mas, kenalin temen-temenku, biasanya kan tau-nya cuma Intan ato Mila, hari ini ada banyak.. Nita, Arin, Yulia, dan Cinta.. eh Cinta kalo nggak salah juga kuliah psikologi Unair, sama kaya mas, masak nda kenal??”
“Ya…kami kenal satu sama lain ko…”

Dika tersenyum simpul sambil menyalami satu demi satu teman-teman Tiara, beberapa yang hadir adalah teman dekat Tiara sejak SMA hingga kini. Yang tidak Dika ketahui adalah bahwa Tiara telah membaca ada sesuatu yang terjadi antara Dika dan Cinta, meski tampak biasa saja, Tiara bisa menangkap sedikit rasa canggung manakala pandangan keduanya bertemu. Namun Tiara tidak sedang ingin membahasnya, tidak saat teman-teman ada diantara ia dan Dika.

Meanwhile..dalam perasaan yang campur aduk, Dika lalu memilih untuk keluar kamar. Sekalian membiarkan Tiara berkumpul dengan teman-teman lama yang mungkin mulai jarang ditemui. Sayangnya saat ia berpamitan pada Tiara, sesuatu yang lebih mengejutkan ia dapatkan.

“Sayang…aku sarapan dulu ya…”

Tiara tidak segera menjawab atau memberikan respon, pandangannya mengarah ke arah mata elang Dika. Mendapatkan tatapan teduh seperti itu Dika bingung harus berbuat apa
 
“God…tatapan ini lagi.. kalah deh aku…”

Desis Dika dalam hati, ia masih tak beranjak dari hadapan Tiara, menunggu respon gadisnya yang seolah membiarkannya mematung menanti respon dari Tiara.

“Oke… I’ll tell you later, bebz..”

Akhirnya Dika mengalah… dan tiba-tiba saja sebuah senyum manis penuh kemenangan kembali mengembang di bibir Tiara setelah mendengat perkataan pacarnya itu. Seolah menantikan pernyataan itu diucapkan oleh Dika. Melihat perubahan di wajah Tiara, Dika hanya tersenyum kecut sambil berujar,

“Aku emang uda nda bisa bo’ong ama kamu ya Sayang?”

Nope, you can’t

Dika melangkah pelan menuju kantin rumah sakit, langkahnya sengaja diperlambat seolah sedang menantikan sesuatu. Ya! Dia memang menunggu seseorang untuk menyusulnya keluar. Dika ingin berbicara denga Cinta, sebelum Tiara tahu kenyataan yang sebenarnya yang pernah terjadi antara dirinya dan Cinta. Dan bila dugaan Dika benar, Cinta pasti segera menyusulnya. 

“Mas Dika…”

Yess! he’s right, suara seorang gadis yang dikenalnya sejenak menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh sambil menatap dingin Cinta yang sudah berada di hadapannya.

“Bisa bicara sebentar?”

Sure.. but not here….. come..

Cinta mengiikuti Dika dari belakang, mulutnya diam seribu bahasa, ia bahkan tak berani lagi menatap sosok pria di depannya, apalagi untuk berjalan beriringan. Hatinya berkecamuk hampir segala rasa, antara senang dan lega karena Dika telah menemukan pengganti dirinya, yang ternyata adalah teman dekatnya sendiri, rasa sedih dan rasa bersalah karena perlakuannya terhadap Dika di masa sebelumnya, serta rasa belum rela untuk menyerahkan Dika pada Tiara, tapi apakah itu pantas? Cinta bahkan masih belum mengerti apa yang akan ia katakan nanti dan mengapa ia nekat melakukan ini.

Kantin Rumah Sakit MMC, Kuningan – Jakarta

Dika dan Cinta duduk saling berhadapan. Dika masih dengan tatapan dinginnya yang membuat Cinta merasa semakin canggung untuk memulai semua. Dan untuk beberapa saat mereka saling diam.

“Aku baru tahu kalo kamu dan Tiara berteman cukup akrab… bahkan sejak kalian sama-sama di SMA. Tiara nda banyak cerita soal kamu… eniwei, gimana kabarmu sekarang?”

Dika bertanya untuk memecah kesunyian yang hadir di antara mereka, meski perasaannya juga campur aduk, ia tidak ingin terus tampak canggung di depan Cinta.

“Baik mas, sebenernya Tiara dan aku sudah sejak SD hingga SMA bersekolah di tempat yang sama. Nda jarang juga satu kelas. Jalan bareng juga, maen-maen bareng. Hanya emang saat itu aku belum kenalin dia ke mas. Ternyata rencana Allah memang nda bisa ditebak….”

Cinta merasa ada cemburu di hatinya, tapi ia tak tahu mengapa tiba-tiba rasa itu muncul. Cinta sadar bahwa dia yang memutuskan hubungannya dengan Dika, Cinta juga telah bertunangan dengan pilihan ayahnya, seharusnya dia tak boleh cemburu. Terlebih bila ia cemburu pada Tiara, salah satu sahabatnya. Sementara Dika tak bereaksi banyak, pandangannya menerawang ke langit. Pagi itu, langit masih tempak memutih. 

“Mas Dika sendiri, gimana kabarnya? Kayanya kalian serasi banget yah? Pasti mas bahagia didampingi seorang dokter hebat seperti Tiara.” 

Dika menangkap cemburu di nada pertanyaan Cinta, tapi ia mengacuhkan apa yang mungkin dirasakan Cinta saat itu.

“Aku baik, dan semakin baik. Kalo kamu tanya bahagia atau nda, dari dulu aku juga terus merasa bahagia ko..”

Dika menjawab pertanyaan Cinta dengan senyuman. Senyum manis yang dulu diberikan hanya untuk Cinta. Namun kini senyuman itu telah beralih ke gadis lain.

So, when will u marry?”

“Mas ngajak aku hanya untuk nanya itu?”

Cinta tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mendengar pertanyaan Dika, air mukanya berubah, menunjukkan ketidak nyamanan. Namun tak urung ia mencoba menenangkan diri. Ia sadar bahwa pertanyaan Dika padanya adalah pertanyaan yang wajar, justru perasaannya yang campur aduk saat bertemu Dika adalah yang tak wajar.

“Sori mas, aku masih agak kaget setelah lama kita nda ketemu..”

“Aku ngerti ko… hampir setahun yang lalu ya? Life goes on too fast sometimes…”

Kembali sepi hadir di tengah keduanya, mulut Cinta masih terasa berat hanya untuk menjawab pertanyaan Dika barusan. Bagaimana pun keputusannya meninggalkan Dika bukanlah pilihannya. Jauh di lubuk hatinya masih ada nama Dika di dalamnya. Terlebih ketika sekarang kenyataan menyibak semuanya.

“Sejujurnya mas, pertunangan aku dan Ryan udah lama kandas… Aku mergokin dia ma cewek lain di klub malam. Sekitar sebulan sebelum kami menikah.”

Tatapan dingin Dika yang sejak kedatangan Cinta hadir tiba-tiba saja lenyap, berubah menjadi simpati nan teduh.

I’m sorry…

Setetes kristal bening yang sedari tadi ingin tumpah, akhirnya jatuh juga dari pelupuk mata Cinta. Dika hanya terdiam, membiarkan Cinta menumpahkan semuanya. Alangkah malangnya nasib gadis cantik ini. Memori otak Dika berputar ke masa lalu saat pertama kali bertemu Cinta di kampus Psikologi Unair. Saat itu Dika selalu melihat gurat kesedihan di wajah Cinta. Meski begitu, wajah cantiknya masih mampu membuat banyak laki-laki di Unair melakukan segalanya hanya untuk membuat Cinta tersenyum, bagaimana pun pesona Cinta tetap memikat bagi siapa pun. Dan melihat ‘kompetisi’ yang begitu mengasyikkan, Dika juga tertarik untuk ‘ikut serta’. Tentu saja, kapten tim sepak bola universitas yang terkenal paling baik se-Surabaya itu yang jadi pemenangnya, hingga tiba-tiba pertunangan Cinta dan Ryan yang menjadi kemauan orang tua Cinta membubarkan hubungan mereka. Membuat hidup Dika cukup tergoncang.

Setelah ia telah mantap kembali dan berdamai dengan masa lalunya, serta mendapat pendamping yang lebih cocok untuknya, Cinta datang secara tak sengaja di hidupnya. Meski tidak menyesali, Dika tidak bisa menunjukkan keterkejutannya. Di balik wajahnya yang tenang, gemuruh hatinya belum berhenti sejak kedatangan Cinta hari ini. 

“Maaf mas, aku nggak bermaksud ganggu mas lagi dengan serpihan masa lalu yang uda usang”

Ucapan Cinta menyadarkan Dika dari lamunannya. Ia ingin melakukan banyak hal bagi Cinta untuk meringankan kesedihannya, namun saat ini ia tahu ia tak bisa lagi berbuat seperti itu. Ada Tiara di sisinya kini, dan meski Dika tahu Tiara tak akan cemburu atau marah pada Cinta, Dika tak mau bertindak lebih dari ini.

“Well, aku ngga merasa keganggu ko. Aku yang meminta kamu untuk bercerita. So everything you have told will never bother me. But I couldn’t do anything but listening

I know, thanks coz till now, you always listen and care to me. Aku pergi dulu, udah lama aku nda ngobrol ma Tiara, kangen juga rasanya. She’s a great lady, please make her happy”.

Cinta berdiri, lalu tersenyum manis sebelum meninggalkan Dika. Senyum termanis yang pernah ia berikan pada seorang laki-laki. Dika hanya mengangguk pelan menanggapi permintaan mantan kekasihnya itu. 

“Tanpa kamu minta pun aku juga pasti lakukan itu”

Bisik Dika lirih, ia pun mengeluarkan ponselnya mengetik sesuatu dan mengirimkan ke suatu nama di phone booknya. “^^My Beloved Queen”

Sementara di ruang perawatan, Tiara tersenyum membaca pesan singkat Dika yang baru saja ia terima. Meski belum tahu pasti apa yang terjadi, tapi ia tahu pasti bahwa Dika akan selalu menjadi pangerannya yang selalu ada untuknya
“Layaknya musim yang datang dan pergi
 Menemani waktu yang terus berputar
 Tanpa lelah demi titah sang Maha
 Seperti itu pula hati ini untukmu
 Tak pernah bosan memberi yang terbaik
 Karena di hati ini telah terukir nama terindah
 Namamu”










Gambar diambil dari sini

Cerpen di atas adalah dwilogi dari cerpen sebelumnya, hayoo cerpen sebelumnya yang mana??? sedikit banyak pengalaman pribadi (curcol dikit lah...) 

Wallahualam bishawab

Posting Lagi Neeeeh…


Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh


Apa kabarmu…
Setelah lama kita tak pernah jumpa
Banyak yang t’lah berubah
Dan ku ingin dengar dari ceritamu

Alhamdulillahirabbil'alamin... Ceritanya abis bersih-bersih blog. Maklum, udah lama nda ditengok. Ni lapak jadi banyak sarang laba-laba dimana-mana. Maaf yaa.. abis beberapa bulan ini aku sok sibuk sih *sambil ngehindar timpukan galon aqua. 
Well.. as ussual, muchas gracias por Allah dan shalawat spesial bagi Rosulullah SAW. Kesannya kaya pak Lurah kasih sambutan di acara tujuh belasan ya? Hahaha sebodo teuing, blog gue sendiri ini.
Umm.. Actually there’s a lot of stories could be shared now (secara uda bertahun-tahun ga ngeblog). Oke, perhaps not all stories I will tell now. Several important thing maybe.. Sebenernya kangen juga udah lama nda ngoceh di sini, pingin rasanya rutin gitu, at least seminggu sekali tapi…tapi… dan tapi… huff… okelah aku nda mo cari alesan lagi, intinya aku lagi males akut beberapa bulan ini *tampar muka sendiri
So, mulai hari ini coba untuk rutin (berdoa nih ceritanya). N the first story is about gadis malang yang kini mengisi hari-hariku. Yuph, benar sekali sodara-sodara, trainer muda nan ganteng meski biadab ini beruntung ada yang khilaf menerima untuk jadi pasangan *joget-jogat ala Irfan Bachdim. Buat yang pingin tau siapa gadis yang harus segera disadarkan berhasil mencuri hatiku (ceile bahasanya… dangdut banget hehe..), jangan khawatir, tunggu di segmen selanjutnya ya.. kebetulan yang bersangkutan sudah ngebet bersedia dipublikasikan.
But sebelum cerita soal itu, aku mo ngereview tentang beberapa hal di blog ini. Meski tentang-rakhmad baru sekitar tahun 2010 punya tempat di blogspot, sebenernya tentang-rakhmad udah lahir sekitar tahun 2007-2008an. Saat itu masih pake PC, masih kuliah dan cupu-cupunya, n belum kenal ama yang namanya dunia blog. Saat itu tentang-rakhmad adalah mediaku untuk curhat (yang ini kayanya ampe sekarang)
Then, life goes on, till now.. more than three years tentang-rakhmad setia jadi tempat sampahku, tempat curhatku, dan sejenisnya. Berbagai peristiwa telah tertulis di sini, banyak nama telah mengisinya. So this episode is dedicated to this own blog. “Tentang-rakhmad”, terima kasih telah menemani perjalanan sejarah ini, terima kasih telah menjadi bagian takdirku. Semoga setiap cerita dan peristiwa akan mampu menjadikanku semakin baik di masa mendatang. Muchas Gracias… 
PS: buat yang mo tau gadis yang harus ruwatan karena sekarang in relationship with me, liat sendiri di profile-nya ya… Her nickname is Tante (soalnya dia panggil aku "om")
Wallahualam bi showab 

Luv u All, like before, now, and ever...

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Diberdayakan oleh Blogger.